Menuju konten utama
Horizon

Kentalnya Imajinasi Persahabatan dalam Manga Jepang

Tema persahabatan seolah menjadi bagian tak terpisahkan dalam banyak cerita anime dan manga. Tapi ternyata, karakter cerita seperti itu bermakna mendalam.

Kentalnya Imajinasi Persahabatan dalam Manga Jepang
Ilustrasi Pertemanan dalam Cerita Anime. youtube/One piece
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Monkey D. Luffy, sang protagonis dalam manga One Piece, berani datang ke Perang Puncak di Marineford, meski dirinya baru bajak laut rookie (pemula). Di sana, ia dikelilingi oleh legenda dan monster yang jauh lebih kuat. Walau begitu, Dracule Mihawk, pendekar pedang nomor satu di dunia, tidak segan memandang tinggi pada Luffy.

Mihawk membatin, "Dia seperti itu bukan karena kekuatan atau jurus tertentu, melainkan karena dia mampu membuat orang-orang di sekitarnya satu per satu menjadi teman. Di lautan ini dia adalah orang yang memiliki kekuatan paling menakutkan!" (One Piece Chapter 561, "Luffy vs. Mihawk")

Dalam perjalanan mencari One Piece, Luffy bertransformasi jadi lebih kuat. Dari pulau ke pulau, seiring lawan yang makin hebat, kemampuannya terus meningkat. Namun, kekuatan utama Luffy bukanlah otot atau jurus, melainkan karakternya yang bisa menarik siapa pun jadi nakama. Dari manusia ikan, kurcaci, raksasa, bangsawan, hingga binatang, semuanya terikat dalam loyalitas terhadap Luffy, yang melampaui pertemanan biasa.

Pola cerita “persahabatan” seperti dalamOne Piece adalah hal lumrah dalam karya populer Jepang. Hubungan antarteman, solidaritas kelompok, dan loyalitas emosional telah menjadi salah satu fondasi utama, terutama manga dan anime shonen.

Persahabatan sebagai Formula Budaya Populer Jepang

Menurut Jason Thompson dalam Manga: The Complete Guide (2007), ada tiga pilar utama produk manga dari majalah Weekly Shonen Jump. Ketiganya adalah yūjō 'persahabatan', doryoku 'ketekukan', dan shōri 'kemenangan'; semuanya diterapkan secara masif di berbagai manga lintas generasi.

Dragon Ball (1984-1995), misalnya, menghadirkan protagonis Son Goku, yang bisa membuat semua musuhnya jadi sekutu, mulai dari Yamucha, Krillin, Piccolo, hingga Vegeta. Ada pula Naruto (1999-2014), yang berisi upaya pemenuhan obsesi Naruto Uzumaki membawa pulang sang sahabat sejati, Sasuke, kembali ke Konoha. Dari generasi terbaru, ada Dandadan (serial berjalan sejak 2021); duet Momo Ayase dan Okarun menjadi magnet bagi kawan-kawan lintas dimensi untuk menghadapi alien.

Ilustrasi Pertemanan dalam Cerita Anime

Ilustrasi Pertemanan dalam Cerita Anime. Foto/https://naruto-official.com/en

Nilai “persahabatan” tidak hanya muncul di manga, tetapi juga mewujud anime. Nilai yang sama pun diangkat dalam produk televisi live-action (tokusatsu), entah itu lewat Super Sentai atau Kamen Rider. Itu menunjukkan bahwa persahabatan di jagat fiksi Jepang bukan sekadar bumbu drama, melainkan mesin penggerak cerita yang fundamental.

Secara sosiologis, fenomena “kekuatan persahabatan” lintas medium tersebut selaras dengan analisis Anne Allison dalam Millennial Monsters (2006). Menurutnya, ada pergeseran cara pahlawan didefinisikan dalam budaya populer Jepang sejak kemunculan Himitsu Sentai Gorenger, serial pertama Super Sentai, pada 1975.

Super Sentai memunculkan pahlawan kolektif, bukan yang bersifat tunggal. Pahlawan tidak berdiri sendiri, melainkan berkelompok bersama tiga, lima, atau enam orang. Isinya pun bukan cuma laki-laki, tetapi juga perempuan. Mereka sering kali digambarkan sebagai kelompok yang bekerja sama dan kompak hingga berhasil mengalahkan musuh.

Penekanan pada kerja tim, menurut Allison, juga merupakan upaya memupuk ketangguhan spiritual yang bersifat transformatif, baik secara harfiah maupun kiasan. Dalam cerita Super Sentai, ketangguhan seperti itu mewujud melalui penggabungan kendaraan setiap anggota kelompok pahlawan menjadi satu robot raksasa yang lebih perkasa.

