Menuju konten utama
Horizon

Little St. James, Pulau Pedofil Jeffrey Epstein

Kekejian Epstein, jejak kasus, bukti-bukti fisik, deretan nama-nama elit yang ikut, semua bermuara ke Little St. James, tempat segala kejahatan dilakukan. 

Little St. James, Pulau Pedofil Jeffrey Epstein
Pemandangan dari drone menunjukkan rumah-rumah di Little St. James, sebuah pulau pribadi kecil yang sebelumnya dimiliki oleh mendiang pengusaha keuangan Jeffrey Epstein, di Kepulauan Virgin AS. REUTERS/Marco Bello
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Laut Karibia, bagi banyak orang, adalah surga, pelarian dari riuh dunia modern. Namun, bagi Sarah Ransome, setiap percikan air birunya yang jernih itu justru meninggalkan luka permanen.

Tahun 2006, pada usia 22, ia naik pesawat jet menuju Little St. James, sebuah pulau pribadi di Kepulauan Virgin, Amerika Serikat. Ia terbang ke sana mengharapkan pendidikan dan karier cemerlang, yang dijanjikan dermawan.

Sejak di pesawat, ia sudah disuguhi adegan aneh. Pulau itu indah, dengan nyiur melambai dan pasir berkilau. Akan tetapi, keindahan itu hanya topeng.

Saat hari pertama menjejakkan tanah, ia disuruh ke sebuah ruangan oleh Jeffrey Epstein, diminta berbaring di meja pijat, lalu diperkosa. Ia merasa seperti pasien di meja operasi, tubuhnya dibuat tak berdaya, haknya direnggut.

“Dia melakukan hal yang tak boleh dilakukan pria pada wanita,” tuturnya lirih.

Bahkan, Ransome kerap diperdagangkan. Di pulau itu, ia menjadi properti Jeffrey Epstein yang sejak lama menargetkan remaja rentan. Epstein, yang terdaftar sebagai pelaku kejahatan seks sejak 2008, dilaporkan sering membawa gadis-gadis muda, bahkan beberapa masih bawah umur, ke pulau tersebut. Korban lain, Virginia Giuffre dan Chauntae Davies, menggambarkan pulau itu sebagai tempat waktu berhenti, norma sosial tak berlaku.

Pulau itu kemudian dikenal dengan julukan Pulau Pedofil oleh media dan masyarakat setempat.

Di Balik Pulau dan Dinding Vila

Pada akhir 1990-an, Jeffrey Epstein baik secara sosial maupun finansial. Ia sedang mencari simbol kekayaan dan ruang yang bisa membuatnya berkuasa penuh.

Kesempatan datang pada 1998, saat Little St. James, pulau vulkanik seluas sekitar 70–78 hektare di lepas pantai St. Thomas, masuk pasar. Epstein bergerak cepat. Lewat jaringan perusahaan cangkang, ia membelinya seharga 7,95 juta dolar.

Pulau yang tadinya sederhana segera berubah. Kapal tongkang hilir mudik membawa material, alat berat merombak topografi sesuai visinya. Ia menanam pohon palem impor sebagai tirai alami yang menutup pandangan dari laut. Privasinya sangat ketat. Ia rela menghabiskan jutaan dolar demi memastikan kerajaannya tak bisa diintip.

Dilansir The New York Times, Epstein bahkan sudah berniat memperluas "kekuasaannya" pada 2016, dengan membeli pulau tetangga, Great St. James. Meski belum sempat dikembangkan sebelum kejatuhannya, akuisisi itu menegaskan niatnya membangun gugusan kepulauan pribadi yang terisolasi dari hukum dan peradaban.

Pulau Little St James

Sebuah pemandangan memperlihatkan bendera Amerika di Little St. James, sebuah pulau pribadi kecil yang sebelumnya dimiliki oleh mendiang pengusaha keuangan Jeffrey Epstein, di Kepulauan Virgin AS. REUTERS/Marco Bello

Banyak yang menilai bangunan-bangunan di Little St. James memukau sekaligus mengintimidasi. Alih-alih bergaya Karibia yang umum, ia memilih arsitektur eksentrik, yang kemudian jadi saksi bisu kejahatan.

