Menuju konten utama

Kasus Siswi di Karo: Bagaimana Keracunan Makanan Picu Amnesia?

Kasus siswa di Karo membuktikan racun makanan bisa menjalar ke saraf. Usai muntah hebat, pasokan darah berkurang dan picu risiko kerusakan otak.

Kasus Siswi di Karo: Bagaimana Keracunan Makanan Picu Amnesia?
Ilustrasi pemeriksaan saraf akibat kerusakan otak. foto/IStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tragedi keracunan massal Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 260 pelajar di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, menyisakan kisah pilu mendalam bagi keluarga FY (16). Sebulan berlalu, siswi SMK tersebut kini harus berjuang melawan kejang-kejang hingga kehilangan ingatan (amnesia).

Fenomena ini memicu pertanyaan besar: bagaimana bisa bakteri dari makanan merusak fungsi saraf dan ingatan seseorang?

FY mengalami kejang saat hendak menjalani pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik Medan, Selasa (8/9/2026). Kondisi tersebut membuat keluarga mempertanyakan kemungkinan hubungan antara keracunan yang dialami dengan gangguan pada fungsi otak.

Ibu FY, Elvinus Lusiana br Sitanggang, pun mengungkap korban mengalami gangguan ingatan setelah mengalami keracunan pada Kamis (13/8/2026). Elvinus mengatakan anaknya sempat tidak mengenali anggota keluarga terdekat ketika menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan.

“Hilang ingatannya. Yang terdekat saja dulu, seperti adiknya, kakaknya, itu kan satu rumah, itu tidak diingatnya,” ujar Elvinus.

Setelah kejadian tersebut, FY telah menjalani pemeriksaan di lima rumah sakit. Pemeriksaan terbaru dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan.

Elvinus mengatakan kondisi anaknya belum sepenuhnya pulih. Selain mengalami gangguan ingatan, FY kembali mengalami kejang ketika hendak menjalani pemeriksaan EEG di rumah sakit tersebut.

“Kami kemari mau kasih EEG. Tapi tadi anak saya tiba-tiba kejang. Terus, kata dokternya tidak ada penyakitnya. Tapi kenapa bisa anakku seperti itu? Jadi aku tidak puas lah sama hasil yang disampaikan dokter,” ujar Elvinus.

Dokter kemudian meminta keluarga merekam apabila FY kembali mengalami kejang ketika berada di rumah. Rekaman tersebut nantinya dapat digunakan untuk membantu dokter mengetahui kondisi yang dialami pasien.

“Kata dokter, sewaktu nanti dia kejang, dia kan ada waktunya observasi di rumah. Sewaktu dia nanti kejang di rumah, diambil video, kata dokternya. Jadi biar tahu dokternya memberikan obat,” ujar Elvinus.

Keracunan Berat Bisa Mengganggu Fungsi Otak

dr Ferry Kusmalingga

dr. Ferry Kusmalingga. (FOTO/Dok. Pribadi)

Secara medis, hubungan antara keracunan makanan berat dengan gangguan sistem saraf bukanlah hal yang mustahil. Dokter umum sekaligus dokter PJK3, dr. Ferry Kusmalingga, menjelaskan bahwa kejang dan amnesia merupakan bentuk manifestasi klinis dari adanya gangguan serius yang menjalar di dalam tubuh.

“Yang harus dipahami, kejang itu adalah bentuk manifestasi klinis. Simpelnya pasti ada yang menyebabkan kejang tersebut,” kata Ferry kepada Tirto, Rabu (9/9/2026).

Menurut Ferry, dokter dapat mencurigai adanya gangguan pada otak atau sistem saraf ketika terdapat perubahan fungsi neurologis yang tidak sesuai dengan kondisi normal pasien.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain penurunan kesadaran atau sulit dibangunkan, kebingungan dan disorientasi, perubahan perilaku secara drastis atau delirium, hingga ketidakmampuan mengenali orang terdekat.

Gangguan memori yang baru muncul, terutama ketidakmampuan mengingat kejadian setelah seseorang mengalami sakit, juga termasuk tanda yang perlu diperhatikan.

Tanda tanda adanya gangguan neurologis dapat dikenali bila terjadi gangguan bicara, kelemahan atau mati rasa pada satu sisi tubuh, gangguan berjalan dan koordinasi, dan kejang. Selain itu, perubahan respons pupil terhadap cahaya, sakit kepala berat yang disertai muntah atau penurunan kesadaran, serta gangguan penglihatan baru.

