Menuju konten utama

Lebanon-Israel Berunding di AS, Poin Apa Saja yang Dibahas?

Permerintah Lebanon-Israel bertemu di di Washington, DC untuk membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan upaya gencatan senjata. AS menjadi mediator.

Lebanon-Israel Berunding di AS, Poin Apa Saja yang Dibahas?
Israel vs Lebanon. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Israel dan Lebanon sepakat untuk berunding di Amerika Serikat (AS). Hal ini diputuskan setelah pertemuan trilateral ketiga negara itu di Washington, DC pada Selasa (14/4/2026). Sejumlah poin akan dirundingkan.

Seturut Anadolu, pertemuan trilateral itu dipimpin oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Sementara Lebanon dan Israel diwakilkan oleh duta besar masing-masing.

Dalam pernyataan yang dirilis Kementerian Luar Negeri AS pasca pertemuan itu, Israel dan Lebanon sepakat untuk melakukan negosiasi langsung. Pertemuan trilateral ini juga disebut telah membahas langkah-langkah menuju negosiasi tersebut.

"Semua pihak sepakat untuk memulai negosiasi langsung pada waktu dan tempat yang disepakati bersama," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Tommy Pigott.

Pigott mengatakan bahwa AS akan bertindak sebagai mediator dalam perundingan tersebut. Ia juga menyatakan AS ingin pembicaraan di dalam negosiasi dapat melampaui cakupan perjanjian 2024 dan kesepakatan perdamaian yang komprehensif.

Sementara itu, poin-poin yang akan dibahas dalam negosiasi tersebut adalah seputar penghentian invasi Israel di wilayah Lebanon selatan. Invasi negara Zionis itu berlangsung sejak Perang Iran pecah, setidaknya 2.089 orang terbunuh di Lebanon dan lebih dari 1 juta orang mengungsi.

Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh menyebut dirinya menegaskan pentingnya gencatan senjata dan penghormatan atas kedaulatan wilayah dalam pertemuan di Washington. Lebanon menginginkan "langkah-langkah konkret" untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang makin memburuk karena serangan Israel.

"Saya menekankan integritas wilayah kami dan kedaulatan penuh negara atas seluruh tanah Lebanon. Saya menyerukan gencatan senjata dan kembalinya para pengungsi ke rumah mereka," katanya dalam pernyataan yang dikutip media Lebanon.

Sedangkan, Israel menginginkan pelucutan senjata Hizbullah. Negara Zionis itu selama ini mengklaim menargetkan Hizbullah ketika membunuh ribuan orang di Lebanon selatan.

Menukil Al Jazeera, Israel ingin senjata Hizbullah dilucuti dan Lebanon menjadi pihak yang bertanggung jawab atas hal tersebut. Hal ini disebut jadi satu-satunya tujuan Israel dalam perundingan dengan Lebanon di AS.

Sebelumnya, negara Zionis itu telah mengatakan bahwa mereka tidak dapat melucuti senjata Hizbullah hanya dengan membom Lebanon dan mengerahkan pasukan darat ke sana. Israel menyebut bahwa hal itu hanya bisa dilakukan dengan penaklukan dan pendudukan Lebanon secara penuh.

Dalam pekan-pekan terakhir, negara yang menduduki wilayah Palestina itu juga berulang kali mengancam pemerintah Lebanon. Mereka menyebut bahwa Lebanon akan membayar harga yang mahal jika tidak melucuti senjata Hizbullah.

Hizbullah Menolak Perundingan Israel-Lebanon

Pertemuan trilateral antara AS-Lebanon-Israel ditolak Hizbullah. Menurut organisasi ini, perundingan di Washington adalah tindakan yang "sia-sia".

Melansir Xinhua, Pemimpin Hizbullah Naim Qassem membuat pernyataan pada Senin (13/4/2026) bahwa organisasi pimpinannya menolak pembicaraan di Washington. Menurutnya, Hizbullah akan melanjutkan perlawanannya di medan pertempuran.

"Kami akan tetap berada di medan perang sampai napas terakhir kami," kata Qassem dalam pidatonya yang disiarkan al-Manar TV.

Qassem juga menyebut bahwa "agresi Israel yang didukung AS" ditujukan terhadap Lebanon secara keseluruhan, bukan hanya Hizbullah. Ia menuduh Israel gagal menegakkan perjanjian gencatan senjata November 2024 untuk menarik pasukan Zionis dari Lebanon.

Ia menolak inisiatif diplomatik yang tengah berjalan di Washington. Menurutnya, negosiasi dengan Israel sama dengan "penyerahan diri". Ia menyerukan agar Pemerintah Lebanon lebih berfokus pada upaya penanggulangan serangan Israel di sana.

Penanggulangan itu, kata Qassem, berkisar pada upaya untuk membuat Israel menarik pasukannya, memulangkan para pengungsi, rekonstruksi dampak serangan, dan pembebasan para tahanan.

Pimpinan Hizbullah itu juga menyebut bahwa kelompoknya akan tetap melanjutkan kampanye militer. Perlawanan, katanya, adalah satu-satunya pilihan untuk menghadapi serangan yang terus berlanjut.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar