tirto.id - Duh kah…. (Duh…)
Gak usah sambat cen ngunu (Tidak usah mengeluh, memang seperti itu)
Mak taker ngunu? (Mengapa sampai begitu?)
Jek pancen ngunu (Padahal memang sudah begitu)
Bhe aku wong opo? (Jadi, aku ini orang apa?)
Bait di atas merupakan penggalan puisi “Bumi Pandhalungan” yang ditulis Partu Sukarto, yang kemudian terbit dalam buku kumpulan puisiGurit Krincing Pandhalungan (2022). Di akhir syair tersebut ia bertanya, Bhe aku wong opo? 'Jadi, aku ini orang apa?', sebuah ungkapan yang menangkap kebingungan sekaligus kekayaan identitas Madura dan Jawa di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur.
Dinamakan Tapal Kuda karena bentuknya di peta menyerupai ladam atau tapal kuda. Di masa kolonial, Belanda menyebutnya De Oosthoek 'Pojok Timur'. Wilayah tersebut sebagian besar dihuni oleh etnis Madura, mencakup tujuh kabupaten dan kota, yakni Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Probolinggo, Lumajang, Jember, dan sebagian Pasuruan.
Di Tapal Kuda, bahasa Madura digunakan luas, bahkan dalam ruang semi-formal dan publik. Tak jarang nama-nama tempat atau benda dalam bahasa Jawa diucapkan dengan logat Madura. Dialek lokal pun banyak menyerap struktur serta kosa kata Madura.
Dalam percakapan sehari-hari, sebagian orang lebih fasih berbahasa Madura sehingga bahasa Jawanya terkesan kaku. Sebaliknya, ada yang cenderung berbahasa Jawa tapi aksen dan nada bicaranya seperti orang Madura.
Dalam Habitus:Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Antropologi (2022) dijelaskan, ada banyak kalangan penutur Jawa yang mengatakan "Mak ngunu?” (Kok gitu?). Kalimat tanya tersebut yang merupakan campuran dari Bahasa Madura mak 'kok' dan kata Bahasa Jawa ngunu 'begitu'.
Percampuran budaya itulah yang melahirkan dialek khas wilayah Tapal Kuda. Di Jember, misalnya, muncul dialek Jemberan, campuran kosa kata dan intonasi Jawa-Madura yang jadi jembatan komunikasi antar-kelompok.
Masyarakat Madura di Jember juga dikenal terbuka terhadap budaya lain. Mereka aktif dalam kesenian Cina lewat atraksi Barongsai serta musik Arab seperti Gambus, yang tak jarang berpadu padan dalam acara kesenian tingkat global macam Jember Fashion Carnaval.
Meski terbuka dan adaptif, masyarakat Madura tetap menjaga inti identitasnya di Jawa. Falsafah hidupBappa' (bapak), Bhabbu' (ibu), Ghuru (guru/kyai), Ratho (pemerintah), tetap jadi pedoman sosial. Tak hanya itu, pola permukiman tradisional khas, seperti model tanean lanjang (halaman panjang) dan langgar (surau) sebagai pusatnya, masih dipertahankan atau direplikasi di Tapal Kuda.
Budaya Madura tersebut kemudian berasimilasi dengan Jawa dan dikenal dengan sebutan pendalungan atau pandhalungan. Menurut Prawiroatmodjo dalam Bausastra Jawa-Indonesia II (1985), secara etimologis, pandhalungan berasal dari kata dhalung 'periuk besar'. Berdasarkan penafsirannya, kata tersebut merupakan metafora untuk menggambarkan peleburan budaya, khususnya etnis Jawa dan Madura.
Namun, identitas pendalungan tidak tunggal. Di Pasuruan dan Probolinggo, pengaruh budaya Arekan dari Surabaya terasa kuat. Sementara itu, Situbondo dan Bondowoso lebih kental dengan nuansa Madura, dan karenanya kerap disebut sebagai jantungnya “Madura Swasta”. Lain lagi di Lumajang, Jember, dan Banyuwangi, yang menampilkan campuran lebih kompleks, termasuk unsur budaya Mataraman dan Osing (masyarakat asli Blambangan).
