tirto.id - Sebuah gelondongan kayu dengan ukuran diameter mencapai satu meter tergeletak di perkampungan yang hilang di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan. Masyarakat setempat tak pernah membayangkan bahwa kayu raksasa, yang tampak sebagai hasil potongan manusia, dapat terbawa hanyut sampai ke permukiman mereka, yang kini sebagian besar rata dengan tanah.
Derasnya banjir, yang disertai dengan campuran lumpur, menjadikan kayu berukuran jumbo tersebut masuk ke permukiman manusia dan menjadi salah satu penyebab rusaknya rumah dan fasilitas publik di tengah bencana alam.
Fenomena hanyutnya kayu-kayu berukuran gigantik dalam kejadian banjir di Tapanuli Selatan baru terjadi pertama kali. Seorang warga, Nurbaeti, menceritakan bahwa banjir di wilayah Garoga merupakan peristiwa alam biasa yang terjadi di setiap tahun saat musim hujan tiba.
"Di tempat ini banjir biasa terjadi, tapi biasanya hanya segini," kata Nurbaeti memperagakan tinggi banjir sembari menunjukkan betisnya pada Sabtu (6/12/2025).
Dia menceritakan bahwa sebelum banjir tiba, di Garoga telah terjadi hujan deras dalam kurun waktu sepekan berkelanjutan. Nurbaeti telah memprediksi bahwa banjir akan terjadi, sehingga dirinya tetap beraktivitas seperti biasa, yaitu berdagang martabak di pasar kecamatan.
"Waktu itu saya sudah di pasar, dan banjirnya terjadi dua kali. Banjir pertama ya seperti biasa, tapi kemudian ada susulan yang menghancurkan rumah-rumah di sini," ujarnya.

Nurbaeti bersyukur tidak ada anggota keluarganya yang menjadi korban akibat air bah dahsyat itu. Dia menceritakan saat banjir terjadi pada Selasa pukul 08.00, suami dan anak-anaknya berhasil lari ke arah jembatan yang tak jauh dari rumah mereka.
Jembatan itu menjadi penghubung antara Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, namun jembatan kini telah terputus karena derasnya aliran sungai.
"Alhamdulillah anak-anak bisa lari ke jembatan," terangnya.
Cerita serupa juga disampaikan oleh Ida Rohana Simamora yang menyaksikan secara langsung ribuan kubik kayu mengalir bersama derasnya banjir. Dia menceritakan tidak hanya gelondongan kayu yang ikut hanyut, namun juga batang sawit yang berasal dari pegunungan di sekitar Garoga. Ida mengungkap bahwa selama kurun waktu lima tahun telah terjadi alih fungsi lahan hutan di sekitar pegunungan Garoga menjadi kebun sawit.
"Itu dari pegunungan kayunya longsor dari lahan sawit," jelasnya.
Akibat banjir tersebut, dia harus terpisah dari anak perempuannya, akibat terseret arus banjir. Beruntung, putrinya berhasil selamat dan mereka berusaha menyelamatkan sisa puing-puing rumah yang telah rata menjadi tanah.
"Besar sekali airnya dibawa kami ke sana, ini lepas, anak gadisku pun lepas," ungkapnya.

Kini, setelah lebih dari 10 hari pasca banjir dahsyat, tumpukan gelondongan kayu menumpuk di banyak tempat di wilayah seperti Sibolga, Tapanuli Tengah, hingga Tapanuli Selatan. Kayu-kayu tersebut berserakan di sepanjang aliran sungai hingga beberapa di antaranya menancap di rumah warga.
Dari pantauan Tirto, sejumlah masyarakat berusaha mengambil manfaat dari gelondongan kayu yang berserakan dengan memotongnya menggunakan gergaji mesin. Kayu-kayu, yang sebelumnya sempat menghalangi arus lalu lintas karena terseret arus, kini perlahan mulai disingkirkan atau dibawa pergi untuk dimanfaatkan.
Komandan Respon Penyelamatan dan Kedaruratan Baznas Tanggap Bencana, Taufiq Hidayat, mengungkapkan bahwa kayu-kayu tersebut sebagian besar merupakan hasil penebangan yang menjadi salah satu penyebab banjir menjadi deras.
Menurutnya, kayu-kayu hasil potongan manusia itu menghambat laju air sehingga menumpuk di pegunungan, dan kemudian tidak tertahan, hingga tumpah ruah menuju permukiman warga yang ada di bagian bawah.
"Lajunya air terhambat, bisa jadi karena banyaknya pohon-pohon yang sudah tumbang, kemudian terseret arus, kemudian tersangkut, dan membentuk semacam bendungan, karena curah hujan tinggi lepaslah air itu karena tidak kuat menahan," jelasnya.
Rusaknya Hutan dan Daerah Aliran Sungai Jadi Penyebab Gelondongan Kayu Terseret Banjir
Direktur Eksekutif Daerah Walhi Sumatra Utara, Riandra Purba menyampaikan penyebab berkubik-kubik kayu asal hutan bisa masuk ke rumah warga akibat rusaknya alam. Dia menyebut sejumlah penyebab seperti PLTA Batang Toru, aktivitas PT Toba Lestari, hingga tambang emas PT Agincourt Resources.
Fenomena hanyutnya kayu gelondongan berukuran besar tidak hanya terjadi di Sumatra Utara, namun juga dua provinsi lainnya yaitu Aceh dan Sumatra Barat. Ketiga provinsi tersebut memiliki kesamaan penyebab banjir; selain karena faktor cuaca dan kerusakan hutan, yaitu ambyarnya daerah aliran sungai yang memiliki hulu di bentang hutan Bukit Barisan.

