Menuju konten utama

Khutbah Jumat 9 Mei 2025 Bulan Zulkaidah: Semangat Ibadah Haji

Khutbah Jumat 9 Mei 2025 bulan Zulkaidah membahas tema tentang semangat ibadah haji 1446 Hijriah.

Khutbah Jumat 9 Mei 2025 Bulan Zulkaidah: Semangat Ibadah Haji
Khutbah Jumat di Masjid Raya Baiturrahman Aceh. AntaraFoto/Ampelsa
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Khutbah Jumat pada tanggal 9 Mei 2025 atau bulan Zulkaidah 1446 Hijriah membahas tema tentang semangat berangkat ibadah haji.

Khutbah Jumat kali ini bakal membahas terkait semangat berangkat ibadah haji. Tanggal yang sama bertepatan dengan bulan Zulkaidah atau bulan ke-11 tahun Hijriah.

Bulan Zulkaidah memang jadi salah satu bulan yang istimewa. Bahkan, bulan ini merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Empat bulan yang dimuliakan terdiri dari Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab.

Bulan Zulkaidah memiliki kedudukan yang luar biasa. Umat Islam dianjurkan memperbanyak amal dan tetap menjaga diri dari perbuatan dosa.

Tak hanya itu saja, ibadah selama bulan Zulkaidah bisa berlipat ganda pahalanya. Maka, ibadah seperti salat, puasa, zikir, membaca Al-Qur'an, dan sedekah perlu semakin ditingkatkan.

Khutbah Jumat Bulan Zulkaidah tentang Persiapan Haji dan Kurban

Ibadah haji sendiri merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Namun, perlu persiapan yang matang. Bahkan, menjalankan ibadah haji diperlukan niat dan komitmen serta syarat khusus bagi yang mampu mengerjakan.

Ketika bulan Zulkaidah usai, maka digantikan dengan bulan Zulhijah. Bulan Zulhijah juga tak kalah istimewa. Sebab, selain sebagai puncak haji, pada tanggal 10 Zulhijah berlangsung Hari Raya Idul Adha. Hari Raya Kurban menjadi hari raya terbesar kedua selepas Idul Fitri yang dirayakan oleh umat Islam.

Berikut merupakan contoh khutbah Jumat bulan Zulkaidah tentang semangat berangkat haji:

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ

أَمَّا بَعْدُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak kepada seluruh jemaah dan khusus kepada diri khatib sendiri untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt.

Mari senantiasa berjuang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa akan menguatkan komitmen untuk beribadah dan menyempurnakan keislaman dengan menunaikan semua rukun Islam.

Islam dibangun di atas lima bagian elemen sebagaimana hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ . رواه البخاري و مسلم

Artinya: "Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu persaksian bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji, dan puasa di bulan Ramadhan” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Di antara lima rukun Islam yang harus dikerjakan oleh umat Islam adalah ibadah haji. Ibadah ini memiliki kekhususan waktu dan tempat karena harus dikerjakan pada bulan Dzulhijjah di tanah suci Makkah.

Untuk bisa menjalankan, diperlukan niat dan komitmen kuat karena haji memerlukan waktu dan syarat-syarat khusus.

Di antaranya mampu mengerjakan. Artinya, ketika seseorang sudah mampu untuk melaksanakan, maka wajib hukumnya berhaji. Jika ia menghindar dari kewajiban dalam kondisi mampu mengerjakan, maka ia bisa berdosa.

Allah Swt. menegaskan dalam firman-Nya:

وَلِلهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah,” (QS Ali Imran 97).

Lalu apa yang disebut dengan syarat mampu dalam berhaji? Para ulama menjelaskan bahwa seseorang bisa disebut mampu melaksanakan ibadah haji ketika ia mampu secara fisik dan dalam kondisi jasmani dan rohani yang sehat.

Disebut mampu juga karena adanya sarana transportasi yang memadai untuk bisa digunakan pergi haji. Dalam konteks umat Islam yang berada di Indonesia, adanya sarana transportasi diartikan sebagai kemampuan membayar biaya, sarana, dan prasarana transportasi, termasuk akomodasi yang dibutuhkan selama menjalani proses haji.

