tirto.id - Ratusan mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil menggelar aksi di Simpang Empat Jalan Jenderal Soedirman, Kota Jogja, Selasa (1/9/2026). Aksi ini digelar sejak pukul 16.00 WIB.
Ada dua tuntutan yang disampaikan oleh Aliansi Masyarakat Sipil. Dua tuntutan ini adalah turunkan rezim saat ini dan tarik mundur kolonialisme Indonesia dari wilayah periferi jajahannya.
Ketua Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (SEMA UGM), Mesa, menilai kondisi Indonesia saat ini makin semrawut dan juga jauh dari amanat konstitusi.
"Negara ini masih dijajah oleh alokasi APBN yang justru difokuskan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan banyak program prioritas yang dipaksakan. Pemerintah tidak hanya mengambil anggaran rakyat, namun semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945," ucap Mesa.
Aksi dari Aliansi Masyarakat Sipil ini membuat kawasan Simpang Empat Jalan Jenderal Sudirman Kota Yogyakarta ditutup dari kendaraan bermotor. Ratusan massa yang sebelum ke Simpang Empat Jalan Jenderal Sudirman melakukan konvoi jalan kaki atau long march dari Bundaran UGM yang berjarak sekitar satu kilometer.
Pukul 19.10 WIB: Awal Mula Gesekan di Jalan Sudirman
Aksi demonstrasi ini berlangsung hingga malam hari. Sempat terjadi gesekan antara peserta aksi dengan sejumlah massa lain yang mengatasnamakan masyarakat. Gesekan ini sempat terjadi sekitar pukul 19.10 WIB. Saat itu sejumlah massa coba membubarkan aksi dengan mengejar peserta aksi. Peserta aksi sempat berlalu ke Jalan Cik Di Tiro namun kemudian bisa kembali ke Simpang Empat Jalan Sudirman dan melanjutkan aksinya.
Suasana kembali memanas sekitar pukul 20.40 WIB. Saat itu ada seorang pria yang mengatasnamakan perwakilan warga Yogyakarta berdebat dengan peserta aksi. Pria ini menuding aksi demonstrasi itu mengganggu perekonomian dan meminta agar massa membubarkan diri.
"Ada banyak UMKM yang terganggu karena jalannya ditutup karena demo kalian. Saya minta aksi ini segera bubar," kata pria tersebut.
Keluhan pria ini pun mendapatkan jawaban dari peserta aksi. Peserta aksi meminta agar UMKM yang merasa dirugikan untuk datang dan peserta aksi siap membeli dagangan tersebut.
Perdebatan semakin memanas dan tak kunjung ada titik temu. Massa yang mengatasnamakan warga ini kemudian mencoba membubarkan aksi demonstrasi ini. Aksi saling dorong antarmassa ini kembali terjadi.
Pukul 22.00 WIB: Negosiasi Alot Berujung Kericuhan

Peserta aksi masih bertahan di lokasi hingga sekitar pukul 22.00 WIB dan bernegosiasi dengan petugas kepolisian. Negosiasi ini akhirnya menemukan titik temu, peserta aksi siap membubarkan diri dan kembali ke Bundaran UGM jika sekelompok massa di sisi selatan juga membubarkan diri.
Sayangnya negosiasi menjadi alot usai peserta aksi menilai sekelompok massa yang mengatasnamakan warga ini justru tak membubarkan diri. Massa ini justru merangsek membubarkan peserta aksi yang sedang berjalan mundur ke arah Bundaran UGM.
Pasca-Bentrokan: Delapan Korban Terluka dan Evakuasi Medis
Serbuan massa ini menyebabkan sejumlah peserta aksi mengalami luka. Berdasarkan catatan tim medis Aliansi Masyarakat Sipil ada lebih kurang delapan orang peserta aksi yang mengalami luka.
"Dua mengalami trauma tumpul di kepala, ada pendarahan. Langsung dievakuasi ke RS Panti Rapih. Total ada delapan [korban luka]. Enam dirawat di selasar sini [UII Cik Di Tiro]. Dua di RS," kata tim medis Aliansi Masyarakat Sipil, Hao.
Usia diserbu dan dipukul mundur, peserta aksi kemudian kembali ke Bundaran UGM sebelum akhirnya membubarkan diri. Sekitar pukul 22.45 WIB akses jalan Simpang Empat Jenderal Sudirman sudah kembali dibuka untuk kendaraan bermotor.
Penulis: Cahyo PE
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id
