"Semua aktivitas eksploitasi dilegalisasi oleh pemerintah melalui proses pelepasan kawasan hutan untuk izin melalui revisi tata ruang,” kata Riandra dalam keterangan pers.
Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace, Arie Rompas menyampaikan bahwa hanyutnya kayu-kayu hutan dalam peristiwa banjir di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh semuanya murni akibat ulah manusia dan ketiadaan mitigasi bencana yang memadai. Padahal Siklon Tropis Senyar telah diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan diberitahukan akan membawa dampak terhadap hujan deras yang berpotensi pada banjir.
"Ini akibat aktivitas alih fungsi lahan dan deforestasi yang sudah sejak lama dan dipicu oleh badai Siklon Tropis Senyar yang membawa curah hujan dengan volume besar. Ini yang kami sebut sebagai krisis iklim," kata Arie Rompas saat dihubungi Tirto, Minggu (7/12/2025).
Dia mengingatkan bahwa dalam fenomena yang terjadi di tiga provinsi di Sumatra tersebut masih berpotensi dialami oleh wilayah lain di Indonesia. Hal itu dikarenakan wilayah Indonesia yang dilintasi garis khatulistiwa dan Siklon Tropis Senyar masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
"Sebenarnya ini fase La Niña dan musim penghujan baru mau mulai, nah kalau ini normal pasti masih ada cuaca hujan yang akan turun dalam dua bulan ke depan," ungkapnya.
Ketua Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Avianto Amri menuturkan bahwa fenomena alam Siklon Senyar tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga negara lain seperti Thailand. Menurutnya, di wilayah tersebut, tidak terjadi peristiwa hanyutnya kayu gelondongan seperti di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Dia juga membandingkan dengan fenomena bencana alam serupa yang sempat terjadi di Indonesia, seperti Badai Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kerusakan hanya pada materi bangunan milik warga dan publik namun tak ada hantaman kayu hutan walaupun secara skala bencana sangat tinggi.

"Saat Badai Seroja yang berdampak di NTT, kerusakan yang terjadi lebih ke atap rumah yang terbawa angin dan bukan karena hantaman kayu yang terbawa oleh banjir," jelasnya.
Oleh karenanya, dia mengimbau pemerintah untuk belajar dari peristiwa tiga provinsi di Sumatra dan melakukan rencana mitigasi karena kejadian serupa berpotensi terjadi kembali baik di tempat yang sama atau lainnya.
Bencana alam banjir, disertai tanah longsor berskala besar, berpotensi kembali terjadi di Indonesia, karena tingginya angka deforestasi dan alih guna lahan, di banyak tempat seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
"Kemungkinan siklon terjadi akan tetap selalu ada, sehingga kita harus pastikan peringatan dini bisa diterima dan dipahami oleh pemerintah dan masyarakat setempat untuk ditindaklanjuti," ujarnya.
Saat ini pemerintah bersama Polri telah melakukan penyelidikan atas dugaan penebangan liar yang menjadi musabab atas banjir bandang di Sumatra. Saat ini, sudah ada 12 perusahaan yang sedang diperiksa pemerintah atas dugaan penyalahgunaan hutan dan menjadi penyebab atas longsor dan banjir.
Penulis: Irfan Amin
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id


































