tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memilih untuk memblokade Selat Hormuz dari perairan internasional setelah gagalnya perundingan dengan Iran di Islamabad, Pakistan. Namun, mengapa langkah yang membuat ketidakpastian pelayaran ini diambilnya?
Seturut CNN, blokade yang dilakukan AS atas Selat Hormuz menunjukkan bahwa pembukaan kembali jalur vital energi dunia itu merupakan tujuan utama pemerintahan Trump. Blokade disebut jadi sebuah keputusan yang diambil untuk mencapainya.
Kendali atas Selat Hormuz memang dilaporkan jadi salah satu poin tuntutan Iran untuk menghentikan perang. Namun, hal ini ditolak AS yang ingin agar selat tersebut dapat bebas diakses negara sekutunya yang bergantung pada minyak Asia Barat.
Iran juga dilaporkan tengah mengonsolidasikan kekuasaan untuk memberlakukan sistem biaya lintas Selat Hormuz kepada kapal-kapal tanker. Sumber anonim yang mengetahui pembicaraan internal Gedung Putih menyebut bahwa blokade AS atas Hormuz merupakan langkah alternatif untuk menanggulangi langkah Iran.
Blokade ini bertujuan untuk menutup sumber kekayaan utama Iran. AS berharap hal tersebut bisa menekan ekonomi Teheran sehingga mau melunak dalam proses negosiasi.
Langkah ini dipandang pula sebagai cara yang lebih aman daripada melakukan invasi darat atau melanjutkan kampanye pemboman AS di Iran. Selain itu, blokade juga akan menjadi nilai tawar AS dalam perundingan lanjutan dengan Iran di kemudian hari.
Akan tetapi, analis senior bidang Iran dan sektor energi Eurasia Group, Gregory Brew, menyebut bahwa blokade tidak serta merta akan berdampak langsung. Iran, katanya, punya kemampuan untuk menahan dampak ekonomi atasnya hingga kurun waktu tiga hingga empat pekan.
Perkiraan waktu itu berpotensi jadi makin lama seiring AS telah memberikan keringanan sanksi atas penjualan minyak Iran pada beberapa pekan lalu. Keringanan ini berpotensi dimanfaatkan Iran untuk menjual persediaan minyaknya ke negara lain, membuat Teheran punya bekal lebih banyak menghadapi blokade.
"Mereka sudah memiliki banyak minyak di perairan," kata Brew. "Itu menunjukkan bahwa mereka dapat menahan blokade untuk sementara waktu."
Di sisi lain, penerapan blokade juga berpotensi membuat harga minyak dunia makin tak menentu. Blokade yang bertujuan untuk menghentikan rantai ekspor minyak Iran itu berpotensi mengurangi jumlah pasokan energi yang sebelumnya telah merosot.
Warga Iran Demo Tolak Blokade Selat Hormuz
Kebijakan pemerintahan Trump untuk memblokade Selat Hormuz ditanggapi dengan kecaman dari publik Iran. Demonstrasi massa terjadi di Teheran untuk menyuarakan hal tersebut pada Selasa (14/4/2026).
Seturut Al Jazeera, publik Iran menggelar unjuk rasa untuk menyerukan penolakan atas ancaman "kosong" Trump untuk memblokir ekspor energi Iran via Selat Hormuz.
"Dia [Trump] mengatakan akan menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur kami, dan bahkan merebut salah satu pulau kami, tetapi tidak ada satu pun yang terjadi," kata Zahra (32), seorang pemilik salon kecantikan dan massa aksi, kepada Reuters.
Zahra menyerukan bahwa ancaman terbaru Trump tentang blokade Selat Hormuz "hanyalah janji kosong".
Pengunjuk rasa bernama Milad menilai ancaman Trump untuk memblokir Selat Hormuz hanya menunjukkan kerentanan pihak AS. Menurutnya, Trump telah menunjukkan "keputusasaan dan ketidakberdayaan AS dalam menghadapi kemampuan Iran".
Sementara itu, massa aksi lain yang tak ingin namanya disebut mengatakan bahwa ancaman itu tak begitu berarti baginya. Menurutnya, Iran punya kemampuan untuk menanggapi blokade secara militer.
"Bahkan jika ancaman Anda dilaksanakan, kami tahu bahwa angkatan bersenjata negara kami akan sepenuhnya menanggapinya," katanya.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