Migrasi Etnis Madura ke Wilayah Tapal Kuda
Migrasi orang Madura ke Tapal Kuda berlangsung dalam beberapa tahap. Masing-masing dipicu oleh kondisi yang berbeda. Sebelum migrasi besar-besaran terjadi, hubungan antara Madura dan pesisir timur Jawa sudah terjalin lewat aktivitas dagang dan perikanan di Selat Madura.
Nelayan dan pedagang dari Sumenep, Pamekasan, dan Sampang, rutin singgah di bandar-bandar kecil. Sebagian di antara nelayan dan pedagang itu lantas memilih menetap, membuka lahan di belakang pantai untuk dijadikan tempat tinggal dan bertani.
Mohammad Adib dalam buku Etnografi Madura (2011:14) menyebut, orang Madura di perantauan sudah ada sejak era Kerajaan Singasari. Saat itu, Adipati Madura ke-13, Aria Wiraraja, membantu Raden Wijaya menundukkan Prabu Jayakatwang dari Kediri serta turut membangun cikal bakal Kerajaan Majapahit.
Hal senada diungkapkan Marwati Djoened Poesponegoro dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II Zaman Kuno (2019:451), “Daerah Terik dibuka oleh Wijaya dengan bantuan dari Wiraraja, menjadi desa dengan nama Majapahit.”
Migrasi terorganisir pertama justru terjadi bukan atas kehendak sendiri. Beberapa sumber mencatat bahwa orang Madura berperan penting dalam politik Jawa pada abad ke-17 hingga ke-18. Mereka bukan cuma jadi penonton, tapi ikut terlibat langsung, termasuk mengubah arah kekuasaan Mataram Islam.
Salah satunya dapat dilihat dalam penyerbuan pasukan VOC ke wilayah Jawa Timur demi menangkap Amangkurat III yang melarikan diri. Sebagaimana ditulis oleh M.C Ricklefs dalam Sejarah Modern Indonesia 1200-2004 (2004:195), gerbong VOC diisi oleh pasukan gabungan, termasuk dari Madura.
Sejak itu, orang-orang Madura banyak yang membentuk kantong-kantong permukiman di wilayah Jawa Timur. Muh. Syamsudin dalam artikel jurnal bertajuk “Agama, Migrasi, dan Orang Madura” menyebut, pada 1806, puluhan desa Madura sudah berdiri di Pasuruan, Probolinggo, Puger (Jember), dan Panarukan (Situbondo). Komunitas itu menjadi fondasi sosial yang kelak memudahkan migrasi dalam skala lebih besar.

Pada 1846, populasi orang Madura di pojok timur Jawa diperkirakan mencapai 498.273 jiwa. Adapun di Surabaya, Gresik, serta Sedayu, ada sekitar 240.000 jiwa. Jumlah total etnis Madura di Jawa-Madura pada periode itu mencapai 1.055.915 jiwa.
Titik baliknya terjadi pada 1870, saat pemerintah kolonial menerapkan Undang-Undang Agraria. Kebijakan ini membuka pintu bagi investasi swasta dan mendorong pembukaan perkebunan besar di Tapal Kuda, terutama untuk tembakau dan tebu.
“Orang Belanda yang pertama kali merintis usaha perkebunan swasta di Jember adalah George Birnie dkk. pada tahun 1859, bergerak di bidang perkebunan tembakau, disusul kemudian dengan aneka tanaman seperti kopi, kakao, dan karet,” tutur M. Ilham Zoebazary, dalam buku Orang Pendalungan 92024:49).
Beriringan dengan pembukaan lahan-lahan perkebunan baru, kebutuhan tenaga kerja pun melonjak. Padahal, penduduk lokal terbatas. Oleh karena itu, Madura, dengan jumlah penduduk padat dan ekonomi sulit, menjadi sumber tenaga kerja murah yang ideal bagi pemerintah kolonial.
