Menuju konten utama

KSPI Prediksi 9.000 Buruh Terancam PHK dalam 3 Bulan

Said Iqbal menilai penyebab utama PHK adalah dampak perang Iran melawan AS-Israel yang memicu kenaikan harga BBM industri dan ongkos produksi perusahaan.

KSPI Prediksi 9.000 Buruh Terancam PHK dalam 3 Bulan
Presiden Partai Buruh Said Iqbal menyampaikan pidatonya dalam peringatan Tiga Tahun Kebangkitan Klas Buruh di Istora, kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (18/9/2024). Partai Buruh menyatakan dukungan kepada presiden terpilih untuk masa bakti 2024-2029 Prabowo Subianto. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/Spt.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memprediksi sekitar 9.000 buruh di sedikitnya 10 perusahaan berpotensi terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dalam tiga bulan ke depan.

Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menyebut konflik Iran-Israel menjadi salah satu faktor utama yang memicu ancaman PHK tersebut.

“Dalam tiga bulan akan terjadi PHK di 10 perusahaan, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten,” kata Said dalam konferensi pers daring, Senin (25/5/2026).

Ia mengatakan, potensi PHK itu sebelumnya telah diperingatkan KSPI sejak akhir April hingga awal Mei 2026. Menurut Said, sekitar 9.000 buruh diperkirakan terdampak gelombang efisiensi dan penutupan perusahaan di sejumlah sektor industri.

“10 perusahaan yang diperkirakan berpotensi, diperkirakan ya, berpotensi 9.000 orang buruh akan ter-PHK dalam 3 bulan ke depan,” ujar Said.

Menurut dia, penyebab utama ancaman PHK berasal dari dampak perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang dinilai berkepanjangan sehingga memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri dan ongkos produksi perusahaan.

“Faktor penyebabnya adalah perang, perang daripada Iran melawan Amerika dan Israel yang tidak ada kepastian kapan berakhirnya, sehingga melambungkan harga BBM. BBM industri itu non-subsidi,” kata Said.

Selain kenaikan harga BBM, Said juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berdampak pada kenaikan biaya impor bahan baku industri.

“Nah, karena harga BBM mulai terasa naik di bulan Mei ini, kemudian ongkos produksi naik, maka efisiensi,” tuturnya.

Ia menjelaskan, banyak perusahaan manufaktur di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor yang dibeli menggunakan dolar AS. Kondisi itu membuat biaya produksi meningkat ketika nilai tukar rupiah melemah. KSPI mencatat ancaman PHK tersebar di sejumlah sektor, mulai dari tekstil, sepatu, elektronik, hingga otomotif.

Said mencontohkan PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat, yang menutup operasional perusahaan dan mem-PHK sekitar 350 pekerja. Perusahaan tersebut sebelumnya dikenal sebagai PT Sanyo Indonesia.

Selain itu, KSPI juga mencatat PHK di sejumlah perusahaan di Banten seperti PT Sinwa, PT Lung Cheong Brothers Industrial, dan PT PWI. Sementara di Serang, perusahaan sepatu Nikomas disebut melakukan efisiensi dengan mengurangi sekitar 279 pekerja.

“Kalau sepatu tadi sudah saya sebutkan di Banten ya, tapi kalau yang sepatu bukan tutup perusahaannya tapi melakukan efisiensi,” kata Said.

Di Jawa Timur, Said menyebut CV Asri di Sidoarjo turut melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja akibat penurunan permintaan kendaraan bermotor.

“Ya mau enggak mau perusahaan penjualan mobil seperti CV Asri di Sidoarjo ini melakukan PHK 200 orang,” ujar dia.

KSPI dan Partai Buruh, lanjut Said, akan berkomunikasi dengan pemerintah dan DPR RI untuk membahas ancaman gelombang PHK tersebut. Ia mengatakan pemerintah saat ini telah membentuk Satgas Mitigasi PHK guna menangani potensi meningkatnya pengangguran akibat perlambatan industri.

“Kami tentu akan menemui pimpinan DPR RI untuk berdiskusi ya,” kata Said.

Selain itu, KSPI juga membuka Posko Orange untuk mengadvokasi buruh terdampak PHK dan menghubungkan mereka dengan Satgas Mitigasi PHK agar dapat memperoleh peluang kerja di daerah atau perusahaan lain.

Baca juga artikel terkait BURUH atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Bayu Septianto