Ferry mengatakan, kondisi sistemik yang terjadi ketika seseorang mengalami keracunan berat pun dapat memengaruhi fungsi otak.

“Sepsis, syok, dehidrasi, kurang elektrolit apakah bisa menyebabkan gangguan memori? Bisa. Bahkan mekanismenya itu cukup penting. Otak manusia itu sangat sensitif terhadap gangguan suplai oksigen, glukosa, aliran darah, dan keseimbangan kimia tubuh,” kata Ferry.

Pada keracunan makanan yang menyebabkan muntah dan diare berat, misalnya, tubuh dapat kehilangan banyak cairan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan dehidrasi dan penurunan volume darah.

“Misal nih pasiennya muntah, diare berat lalu dehidrasi, volume darah turun, tekanan darah turun, aliran darah ke otak berkurang, fungsi otak terganggu,” jelasnya.

Lantas, bagaimana dokter membedakan apakah gangguan memori atau kejang setelah keracunan disebabkan oleh infeksi, gangguan metabolik, atau masalah pada sistem saraf?

Ferry menjelaskan, dokter tidak biasanya mengandalkan satu jenis pemeriksaan. Penentuan penyebab dilakukan dengan menggabungkan kronologi kejadian, pemeriksaan neurologis, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan otak, serta informasi mengenai kemungkinan infeksi atau paparan toksin.

Menurut Ferry, secara sederhana dokter perlu menjawab tiga pertanyaan utama: apakah otak pasien memang mengalami gangguan; apa mekanisme yang menyebabkannya; dan apakah gangguan tersebut masih dapat pulih atau sudah menimbulkan cedera jaringan otak.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pemeriksaan lanjutan dapat meliputi CT scan atau MRI otak, EEG, pemeriksaan darah, hingga pungsi lumbal pada kondisi tertentu. Namun, pemeriksaan tidak semuanya harus dilakukan kepada setiap pasien. Jenis pemeriksaan bergantung pada gejala dan kronologi penyakit.

Pada pasien yang mengalami keracunan makanan, langkah awal dapat diarahkan untuk mencari penyebab infeksi di saluran cerna. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui kultur feses atau panel PCR/multiplex untuk berbagai patogen saluran pencernaan.

Jika terdapat kecurigaan terhadap Shiga toxin-producing Escherichia coli (STEC), dokter dapat melakukan pemeriksaan toksin Shiga, termasuk Stx1 dan Stx2. Pemeriksaan terhadap bakteri seperti Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, dan Vibrio juga dapat dilakukan sesuai kondisi epidemiologis.

Pemeriksaan virus atau parasit dapat dipertimbangkan bila gejalanya mengarah ke infeksi tersebut. Sementara jika sudah terdapat tanda infeksi sistemik, kultur darah dapat dilakukan untuk mencari kemungkinan infeksi yang menyebar ke dalam aliran darah.

“Pertama cari dulu penyebab infeksi di saluran cerna,” kata Ferry.

Menurut Ferry, pencarian penyebab infeksi penting, tetapi tidak boleh berhenti pada pertanyaan mengenai bakteri atau patogen penyebab keracunan. Dokter juga perlu mencari komplikasi sistemik yang mungkin mengganggu fungsi otak.

Pemeriksaan berikutnya diarahkan untuk mengetahui apakah keracunan telah menyebabkan gangguan pada kondisi internal tubuh yang kemudian berdampak pada otak.

Pemeriksaan tersebut antara lain gula darah, kadar natrium, kalium, kalsium, dan magnesium, serta fungsi ginjal melalui ureum dan kreatinin. Dokter juga dapat memeriksa fungsi hati, analisis gas darah dan laktat pada pasien dengan kondisi berat, serta darah lengkap termasuk hemoglobin dan trombosit.

“Ini sama pentingnya dengan mencari bakteri juga,” ujar Ferry.

Pada kondisi tertentu, apusan darah tepi juga dapat dilakukan jika dokter mencurigai adanya mikroangiopati atau hemolytic uremic syndrome (HUS).