Logika ”transformasi karena kekuatan persahabatan” yang sama juga bekerja dalam manga shonen. Di dunia One Piece, misalnya, hal itu tecermin saat Luffy mampu melampaui batas fisik demi memikul harapan kawan-kawannya. Ketika berubah ke dalam mode Gear Fourth untuk pertama kalinya melawan Donquixote Doflamingo (Chapter 783), ia bahkan berpidato, "Kau sudah membuat temanku menangis dan membuat marah kawan-kawanku! Takkan kubiarkan seorang pun mati!".

Dalam logika manga shonen, “kekuatan persahabatan” bukan lagi sekadar sentimen emosional, melainkan variabel yang secara konkret meningkatkan daya sang protagonis untuk memenangi pertempuran.

Dari Trauma Perang ke Imajinasi Kebersamaan

Dominannya “kekuatan persahabatan” dalam berbagai produk budaya populer Jepang menunjukkan bahwa tema tersebut merupakan cerminan nilai sosial. Ia memiliki sejarah panjang dalam masyarakat Jepang, terutama sejak masa rekonstruksi pasca-Perang Dunia II.

Setelah kekalahan 1945, Jepang harus memulai segalanya dari nol. Sebagaimana dicetuskan oleh Frederik L. Schodt dalam Manga! Manga! The World of Japanese Comics (1997:61), periode awal pasca-perang dipenuhi kesusahan, kelaparan, anak-anak yatim piatu, hingga veteran yang kehilangan anggota tubuh.

Kaum muda bahkan tidak hanya lapar makanan, tetapi juga haus hiburan murah. Saat itulah, manga hadir mengisi kekosongan tersebut. Manga dianggap sebagai medium kreatif yang dapat diakses oleh siapa saja, berbeda dari novel atau film yang kala itu membutuhkan pendidikan, koneksi, serta uang.

Pada titik itulah, nama Osamu Tezuka meroket dengan karya-karyanya, terutama Astro Boy (Tetsuwan Atomu). Rafael Galvao de Almeida dan Deborah Yeo dalam artikel jurnal Arts and Humanities (2025) menyebut, Astro Boy merupakan simbol optimisme baru Jepang pasca-perang. Melalui manga tersebut, teknologi atom yang dahulu meluluhlantakkan Jepang, kini dicitrakan sebagai sesuatu yang dapat menuntun bangsanya menuju masa depan lebih baik, lewat tokoh Atom berhati hangat (atatakai kokoro).

Atom memang berjuang sendirian secara fisik. Namun, itu merupakan salah satu upayanya agar diterima di masyarakat manusia. Cita-citanya menciptakan harmoni agar manusia dan mesin hidup berdampingan.

Astro Boy adalah bagian dari manga-manga sezaman yang mencerminkan keinginan masyarakat Jepang untuk bangkit dari trauma perang dan membangun kembali hubungan sosial. Menurut Schodt (1997:61), tema-tema solidaritas, keluarga, kerja keras, dan harapan, tampak dominan dalam manga era tersebut.

Kolektivisme yang tecermin dalam manga Jepang pasca-Perang Dunia II bukanlah fenomena instan. Merujuk catatan Maria Rankin-Brown dan Morris Brown Jr. (2012), akar kolektivisme Jepang dapat ditelusuri jauh ke masa pembentukan kelas samurai pada 1192. Situasi itu makin menguat ketika Jepang menutup diri dari dunia luar sejak awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19. Dalam periode panjang tersebut, berkembanglah masyarakat yang sangat menekankan harmoni kelompok, penghormatan terhadap hierarki, serta kepatuhan sosial.

Dibandingkan masyarakat Barat yang menekankan individualitas dan ekspresi diri, masyarakat Jepang berkembang sebagai komunitas dengan struktur sosial ketat demi menjaga keteraturan hidup bersama. Nilai-nilai pengendalian diri, konformitas, dan persetujuan kelompok, perlahan menjadi bagian dari identitas sosial Jepang. Alhasil, identitas individu sering kali melebur ke dalam identitas kelompok atau nasional.

Pandangan semacam itu kemudian melahirkan pepatah terkenal Jepang “Deru kugi wa utareru (paku yang menonjol akan dipukul rata)." Individu yang terlalu berbeda atau menonjol kerap dianggap mengganggu harmoni sosial.

Rankin-Brown dan Brown juga mencatat adanya konsep gaijin (“orang luar”), yang merefleksikan kuatnya batas antara kelompok dalam (in-group) dan kelompok luar (out-group) dalam masyarakat Jepang. Loyalitas kelompok memang menguatkan solidaritas internal, tetapi juga dapat melahirkan keterasingan bagi mereka yang tidak mampu menyesuaikan diri. Dalam kondisi semacam itu, banyak orang merasa harus menyembunyikan identitas personalnya demi diterima lingkungan sosial.

