tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, berencana mengubah Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk mempercepat pembangunan pembangkit listrik yang bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBET).
Menurut Bahlil, akselerasi tersebut diperlukan untuk memitigasi krisis energi global akibat perang, seperti yang terjadi akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran saat ini.
"Dalam kondisi geopolitik perang ini, tidak bisa kita memastikan bahwa energi kita ini akan seperti apa dalam konteks jangka panjang. Karena itu, kita mengoptimalkan seluruh potensi kita yang ada dalam negeri. Energi-energi yang bisa kita konversi dari fosil untuk bisa kita lakukan seperti ini," katanya kepada awak media, di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026). "Saya juga akan berencana untuk merubah RUPTL," imbuhnya.
Beriringan dengan pembangunan pembangkit EBET, pemerintah akan secara paralel menyuntik mati Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang tersebar di banyak wilayah di Indonesia.
Selanjutnya, Bahlil menyebut, prioritas pembangunan pembangkit listrik pengganti akan diarahkan pada energi yang bersumber dari tenaga surya (PLTS) dan tenaga panas bumi atau geothermal (PLTP).
"Akan kita selesaikan semua dengan PLTS dan juga adalah geothermal. Itu mungkin yang perlu saya sampaikan," tambah Bahlil.
Meski begitu, Ketua Umum Golkar tersebut memastikan, suntik mati PLTD akan dilakukan setelah PLTS selesai dibangun. Hal ini dilakukan agar tetap ada pasokan listrik yang bisa dialirkan ke rumah-rumah warga.
"Bangun dulu dong. Kalau disetop, belum dibangun kan penggantinya tidak ada. Jadi, paralel. Begitu dibangun, begitu sudah, langsung COD (Commercial Operation Date/tanggal resmi pembangkit listrik mulai beroperasi). PLTD-nya dimatikan," tukas Bahlil.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































