tirto.id - Nilai tukar rupiah pada Kamis (30/4) pagi turun 23 poin atau sekitar 0,13 persen ke level Rp17.349 per dolar AS. Apa penyebab melemahnya rupiah dan bagaimana dampaknya jika tren penurunan berlanjut?
Dibuka menguat pada Senin (27/4) pagi di angka Rp17.211 per dolar AS, rupiah terus bergerak turun hingga ditutup di angka Rp17.353 pada hari ini.
Saat terjadi krisis finansial Asia pada Juni 1998, rupiah anjlok hingga menyentuh angka Rp16.800 per dolar AS. Angka tersebut menjadi patokan nilai tukar rupiah terendah dalam sejarah.
Namun memasuki tahun 2026, rupiah justru mencatatkan sejarah baru dengan nilai tukar melampaui Rp17.000 per dolar AS.
Pemerintah Indonesia melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan jika pelemahan rupiah tidak sejalan dengan melemahnya ekonomi dalam negeri.
"Tapi untuk saya sih ini [pelemahan rupiah] bukan tanda pemburukan atau dipicu oleh memburuknya ekonomi domestik. Dibanding negara lain, kita masih kuat. Bahkan dibanding Malaysia, Thailand dan lain-lain masih kuat,” kata Purbaya dikutip Antara News, 24 April 2026.
Apa Penyebab Rupiah Melemah?
Media asing The Straits Times pada 16 April kemarin turut menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah. Apalagi rupiah tidak hanya melemah terhadap dolar AS, namun juga melemah terhadap dolar Singapura.
Laporan dari S&P Global Ratings pada 15 April menyebut bahwa profil kredit Indonesia termasuk yang paling rentan terhadap dampak konflik berkepanjangan di Timur Tengah, terutama yang berkaitan dengan ketegangan Iran, yang diprediksi menjadi salah satu penyebab rupiah melemah.
Kerentanan ini terutama berasal dari struktur ekonomi Indonesia yang meskipun merupakan produsen minyak, tetap berstatus sebagai importir bersih energi.
Ketika konflik mendorong kenaikan harga minyak global, terutama akibat gangguan distribusi di jalur Selat Hormuz, biaya impor energi dan subsidi bahan bakar Indonesia ikut melonjak.
Hal ini pada akhirnya memperburuk neraca perdagangan eksternal serta membebani posisi fiskal negara, karena pemerintah harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk menjaga stabilitas harga domestik.
Selain tekanan dari sisi energi, dinamika pasar keuangan global juga memperburuk kondisi. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman seperti dolar AS.
Dampaknya, Indonesia mengalami arus keluar modal (capital outflows) dari pasar obligasi dan saham. Data resmi menunjukkan bahwa investor asing telah menjual bersih sekitar $202 juta obligasi pemerintah pada Januari.
Situasi ini diperparah oleh aksi jual besar di pasar saham setelah MSCI menyoroti kekhawatiran terkait transparansi perdagangan dan kepemilikan, yang memicu hilangnya nilai pasar hingga sekitar $80 miliar.
Tekanan ini turut melemahkan nilai tukar rupiah, yang menurut pelaku pasar seperti Saxo, telah berada dalam tren penurunan yang cukup panjang.
Menurut Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede, pergerakan rupiah ini tidak lepas dari sikap hati-hati investor yang sedang melakukan penyesuaian portofolio menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung menahan atau memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, terutama ketika arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat belum sepenuhnya pasti.
"Sentimen kehati-hatian juga tecermin dari tren kenaikan imbal hasil US Treasury dan Surat Berharga Negara (SBN)," kata Josua dikutip Antara News, Kamis (30/4/2026).
Hasil pertemuan FOMC sendiri menunjukkan bahwa Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen, namun keputusan tersebut disertai perbedaan pandangan internal.
Salah satu anggota, Stephen Miran, bahkan mendukung pemangkasan suku bunga, sedangkan anggota lain justru tidak setuju memberikan sinyal pelonggaran kebijakan.
Kondisi ini membuat pasar menilai sikap The Fed cenderung lebih ketat, apalagi mereka juga menegaskan akan terus memantau dampak ekonomi dari konflik geopolitik di Timur Tengah.
"Pasar menilai pernyataan tersebut lebih hawkish, yang mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury serta penguatan US Dollar Index pada Rabu (29/4/2026)," papar Josua lagi.
"Kekhawatiran terhadap inflasi juga meningkat sejalan dengan tren kenaikan harga minyak," pungkasnya.
Apa Dampaknya Jika Rupiah Terus Turun?
Berikut dampak jika rupiah terus melemah:
1. Kenaikan harga barang (inflasi)
Pelemahan rupiah akan membuat biaya impor menjadi lebih mahal. Akibatnya, harga-harga di dalam negeri berpotensi naik (inflasi), terutama untuk produk yang memiliki komponen impor tinggi seperti BBM, elektronik, dan pangan tertentu.2. Beban pemerintah meningkat
Ketika rupiah melemah, biaya subsidi energi bisa membengkak karena harga minyak dunia dibayar dalam dolar AS. Selain itu, pembayaran utang luar negeri pemerintah menjadi lebih mahal dalam rupiah.Hal ini bisa menekan anggaran negara dan membatasi ruang fiskal untuk belanja produktif seperti infrastruktur atau bantuan sosial.
3. Nilai saham turun
Pelemahan rupiah biasanya diikuti oleh keluarnya modal asing (capital outflow), karena investor global cenderung memindahkan dana ke aset yang lebih aman seperti dolar AS.Ini bisa menekan pasar saham dan obligasi domestik. Jika kondisi ini berlangsung lama, kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia bisa ikut menurun, yang pada akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi.
4. Ancaman PHK
Penurunan nilai rupiah membuat peningkatkan biaya operasional dan risiko keuangan. Margin keuntungan bisa tergerus, bahkan berpotensi memicu kenaikan harga jual atau pengurangan tenaga kerja (PHK).Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id







