Ilustrasi Pertemanan dalam Cerita Anime

Ilustrasi Pertemanan dalam Cerita Anime. youtube/One piece

Manga dan Anime sebagai Alternatif Terapeutik

Di tengah struktur sosial yang menekan itulah manga, anime, dan tokusatsu, berkembang sebagai ruang imajinasi alternatif. Jika struktur sosial sering menuntut penyeragaman, dunia fiksi Jepang justru dipenuhi kelompok-kelompok pertemanan yang menerima anggotanya apa adanya.

Di dunia manga shonen, seseorang tidak harus menjadi seragam untuk dapat diterima dalam kelompok. Misalnya, Kelompok Topi Jerami yang diinisiasi Luffy terdiri atas karakter-karakter yang dalam dunia nyata mungkin dianggap “tidak normal”. Ada pendekar pedang eksentrik, koki yang aslinya pangeran buangan (Sanji), rusa yang diusir dari kawanannya karena berhidung biru (Chopper), manusia ikan yang dipandang jijik oleh penguasa dunia (Jinbei), seorang buronan berjuluk anak iblis (Nico Robin), hingga tukang bohong (Usopp).

Dalam film-film karya Hayao Miyazaki, seperti Spirited Away, Kiki’s Delivery Service, dan Howl’s Moving Castle, relasi dengan “orang asing” juga sering digambarkan sebagai pengalaman yang membebaskan tokoh utama dari kekakuan batas-batas identitas sosial.

Kemampuan tokoh manga atau anime untuk melepaskan diri dari identitas kaku merupakan salah satu hal yang dicari oleh orang-orang yang merasa terasing di dunia nyata. Tidak mengherankan bila dunia fiksi semacam itu kemudian memiliki daya tarik besar bagi individu yang merasa tertekan oleh tuntutan sosial masyarakat Jepang sehari-hari.

Rebecca Weiss, dalam “Japan’s Imaginary Obsession: How the Unreal Engendered a Subculture” (2014), mencatat bahwa di Jepang, seseorang yang tidak mampu memenuhi "cetakan" masyarakat arus utama sering kali dicap sebagai antisosial. Orang tersebut dianggap lebih mengutamakan individualitas dibanding harmoni kelompok.

Dalam konteks “tersisihkan” itulah subkultur otaku berkembang. Namun, Weiss menegaskan bahwa para otaku bukanlah individu yang gagal bersosialisasi. Bagi mereka, fiksi adalah semacam "bentuk perlindungan murni". Mereka membangun komunitas alternatif melalui kesamaan obsesi, menemukan kehangatan nakama yang tidak mereka dapatkan dalam struktur formal masyarakat.

Akhirnya, dunia manga dan anime tidak lagi sebatas hiburan populer. Ia juga menjadi medium bagi penggemar untuk membayangkan bentuk hubungan sosial yang lebih hangat dan inklusif.

Melalui risetnya, Kashin Sugishita dan Naoki Masuda (2023) menemukan, struktur jaringan sosial dalam manga shonen selama beberapa dekade terakhir berevolusi menjadi “jaringan yang lebih padat dan kurang terpusat pada satu protagonis saja”. Menurut mereka, perubahan tersebut bisa jadi mencerminkan masyarakat modern yang makin menekankan keberagaman dan kerja tim.

Terkait otaku yang menemukan “bentuk perlindungan murni” saat membaca manga, temuan Hajek dan König (2024) layak dicermati. Penelitiannya menunjukkan bahwa keterlibatan dengan anime dan manga dapat membantu seseorang menghadapi stres kehidupan sehari-hari. Tema-tema manga seperti ketangguhan, persahabatan, dan pertumbuhan pribadi, dapat memberi pembaca rasa optimisme sekaligus makna hidup yang lebih kuat.

Konsep nakama dan pentingnya “kekuatan persahabatan” dalam manga dan anime menawarkan bentuk kebersamaan yang berbeda dari kehidupan sosial Jepang sehari-hari. Kolektivisme dunia nyata sering menuntut individu melebur ke dalam kelompok. Di sisi lain, kelompok nakama dalam manga shonen justru dibangun dari keberagaman karakter yang saling menerima kelemahan masing-masing. Persahabatan tidak lahir dari kewajiban sosial, melainkan dari pilihan personal dan solidaritas emosional.

Karena itu, ketika mengikuti perjalanan Luffy, Naruto, atau tokoh manga lainnya, para penggemar sebenarnya tidak hanya menikmati cerita pertarungan. Mereka sedang membayangkan dunia tempat seseorang tetap dapat diterima meski menjadi “paku yang menonjol” dan berbeda dari yang lain. Mereka mengimajinasikan sebuah ruang, tempat orang-orang yang tersisih masih dapat menemukan “keluarga” baru: dunia ketika hubungan antarmanusia menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi hidup keras nan mengasingkan.

Baca juga artikel terkait MANGA atau tulisan lainnya dari Fitra Firdaus

tirto.id - Horizon
Penulis: Fitra Firdaus
Editor: Fadli Nasrudin