tirto.id - Suasana siang di selasar Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) tampak riuh. Di antara deru mesin dari arah bengkel teknik dan suara mahasiswa yang tengah makan siang di kantin teknik, terselip kegelisahan yang tidak tertulis dalam modul perkuliahan, yakni urusan bertahan hidup.
Menemukan mahasiswa rantau di kampus ini tidaklah sulit. Bahkan ada komunitas mahasiswa rantau dari berbagai daerah. Keberadaan mereka juga mudah diidentifikasi dengan mengenali logat berbicara yang kedaerahannya.
Luthfan (19), asal Banyumas yang kini menetap di Depok, menjadi representasi dari mahasiswa yang mengandalkan kedisiplinan angka. Sebagai penerima beasiswa KIP Kuliah (KIPK), ia mendapatkan dana sebesar Rp8,4 juta per semester, atau rata-rata Rp1,4 juta per bulan.
Namun, dia menyadari bahwa angka tersebut terbilang pas-pasan untuk hidup di pinggiran Jakarta. Tak habis akal, dia memutar otak dengan terjun ke pasar modal. Melalui investasi, ia rata-rata mengantongi keuntungan sekitar Rp1 juta per bulan, sehingga total pemasukannya mencapai Rp2,4 juta.
Meski memiliki pemasukan tambahan, Luthfan tetap menerapkan prinsip ekonomi yang sangat ketat. Ia mencatat setiap pengeluaran, bahkan hingga biaya parkir sekali pun. Baginya, pemisahan antara keinginan dan kebutuhan adalah harga mati.
"Saya bisa hidup tanpa keinginan, tapi saya nggak bisa hidup tanpa kebutuhan. Nah makanya keinginan ini adalah satu-satunya spare yang benar-benar saya tekan sekali, nggak boleh sampai mengganggu siklus hidup saya," ujar Luthfan dengan tegas mengenai prinsip manajemen keuangannya, saat bercerita kepada Tirto, di PNJ, Rabu (26/08/26).
Siasat Menu Tempe dan Kedisiplinan Angka

Kenaikan harga pangan memaksa Luthfan mengubah sumber proteinnya secara drastis. Dulu, ia rutin mengonsumsi daging ayam, namun kini ia beralih sepenuhnya ke tempe demi efisiensi.
Luthfan percaya bahwa di dunia yang tidak pasti, termasuk fluktuasi pasar modal di mana ia pernah rugi hingga Rp1 juta sebulan, kemampuan menekan emosi dalam berbelanja adalah satu-satunya kontrol yang dimiliki Luthfan.
Antara Skincare dan Sebungkus Nasi

Kondisi serupa dialami oleh Alfira (21), mahasiswa rantau dari Bekasi ke Purwokerto. Dia mengelola uang bulanan sebesar Rp2 juta dari orang tuanya sejak kuliah di Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri.
Jika Luthfan berfokus pada investasi, Alfira lebih banyak bergelut dengan manajemen dana darurat. Baginya, uang bulanan paling sering menipis di akhir bulan akibat pengeluaran tak terduga, seperti kerusakan sepeda motor.
Saat kondisi keuangan mulai kritis, aspek pertama yang dikorbankan adalah kebutuhan sekunder yang berhubungan dengan penampilan.
"Kebutuhan apa yang pertama kali dikurangi atau dikorbankan itu biasanya ini sih, skincare atau nggak make up. Karena yang nggak begitu penting-penting banget, karena yang paling penting itu makan," ungkap Alfira menjelaskan skala prioritasnya.
Ketika situasi memburuk, Alfira bahkan harus mengurangi kualitas makanannya ke titik paling rendah.
Bagi mahasiswa seperti Alfira, menunda kebutuhan kuliah adalah pilihan terakhir. Ia lebih memilih memasak sendiri dan meninggalkan jasa laundry demi memastikan setiap rupiah digunakan dengan efektif di tengah harga makanan yang terus merangkak naik.
Sisi Gelap Hustle Culture dan Risiko Kesehatan Lambung

Kisah bertahan hidup lainnya datang dari Rangga (20), mahasiswa asal Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dia menempuh studi di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) dengan uang jajan Rp1,6 juta per bulan dari kakaknya.
Rangga merasa angka tersebut hanya cukup untuk kebutuhan dasar seperti makan dan transportasi. Padahal, biaya praktikum untuk studi teknik yang dia jalani terbilang mahal.
Untuk menutupi kekurangan tersebut, Rangga memilih bekerja freelance sebagai tenaga monitoring migrasi wifi di sebuah perusahaan. Meskipun mendapatkan penghasilan tambahan hingga Rp2,5 juta perbulan, beban kerja ganda antara kuliah, organisasi, dan pekerjaan mengancam kesehatannya.
Rangga juga menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak masuk akal bagi kantong mahasiswa.
"Ayam geprek itu yang kayak Rp12.000, Rp13.000, sekarang tiba-tiba kayak udah Rp15.000, Rp20.000 gitu. Kayak udah makin lama makin naik harga-harga primer," keluhnya.
Bagi Rangga, selisih seribu rupiah sangat berarti bagi mahasiswa rantau yang harus memutar otak setiap hari agar tetap bisa makan dan membeli komponen praktikum.
Akar Masalah: Perspektif Pengamat Sosiologi
Fenomena mahasiswa yang harus berjuang ekstra keras ini dilihat oleh Sosiolog Nia Elvina sebagai dampak dari kebijakan makro pendidikan. Menurutnya, akar permasalahan ini adalah adanya kebijakan pemerintah untuk mengurangi subsidi dalam bidang pendidikan atau mengubah status Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN/PTN-BH).
Nia Elvina menekankan, pendidikan tinggi kini kian sulit dijangkau oleh kelas menengah ke bawah.
Ia menambahkan bahwa perubahan status kampus membuat biaya hidup di sekitar kampus ikut melonjak, sehingga membebani mahasiswa yang orang tuanya masuk kategori ekonomi menengah ke bawah.
Menanti Reda Badai Inflasi
Sore itu, Luthfan kembali ke kosannya di Beji, Depok, Luthfan menutup hari dengan rutinitas yang telah menjadi napasnya, mencatat setiap rupiah yang keluar dalam buku catatan kecilnya. Di pergelangan tangannya, jam tangan seharga Rp80.000 yang ia beli dua tahun lalu masih melingkar sebuah investasi barang yang ia hitung secara matematis hanya bernilai 500 perak per hari untuk masa pakai empat tahun.
Bagi Luthfan, catatan keuangan yang rapi adalah bentuk perlawanannya terhadap dunia yang kian mahal. Ia tidak tahu pasti kapan inflasi akan mereda atau kapan kebijakan pemerintah akan berpihak kembali pada mahasiswa rantau dengan uang bulanan pas-pasan.
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