Pusat kompleks adalah mansion utama. Diarsiteki oleh Edward Tuttle, ruang utama tersebut bertata ruang mengalir, dihiasi batu alam, corak warna biru, dan desain yang berkesan tenang. Banyak foto Epstein bersama tokoh dunia yang dipajang di dinding-dindingnya.

Namun, bangunan paling misterius adalah struktur kubus di barat daya pulau, dikenal sebagai “kuil”. Desainnya paling menyita perhatian, dengan kubah emas di atas dan dinding bercorak garis biru-putih.

Tak hanya itu, pintu depannya ternyata palsu, hanya dekorasi. Pintu masuk asli tersembunyi di samping. Interiornya didesain khusus: dinding tebal meredam suara, lantai kayu berkarpet oriental, dan sebuah piano grand. Epstein menyebutnya ruang musik. Namun, melihat simbolisme dan desain serupa bunker, ia diduga punya fungsi lebih gelap.

Nuansa horor juga ditemukan di berbagai ruangan. Ada foto pengadilan memperlihatkan kursi dokter gigi kuno lengkap dengan peralatan medis di salah satu ruangan. Di ruangan lain, foto-foto perempuan telanjang, serta topeng wajah manusia tergantung di dinding.

Nama-Nama Elit di Pulau Pedofil

Little St. James digerakkan oleh staf-staf profesional, mulai dari juru masak, tukang kebun, kapten kapal, hingga teknisi yang memastikan generator dan penyulingan air tak pernah berhenti. Jumlahnya kerap berubah-ubah.

Juan Alessi, manajer rumah Epstein di Palm Beach, menyebut hierarki ketat ada di komando Epstein dan pengawasan Ghislaine Maxwell, pasangan yang menjadi tangan kanan Epstein dalam merekrut gadis belia.

Maxwell dikenal obsesif, mengatur hal-hal kecil, memastikan setiap aspek di pulau berjalan sesuai skenario. Ia menjaga disiplin dan kerahasiaan. Setiap staf, dari pembersih kolam hingga pilot jet pribadi, diwajibkan menandatangani perjanjian kerahasiaan yang keras. Dokumen itu menjadi alat intimidasi, termasuk yang ditandatangani para korban.

Para pekerja tahu, satu saja kata bocor bisa menghancurkan hidup mereka. Budaya bisu pun terbentuk. Mereka diajarkan untuk “tidak terlihat”, memalingkan wajah ketika tamu muda datang, dan tidak pernah bertanya tentang yang terjadi di balik pintu vila utama.

Namun beberapa mantan pekerja mulai bersuara. Petugas landasan pacu di St. Thomas mengaku sering melihat Epstein tiba dengan jet pribadinya, membawa gadis-gadis muda. Mereka digambarkan bingung, kadang membawa tas belanjaan dari butik mewah, lalu digiring ke helikopter menuju Little St. James.

Data dari Business Insider, antara Januari 2018 dan Juni 2019, catatan penerbangan menunjukkan, selalu ada penerbangan jet setidaknya sekali setiap tiga hari. Mereka berhenti di berbagai tempat di dunia: Paris, London, Slovakia, Meksiko, Maroko.

Transportasi menuju pulau juga dijalankan staf khusus. Kapal feri pribadi bertuliskan “LSJ” rutin berangkat dari dermaga New York, mengangkut bahan makanan segar hingga tamu elit. Kapten kapal menjadi penjaga gerbang perairan.

Helikopter dan jet pribadi melengkapi rantai logistik. Namun sistem canggih membuat staf hanya tahu sebagian kecil dari operasi. Pilot mungkin tahu jadwal terbang, tapi tidak siapa penumpangnya. Tukang kebun mungkin melihat tamu datang, tapi tidak pernah diizinkan mendekat ke rumah utama. Dengan cara ini, tidak ada satu pun staf yang memiliki gambaran utuh.