Sisi kesehatan dan biaya sering menjadi permasalahan umum yang dihadapi umat Islam di Indonesia. Tak jarang faktor ini yang mengendurkan semangat umat Islam, khususnya yang jauh dari negara Makkah seperti Indonesia.

Ditambah lagi pada saat ini, antrean berangkat haji terus bertambah panjang dan lama hingga ada yang harus menunggu giliran berangkat sampai dengan puluhan tahun.

Lalu, apakah kendala-kendala ini akan semakin mengendurkan semangat untuk berhaji? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Kita terus menanamkan dan memupuk semangat dan niat berhaji sebagai upaya menyempurnakan keislaman.

Niat dan semangat harus terus dipupuk dengan cara tetap berikhtiar dan memenuhi syarat-syarat kemampuan. Setelah itu bertawakkal kepada Allah, Sang Maha Penentu Segalanya.

Niat menjadi hal yang penting, karena banyak orang yang mampu, baik secara fisik, kesempatan maupun biaya, namun belum tergerak untuk berhaji.

Selama kita mau berusaha, Allah akan memberi jalan kemudahan. Kita harus yakin mampu berhaji karena Allah Maha Tahu dan Maha Pemurah kepada hamba-Nya yang bertakwa. Ketakwaan menjadi jalan keluar dari masalah dan membukakan pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Allah berfirman:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu,” (QS At-Thalaq 1-2)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Untuk memupuk semangat berhaji, kita perlu terus mengingat keutamaan-keutamaan ibadah ini. Dalam hadits yang masyhur, Rasulullah saw menyebutkan balasan bagi mereka yang menunaikan ibadah haji.

عَنْ جَابِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ،

Artinya, “Dari sahabat Jabir bin Abdillah ra, dari Rasulullah saw, ia bersabda, ‘Haji mabrur tiada balasan lain kecuali surga.’ (HR Ahmad).

Saat berada di tanah suci untuk beribadah, Allah juga membuka pintu ampunan bagi para jamaah. Hal ini disebutkan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh HR Ibnu Majah:

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ عَن رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَإِنْ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ

Artinya, “Dari sahabat Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa, Allah memenuhi permintaan mereka dan jika mereka meminta ampun kepada-Nya, niscaya Allah mengampuni mereka”.

Tentunya masih banyak keutamaan-keutamaan ibadah haji yang tertulis dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi serta penjelasan para ulama. Perlu upaya sungguh sungguh untuk meraih melalui ikhtiar dan tawakal.

Ikhtiar dan tawakal seperti sepasang dayung yang kita gunakan untuk menyeberang sungai menggunakan perahu. Jika hanya satu dayung sebelah kanan atau kiri saja yang digunakan, maka otomatis perahu akan berputar-putar saja di tengah sungai.

Namun, jika kita menggunakan kedua-duanya dengan baik, maka perahu akan dapat berjalan dengan maksimal dan akan sesuai dengan arah dan tujuan kita.

Begitu juga ketika kita memiliki azam atau niat yang kuat untuk bisa berhaji. Maka kita tentu harus berusaha melalui berbagai cara seperti mengawali dengan mendaftarkan diri agar mendapatkan nomor porsi haji dan kemudian bertawakal kepada Allah Swt.

Allah berfirman:

فَإِذَاعَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS: Al Imran: 159)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan oleh Allah dan ditakdirkan untuk dapat pergi haji ke Baitullah. Mudah-mudahan Allah Swt membukakan pintu rezeki selebar-lebarnya mulai dari dibukakan pintu niat, kemampuan, kesehatan, dan kesempatan sehingga kita bisa menikmati ibadah yang menjadi mimpi dan keinginan semua umat Islam.

Khatib yakin, dari lubuk hati yang paling dalam, tidak ada umat Islam di dunia ini yang tidak ingin berhaji. Semua pasti memiliki keinginan untuk menyempurnakan keislamannya dengan berhaji. Keinginan ini tidak boleh pupus begitu saja namun harus kita pupuk terus. Yakinlah Allah akan memudahkannya.

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ۝٥ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ۝٦

Artinya: “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,” (QS; Al-Insyirah: 5-6)

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Jumat

Ilustrasi khutbah. (ANTARA/Sigid Kurniawan)

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Baca juga artikel terkait KHUTBAH JUMAT atau tulisan lainnya dari Sunardi

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sunardi
Penulis: Sunardi
Editor: Beni Jo