tirto.id - Pemerintah tengah merancang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) finansial atau Indonesia Financial Centre di Bali. Lokasi yang rencananya seluas sekitar 100 hektare itu dikonsep bebas pajak bagi dana yang masuk dari luar negeri.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan bahwa KEK finansial ini bukanlah tax haven, melainkan model yang meniru pusat keuangan Dubai dengan kawasan terbatas namun berkontribusi pada investasi lanjutan.
"Uang bisa masuk dari luar negeri, enggak saya pajakin. Tapi uang di situ akan bisa dipakai berinvestasi di proyek Danantara yang banyak dan returnnya bagus, atau di proyek-proyek di luar kawasan ekonomi itu dengan prospek yang bagus," ujar Purbaya di Konferensi Pers KSSK, dikutip Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, kekhawatiran publik bahwa kebijakan ini hanya akan menjadi tempat parkir dana asing tanpa manfaat bagi perekonomian nasional adalah tidak berdasar. Sebab, dana yang hanya mengendap di kawasan tidak akan menghasilkan return.
"Kalau dia ditaruh di situ saja enggak apa-apain, dia enggak akan dapat return. Returnnya ya harusnya ditaruh di tempat saya (obligasi), di sektor finansial lain, tapi yang paling menarik ya di sektor riil," ucapnya.
Purbaya memaparkan bahwa KEK finansial ini tidak akan seluas ratusan ribu hektare. Dengan luas sekitar 100 hektare, kawasan ini didesain untuk "nyerang keluar", artinya modal yang masuk justru dialirkan ke proyek-proyek di luar kawasan, termasuk pembiayaan pembangunan swasta dan pemerintah.
"Kalau selama di tempat financial center-nya minta tax incentive, saya kasih. Enggak apa-apa, dulunya juga enggak ada apa-apa di situ. Tetapi ketika dia keluar, ada hasil, ada pajak, dan ekonomi jalan," jelasnya.
Bendahara negara itu menambahkan, kehadiran KEK finansial Bali akan memberi Indonesia sumber pembiayaan baru yang lebih murah dan berkelanjutan. Selain itu, dengan proyeksi masuknya dolar dalam jumlah besar dari luar negeri juga akan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
"Kita punya sumber pembiayaan baru yang mungkin lebih murah dari sekarang dan membuat pembiayaan kita lebih sustainable. Kalau dolarnya banyak masuk, rupiah juga akan lebih stabil," tuturnya.
Ia mengungkapkan bahwa desain teknis kawasan ini sedang disempurnakan dan akan segera dijalankan dalam waktu tidak terlalu lama.
"Gue bocorin itu ya, kira-kira seperti itu yang sedang didesain," ucapnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id




