Meski bukan bagian dari program resmi pemerintah, banyak insentif ditawarkan. Pemilik perkebunan menyediakan fasilitas dasar, sedangkan pemerintah kolonial kadang memberi lahan, ternak, atau pembebasan pajak, untuk mendorong permukiman baru.
Yang paling krusial kala itu adalah keberadaan komunitas Madura yang sudah lebih dulu menetap di Jawa. Mereka menjadi tumpuan bagi pendatang baru, menyediakan tempat tinggal, makanan, informasi, serta ikatan sosial. Inilah yang memperkuat arus migrasi dan memudahkan proses adaptasi, menjadikan Tapal Kuda bukan sekadar tempat kerja, tapi rumah baru bagi ribuan orang Madura.
Mengapa Wilayah Tapal Kuda yang Dipilih?
Ada beberapa alasan khusus orang Madura memilih Tapal Kuda sebagai tujuan migrasi utama.
Pertama, kedekatan geografis dan kemudahan transportasi laut melalui Selat Madura.
Kedua, wilayah Tapal Kuda secara historis berkaitan dengan Sumenep. Menurut Arsip Kabupaten Sumenep, wilayah ini dahulu merupakan bagian dari wilayah Sumenep yang kemudian ditukar dengan kepulauan Sumenep oleh pemerintah kolonial Belanda pada era Panembahan Sumolo.
Ketiga, kondisi tanahnya lebih subur dibandingkan Madura sehingga menawarkan peluang ekonomi yang lebih baik.
Keempat, ketersediaan lapangan kerja yang luas dan beragam, terutama di sektor perkebunan dan perdagangan.
Kelima, keberadaan komunitas Madura yang sudah ada sebelumnya menciptakan jaringan sosial yang mendukung kedatangan migran baru.

Sejak 1870-an, arus migran Madura mengalir deras ke Tapal Kuda, baik secara musiman maupun menetap. Pada 1930, hampir 2,5 juta orang Madura tinggal di luar pulau asal, mayoritas di Jawa Timur, demikian seturut catatan Yakob dan Ekawati dalam jurnal terbitan IPB.
Puncaknya terjadi saat Depresi Besar 1929. Harga komoditas jatuh, banyak perkebunan gulung tikar, dan ribuan pekerja Madura kehilangan pekerjaan di tanah rantau, tanah Jawa. Tak bisa pulang, mereka pun menetap di sekitar perkebunan, beralih profesi jadi petani kecil atau pekerja serabutan. Dari situ, status mereka berubah dari pendatang sementara menjadi penduduk tetap, memperkuat kehadiran Madura di Tapal Kuda secara permanen.
Keputusan orang Madura untuk meninggalkan kampung halaman dan merantau ke Tapal Kuda bukanlah pilihan gampang. Ia lahir dari tekanan hidup yang terus-menerus muncul dan daya tarik kuat dari tanah seberang.
Di Madura, kondisi alam yang didominasi tanah kapur membuat pertanian sulit berkembang. Ladang kering yang bergantung pada hujan tak menentu menjadikan hidup agraris penuh ketidakpastian. Hasil pertanian di Madura hanya cukup untuk konsumsi sendiri sehingga mereka terpaksa mencari peluang kerja alternatif untuk menafkahi keluarga.
“Mahalnya air terutama di musim kemarau juga membuat petani Madura menjadikan jagung dan ketela sebagai tanaman utama mereka sekaligus bahan makanan pokok terutama bagi penduduk desa,” tulis majalah Balairung edisi No. 20 tahun 1994, dalam laporan bertajuk “Padang Garam Menuju Batam II”.
Di sisi lain, kepadatan penduduk yang tinggi memperparah keadaan. Tanah garapan makin langka, pengangguran meningkat, dan kemiskinan menjadi bagian dari keseharian.
Budaya Madura juga turut mendorong mobilitas. Etos kerja keras, semangat menjaga harga diri, dan tradisi merantau yang sudah mengakar, menciptakan dorongan sosial untuk keluar dari pulau dan mencari penghidupan di tempat lain.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