“Bisa dibilang setiap dua bulan aku melihat tamu di pulau itu dan hampir selalu ada gadis muda di antara tamunya,” kata Steve Scully, teknisi yang bekerja antara 1999 hingga awal 2006.

Orang-orang berpengaruh dan terkenal diundang Epstein untuk membangun lingkarannya. Mereka mencakup bangsawan, mantan kepala negara, ilmuwan peraih Nobel, hingga selebritas papan atas. Dokumen pengadilan—terutama log penerbangan “Lolita Express” dan berkas yang dibuka pada awal 2024—menjadi konfirmasi faktual siapa saja yang pernah berada dalam orbitnya.

Nama paling mencolok adalah Pangeran Andrew dari Inggris. Kesaksian Virginia Giuffre dalam dokumenter Jeffrey Epstein: Filthy Rich menyebut, ia dipaksa melakukan hubungan seksual dengan Andrew di beberapa lokasi, termasuk di Little St. James.

Meski membantah, kemudian menyelesaikan gugatan perdata di luar pengadilan, reputasi Andrew runtuh. Catatan kunjungannya ke pulau itu menjadi bukti kedekatannya dengan Epstein.

Bill Clinton juga muncul berulang kali dalam dokumen. Log penerbangan menunjukkan, ia beberapa kali bepergian dengan jet Epstein untuk misi yayasan kemanusiaan. Namun ia membantah pernah menginjakkan kaki di Little St. James.

Kehadiran Stephen Hawking pada 2006 menambah lapisan surealis. Foto dirinya di acara barbeku di pulau itu menjadi viral. Kunjungan tersebut terjadi di sela konferensi ilmiah yang didanai Epstein di St. Thomas.

Tokoh lain seperti pesulap David Copperfield dan model scouter Jean-Luc Brunel juga tercatat. Brunel bahkan dituduh aktif memasok gadis-gadis muda untuk Epstein, bukan sekadar tamu.

Runtuhnya Benteng Karibia

Kematian Jeffrey Epstein di sel penjara Manhattan pada Agustus 2019 menutup era teror fisik di Little St. James. Pulau itu kemudian diinvestigasi. Agen FBI bersenjata lengkap menyisir vila-vila, mendobrak pintu, menyita komputer, hard drive, dan dokumen yang diduga berisi materi pemerasan.

Foto-foto pasca-penggerebekan memperlihatkan interior berantakan, penuh kotak kardus dan kabel semrawut. Pulau yang dulu dijaga dengan obsesif kini tampak seperti bangkai kapal yang ditinggalkan.

Nasib Little St. James kemudian terkatung-katung. Pengelola warisan Epstein memutuskan menjualnya untuk membayar kompensasi korban. Pada 2022, Little St. James dan Great St. James resmi dipasarkan dengan harga gabungan 125 juta dolar AS. Akan tetapi, pasar merespons dingin. Para miliarder dan pengembang mundur, enggan menyentuh aset beracun.

Pada Mei 2023, Stephen Deckoff, pendiri Black Diamond Capital Management, membeli kedua pulau dengan harga 60 juta dolar, separuh dari harga awal. Deckoff, penduduk tetap Kepulauan Virgin sejak 2011, melihat peluang di balik stigma.

Dilansir Forbes, ia mengumumkan rencana menjadikan Little St. James resor mewah dengan 25 kamar canggih, bintang lima, dan kelas dunia. Ia berjanji menciptakan lapangan kerja, menghapus jejak fisik era Epstein, dan membangun hal positif.

Little St. James, nama dan pemiliknya boleh berganti, tapi bayang-bayang Epstein dan trauma para korban tetap tertanam di batu vulkanik pulau itu, tak terhapuskan oleh waktu maupun uang.

Baca juga artikel terkait FILE EPSTEIN atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin