Menuju konten utama

Khutbah Jumat 16 Mei 2025 Bulan Dzulqa'dah tentang 6 Rukun Haji

Khutbah Jumat 16 Mei 2025 bulan Dzulqa'dah membahas tema tentang 6 rukun haji. Isi khutbah bisa menjadi panduan khotib sholat Jumat.

Khutbah Jumat 16 Mei 2025 Bulan Dzulqa'dah tentang 6 Rukun Haji
Ibadah shalat Jumat. ANTARA/M Ifdhal

tirto.id - Khutbah Jumat 16 Mei 2025 bulan Dzulqa'dah mengulas tema tentang 6 rukun haji. Umat Muslim sebentar lagi akan menjalankan salah satu rukun Islam di tanah suci.

Rukun haji penting untuk diketahui. Di antaranya mencakup tata cara pelaksanaan haji hingga bagian-bagian yang tidak bisa ditinggalkan.

Keberadaan rukun haji menjadi hal wajib. Jika salah satu ditinggalkan, maka ibadah haji tidak sah. Selain itu, kewajiban menunaikan haji bagi jemaah tersebut bisa jadi belum gugur lantaran rukun haji tidak terpenuhi .

Allah Swt. berfirman melalui surahAl-Hajj ayat 27:

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍۙ ۝٢٧

wa adzdzin fin-nâsi bil-ḫajji ya'tûka rijâlaw wa ‘alâ kulli dlâmiriy ya'tîna ming kulli fajjin ‘amîq

Artinya:"(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,".

Khutbah Jumat 16 Mei 2025 Bulan Dzulqa'dah tentang 6 Rukun Haji

Berikut merupakan contoh khutbah Jumat 16 Mei 2025 bulan Dzulqa'dah yang membahas tema tentang 6 rukun haji:

Khutbah I

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين،

أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صدق الله العظيم

Sidang Jum’at rahimakumullah....

Khatib mengajak seluruh jemaah serta khusus diri sendiri agar selalu meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah Swt. dengan jalan menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Bulan mulia ini menjadi kesempatan untuk menambah amal ibadah. Caranya dengan meningkatkan kualitas ibadah wajib dan amalan ibadah sunah hingga mampu bertahan sampai akhir kehidupan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.....

Ibadah haji merupakan salah satu dari lima rukun Islam, yakni sebagai rukun terakhir setelah syahadat, shalat, puasa dan zakat. Perintah menunaikan ibadah haji termaktub dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 97:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Artinya:“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam,”.

Ayat di atas menjelaskan bahwa ibadah haji itu wajib. Tetapi, hukum wajib dikaitkan dengan kemampuan. Karena ibadahb haji merupakan perjalanan yang membutuhkan kemampuan materi dan kekuatan fisik.

Apabila ibadah dikaitkan langsung dengan kemampuan para hamba-Nya, maka terdapat hikmah tertentu yang menunjukkan kebijaksanaan Allah Swt. Orang-orang beriman akan menerima ketentuan tanpa berat hati.

Di sisi lain, kaitan ibadah haji dengan kemampuan para hamba-Nya menunjukkan kasih sayang Allah Swt. yang sangat besar terhadap manusia. Semua ini telah ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 286:

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya,”.

Hal yang sama juga ditegaskan dalam surah Al Maidah ayat 6:

مَا يُرِيْدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ

Artinya: “Allah tidak menginginkan bagi kalian sesuatu yang memberatkan kalian.”

Selain melalui Al-Qur’an, perintah ibadah haji juga disebut dalam hadits Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah RA, Nabi Muhammad saw bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا. فَقَالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ. ثُمَّ قَالَ: ذَرُوْنِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ

Artinya: “Wahai sekalian manusia, sungguh Allah telah mewajibkan bagi kalian haji maka berhajilah kalian!” Seseorang berkata: “Apakah setiap tahun, ya Rasulullah?” Beliau terdiam sehingga orang tersebut mengulangi ucapannya tiga kali.

Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Kalau aku katakan ya, niscaya akan wajib bagi kalian dan kalian tidak akan sanggup.”

Kemudian beliau berkata: “Biarkanlah apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang sebelum kalian telah binasa karena mereka banyak bertanya yang tidak diperlukan dan menyelisihi nabi nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian maka lakukanlah sesuai dengan kesanggupan kalian. Dan bila aku melarang kalian dari sesuatu maka tinggalkanlah,".

Dari hadits tersebut dapat diketahui secara jelas bahwa kewajiban menjalankan ibadah haji sekali seumur hidup. Manfaat ibadah haji lebih banyak untuk diri sendiri daripada untuk orang banyak. Misalnya seseorang dapat mencapai sifat saleh karena telah melaksanakan salah satu perintah-Nya.

Sidang Jum’at rahimakumullah.....

Rukun haji terdiri dari 6 macam. Di antaranya adalah Ihram, Wukuf, Tawaf, Sai, Tahalul, dan Tertib.

1. Ihram

Ihram adalah sejenis dengan takbiratul ihram ketika melaksanakan salat. Ihram menjadi penanda awal seseorang telah masuk dalam rangkaian manasik haji dengan niat haji di dalam hati. Selain itu, para jemaah haji juga dianjurkan melafalkan niat ihram haji dengan lisan.

