tirto.id - Perusahaan biofarmasi asal Jepang, Takeda, bakal menyuntikkan modalnya ke Indonesia untuk membangun ekosistem produk obat derivat plasma (PODP). Pada tahap awal, Takeda akan berinvestasi sekitar US$30 juta atau sekitar Rp539 miliar selama dua tahun untuk membangun jaringan bank plasma sebagai fondasi pengembangan industri plasma nasional.
“Investasi ini merupakan investasi strategis yang tidak hanya menghadirkan tambahan modal, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penciptaan lapangan kerja berketerampilan tinggi,” ujar Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan P. Roeslani, dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (14/7/2026).
Investasi Takeda tersebut dinilai mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan investor global terhadap prospek investasi Indonesia, khususnya pada sektor industri kesehatan berteknologi tinggi.
Kemitraan ini juga sejalan dengan agenda transformasi ekonomi melalui hilirisasi di berbagai sektor strategis, termasuk kesehatan, guna meningkatkan daya saing industri nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
“Pemerintah terus mendorong investasi yang memberikan nilai tambah dan memperkuat kapasitas industri nasional sehingga Indonesia dapat menjadi pusat manufaktur dan inovasi kesehatan di kawasan," tambah Rosan.
Jepang sendiri merupakan salah satu mitra strategis Indonesia di bidang investasi. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, pada Triwulan I 2026, Jepang menempati peringkat kelima jajaran investor utama Indonesia dengan nilai investasi mencapai US$1 miliar. Sedangkan, total capaian realisasi Jepang pada periode 2021 - triwulan I 2026 mencapai US$18,1 miliar dengan pertumbuhan rata-rata 13,2 persen dan penyerapan tenaga kerja mencapai 299.460 orang.
“Ini menjadi landasan kuat bagi pengembangan kerja sama investasi di berbagai sektor prioritas, termasuk kesehatan,” tutur Rosan.
Melalui kolaborasi ini, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap produk obat derivat plasma yang sangat dibutuhkan, tetapi juga membangun ekosistem industri biofarmasi yang berdaya saing, inovatif, dan berkelanjutan.
“Bank plasma pertama ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027 sebagai bagian dari pengembangan jaringan plasma nasional yang memenuhi standar internasional,” tutup Rosan.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id






































