tirto.id - Update perang Iran terkini diketahui Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah mempertimbangkan perundingan tahap kedua dengan Iran terkait upaya penghentian perang. Presiden AS Donald Trump disebut terbuka pada potensi tersebut selama Iran setuju akan tuntutannya.
Seturut CNN, para pejabat AS menyatakan bahwa perundingan tahap dua dengan Iran tengah dipertimbangkan oleh pejabat-pejabat di pemerintahan Trump. Pembicaraan itu juga turut mempertimbangkan peluang pertemuan tatap muka langsung sebelum berakhirnya gencatan senjata 21 April 2026 mendatang.
Washington juga disebut sedang menimbang kemungkinan tanggal dan lokasi potensial jika ada perundingan tahap dua dengan Iran. Teheran kini dikabarkan akan menjalani pembicaraan dengan para mediator di kawasan Teluk untuk menjajaki perundingan tahap dua.
"Kita perlu bersiap untuk segera mengadakan sesuatu jika keadaan mengarah ke sana," kata sumber anonim CNN tersebut.
Sementara itu, Trump membuat pernyataan pada Senin (13/4/2026) bahwa Iran telah menghubungi pemerintahannya dan "mereka sangat ingin mencapai kesepakatan". Ia tak merinci siapa yang menelepon maupun yang menerima telepon itu di Washington.
Pernyataan itu dikeluarkan Trump selang sehari setelah ia menyebut bahwa dirinya tidak peduli apakah akan ada kesepakatan dengan Teheran atau tidak. Namun, sementara Trump mengungkapkan retorika itu, para pejabat pemerintahannya dilaporkan tetap berharap agar kesepakatan diplomatik dapat tercapai.
Sumber anonim CNN dari kawasan Teluk menyebut bahwa ada potensi perundingan tahap dua. Negosiasi lanjutan ini disebutnya tengah diupayakan oleh Turki.
Poin-poin Negosiasi yang Belum Disepakati
Perundingan yang terjadi di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026) dan Minggu (12/4/2026) berakhir tanpa tercapainya kesepakatan. Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance pergi dari meja perundingan pada Minggu.
Pasca-perundingan itu, Vance berbicara kepada Fox News pada Senin bahwa kini bola berada di tangan Iran. Ia juga menyebut ada isyarat-isyarat yang baik dari Teheran selama perundingan.
"Saya pikir, sebenarnya ada kesepakatan besar yang bisa dicapai di sini, tetapi menurut saya, terserah Iran untuk mengambil langkah selanjutnya," katanya.
Meski Vance menyebut adanya potensi tercapainya kesepakatan, seorang pejabat Gedung Putih yang tak disebutkan namanya menyebut bahwa ada sejumlah poin yang belum disepakati Iran dan AS selama negosiasi.
Salah satu yang paling utama adalah kesepakatan nuklir. Menurut sumber tersebut, AS ingin Iran mengakhiri semua pengayaan uranium, membongkar fasilitas pengayaan nuklir, dan mengambil lebih dari 400 kg uranium yang telah diperkaya milik Iran.
Iran disebut tak sepakat dengan hal tersebut. Poin kesepakatan seperti penyerahan 400 kg uranium masih jadi ganjalan pada kesepakatan Washington dan Teheran.
Dalam perundingan di Islamabad pada Sabtu, AS dilaporkan telah mengusulkan agar Iran melakukan jeda pengayaan uranium selama 20 tahun. Iran disebut menolak dan menanggapinya dengan proposal penangguhan selama lima tahun. Proposal balasan Iran kemudian ditolak AS.
Sementara itu, JD Vance membuat pernyataan pada Senin bahwa Iran memang belum berada dalam posisi untuk mencapai kesepakatan dalam pertemuan di Islamabad. Menurutnya, para delegasi Iran perlu kembali ke Teheran untuk mendapatkan persetujuan.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa perundingan berjalan lancar hingga momen-momen akhir. Menurutnya, ada perubahan tujuan yang terjadi dalam saat-saat terakhir pembicaraan.
"Dalam pembicaraan intensif di tingkat tertinggi dalam 47 tahun, Iran terlibat dengan AS dalam itikad baik untuk mengakhiri perang. Namun, ketika hanya tinggal beberapa inci dari 'MoU Islamabad', kami menghadapi maksimalisme, perubahan tujuan, dan blokade," tulis Araghchi di akun X miliknya.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