Dalam rukun haji yang pertama ini, terdapat beberapa larangan yang harus dijauhi. Mulai dari memakai wewangian, memotong kuku dan rambut, mengadakan akad nikah, hingga berhubungan suami-istri.

2. Wukuf

Rukun haji yang kedua adalah wukuf. Prosesi ini merupakan puncak dari ritual haji dan dilakukan di Arafah. Di tempat tersebut, para jemaah berdiam diri pada 9 Dzulhijjah dari tergelincirnya matahari hingga terbenam.

Pada saat melakukan proses ini, para jemaah dianjurkan untuk memperbanyak membaca dzikir, talbiyah, istighfar, tahlil, sholawat, dan membaca Al-Qur’an.

3. Tawaf

Para jemaah haji mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali dengan keadaan suci yang diawali dari arah Hajar Aswad. Prosesi tawaf juga disebut juga dengan tawaf ifadhah. Tawaf haji bisa dilakukan mulai dari tengah malam 10 Dzulhijjah.

4. Sai

Rukun haji yang keempat adalah Sai. Rukun haji ini dilakukan dengan berjalan dari bukit Safa ke bukit Marwah sebanyak 7 kali perjalanan. Para jemaah yang melakukan prosesi ini disunahkan suci dari hadas kecil dan hadas besar.

5. Tahalul

Selepas melakukan Sai, rukun haji berikutnya adalah tahalul atau memotong rambut. Hal ini dilakukan sebagai penanda telah selesainya rangkaian rukun haji.

Untuk laki-laki, sekurang-kurangnya memotong rambut bagian kanan, tengah, atau kiri. Lalu, untuk perempuan, memotong rambut sekurang-kurangnya tiga helai rambut sepanjang jari.

6. Tertib

Lalu, rukun haji yang terakhir adalah tertib. Para jemaah sudah melaksanakan rukun haji secara berurutan, mulai dari ihram hingga tahallul. Dalam hal ini, jika salah satu rangkaian haji tersebut tidak dilakukan sesuai urutan, maka hajinya dianggap tidak sah.

Menunaikan ibadah haji hendaknya tidak ditunda-tunda sebab manusia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa jadi kita akan sakit, mengalami kemunduran secara ekonomi, atau malah sudah meninggal dunia. Hal-hal seperti ini bisa menghilangkan kesempatan ibadah haji yang sebenarnya sudah ada di tangan.

Hilangnya kesempatan itu tidak berarti Allah Swt. belum memanggil. Mereka yang memang sudah mampu hendaknya segera memenuhi panggilan sebagaimana sabda Rasulullah saw:

مَنْ أَرَادَ الْحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ فَإِنَّهُ قَدْ يَمْرَضُ الْمَرِيْضُ وَتَضِلُّ الضَالَّةُ وَتَعْرِضُ الْحَاجَةُ

Artinya: “Barangsiapa hendak melaksanakan haji, hendaklah segera ia lakukan, karena terkadang seseorang itu sakit, binatang (kendaraannya) hilang, dan adanya suatu hajat yang menghalangi.”

Dalam hadits lain, Rasulullah juga bersabda:

مَنْ لَمْ تَحْبِسْهُ حَاجَةٌ ظَاهِرَةٌ ، أَوْ مَرَضٌ حَابِسٌ ، أَوْ سُلْطَانٌ جَائِرٌ وَلَمْ يَحُجَّ ، فَلْيَمُتْ إِنْ شَاءَ يَهُودِيًّا وَإِنْ شَاءَ نَصْرَانِي

Artinya: “Siapa saja mati (sebelum mengerjakan haji) tanpa teralangi oleh kebutuhan yang nyata, penyakit yang menghambat ataupun penguasa yang dzalim, bolehlah ia memilih saja mati sebagai seorang Yahudi atau Nasrani”.

Kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa menunda-nunda ibadah haji padahal benar-benar sudah mampu dan semua keadaan memungkinkan merupakan hal yang sangat tidak baik.

Sidang Jum’at Rahimakumullah......

Bagaimana dengan umat yang belum mampu menunaikan ibadah haji karena memang tidak mampu atau miskin? Rasulullah saw pernah bersabda dalam suatu hadits yang diriwayatkan Abu Nu’aim al-Qudha’i dan Ibnu ‘Asakir dari Ibnu ‘Abbas, sebagaimana termaktub dalam Kitab Al-Jami’ush Shaghir, berbunyi:

الجمعة حج الفقراء

Artinya: “Shalat Jum’at adalah hajinya orang-orang miskin”.

Maksud hadits tersebut adalah shalat Jumat di masjid bagi orang-orang yang tidak mampu pahalanya sama dengan menunaikan ibadah haji.

Beberapa pihak menilai hadits di atas lemah. Tetapi, sebagai upaya mendorong orang-orang yang belum mampu menunaikan ibadah haji karena memang miskin, hadits ini sangat baik untuk diperhatikan agar dapat melaksanakan jamaah shalat Jumat di masjid secara istiqamah.

Allah Swt. pada saatnya akan benar-benar memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Makkah Al Mukarromah. Amin ... amin ... ya Rabbal Alamin...

Demikian isi khutbah pertama yang bisa kami sampaikan. Semoga dapat semakin meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt.

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ

أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Baca juga artikel terkait KHUTBAH JUMAT atau tulisan lainnya dari Sunardi

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sunardi
Penulis: Sunardi
Editor: Beni Jo