tirto.id - Juru bicara (Jubir) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, memastikan bahwa pemerintah tidak melakukan pengetatan tehadap Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi. Pernyataan ini menyusul kekosongan BBM non-subsidi jenis Ron 92 dan Ron 95 di sejumlah SPBU swasta.
"Tidak ada sama sekali (pengetatan BBM non-subsidi). Gak ada pengetatan dan lain-lain ya, memang balik lagi ke behaviornya konsumen aja," kata Anggia saat ditemui di Gedung Dirjen Migas, Jakarta Selatan, Selasa (9/9/2025).
Anggia mengatakan bahwa kekosongan Ron 92 dan Ron 95 di SPBU non-Pertamina itu karena adanya pergerakan konsumen yang lebih banyak menggunakan BBM non-subsidi. Jadi, tidak ada pengetatan apapun yang dilakukan pemerintah.
"Seperti yang disampaikan Pak Wamen ya, shifting konsumen bergeser ke BBM non-subsidi. Which is bagus, beban subsidi berkurang kan dalam hal ini untuk pemerintah, bagus banget," katanya.
Jubir Kementerian ESDM itu kemudian menegaskan bahwa tidak ada tambahan impor yang dilakukan oleh pemerintah. SPBU swasta juga telah mendapat kuota tambahan 10 persen sejak tahun lalu, sehingga jumlah tersebut menjadi 110 persen.
"Tidak ada tambahan (impor). Kuota impor kan sudah ditambahkan 10 persen dari tahun lalu, artinya (SPBU swasta) sudah 110 persen."
Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) ESDM Laode Sulaeman, mengatakan bahwa pihaknya akan memanggil Pertamina serta pengelola SPBU swasta seperti Shell, BP, dan Vivo, pada hari ini.
Pertemuan Kementerian ESDM dengan perusahaan swasta tersebut akan membahas sinkronisasi pasokan bahan bakar minyak (BBM) mengenai laporan kekosongan stok di sejumlah SPBU non-Pertamina.
Menurut Laode, rapat koordinasi ini digelar atas arahan langsung dari Menteri ESDM. Pertemuan itu juga akan menjadi forum sinkronisasi volume dan spesifikasi BBM antara Pertamina dan badan usaha swasta.
“Ya kita bahas bagaimana agar, kan Pak Wamen ESDM sudah bilang perlu dilakukan sinkronisasi. Sinkronisasi itu adalah antara Pertamina sama SPBU swasta. Itu bahasanya gitu. Jadi sinkronisasi itu apa? Volume, kemudian spek disinkronkan besok. Kan sinkronisasi sama Pertamina. Jadi Pertamina menyiapkannya," kata Laode saat ditemui di Kementerian ESDM, Senin (8/9/2025).
Penulis: Natania Longdong
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