Khusus apabila ditemukan infeksi STEC, termasuk E. coli O157 atau jenis STEC lainnya, penurunan hemoglobin dan trombosit serta peningkatan kreatinin perlu dipantau. Hal ini karena HUS dapat berkembang setelah infeksi dan menyebabkan komplikasi serius.

Selain pemeriksaan laboratorium, tekanan darah dan oksigenasi pasien juga perlu dipantau. Sebab, sebagaimana dijelaskan Ferry sebelumnya, tekanan darah yang terlalu rendah atau kekurangan oksigen dapat mengganggu suplai ke otak.

Apabila pemeriksaan menunjukkan adanya gangguan neurologis, pemeriksaan kemudian diarahkan lebih spesifik ke sistem saraf.

Pemeriksaan neurologis dapat dilakukan secara serial untuk melihat perubahan kondisi pasien dari waktu ke waktu. CT scan kepala dapat dipertimbangkan dalam kondisi akut, sedangkan MRI otak dapat digunakan bila diperlukan untuk melihat kemungkinan cedera, infeksi, atau gangguan aliran darah di otak.

EEG juga memiliki peran terutama ketika pasien mengalami kejang atau perubahan kesadaran yang belum dapat dijelaskan.

“EEG bila ada kejang atau perubahan kesadaran yang tidak terjelaskan,” kata Ferry.

Pada kondisi tertentu, dokter dapat melakukan pungsi lumbal untuk mengambil cairan serebrospinal atau cerebrospinal fluid (CSF). Pemeriksaan ini dapat dipertimbangkan jika terdapat kecurigaan terhadap meningitis atau ensefalitis.

Analisis CSF kemudian dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR, kultur, atau serologi sesuai patogen yang dicurigai.

Sepsis hingga Gangguan Elektrolit

Ferry menjelaskan kondisi tersebut dapat terjadi pula pada pasien yang mengalami sepsis. Selain menyebabkan tekanan darah turun, sepsis dapat memicu respons inflamasi sistemik dan gangguan mikrosirkulasi.

Kondisi tersebut dikenal sebagai sepsis-associated encephalopathy, yakni gangguan fungsi otak yang muncul dalam konteks sepsis tanpa harus disebabkan oleh infeksi langsung pada otak.

Karena itu, kasus gangguan neurologis setelah keracunan merupakan kondisi yang kompleks. Gangguan elektrolit yang menyertai muntah, diare, dehidrasi, atau kondisi sistemik lainnya juga dapat memengaruhi otak.

Hiponatremia atau kadar natrium yang terlalu rendah dalam kondisi berat, misalnya, dapat menyebabkan kebingungan, kejang, hingga penurunan kesadaran. Sebaliknya, hipernatremia berat juga dapat menimbulkan gangguan kesadaran dan kejang.

Sementara gangguan kadar kalium lebih berbahaya terhadap jantung dan otot, meskipun gangguan sistemik yang menyertainya dapat ikut memengaruhi fungsi otak.

Kadar gula darah yang terlalu rendah atau hipoglikemia juga menjadi kondisi yang perlu diwaspadai. Dalam keadaan berat dan berlangsung lama, hipoglikemia dapat menyebabkan kejang, koma, bahkan cedera otak.

“Hipoglikemia bisa menyebabkan kejang, koma, bahkan cedera otak bila berat dan berkepanjangan,” kata Ferry.

Gangguan keseimbangan asam-basa yang berat juga dapat menyebabkan delirium atau penurunan kesadaran.

Apakah Gangguan Memori Bisa Menetap?

Ferry mengatakan seseorang yang mengalami keracunan berat memang dapat mengalami amnesia atau gangguan memori setelah episode tersebut. Risiko tersebut terutama berkaitan dengan kondisi yang terjadi selama fase akut, seperti kekurangan oksigen, tekanan darah yang sangat rendah, kejang berkepanjangan, hipoglikemia, atau gangguan metabolik berat.

“Jadi pasien bisa mengalami amnesia atau gangguan memori setelah episode keracunan berat, terutama bila sebelumnya mengalami hipoksia, hipotensi berat, kejang berkepanjangan, hipoglikemia, atau gangguan metabolik berat,” ujarnya.

Namun, Ferry menekankan adanya perbedaan antara gangguan fungsi otak sementara dengan kerusakan jaringan otak permanen.

“Gangguan memori sementara karena otak ‘terganggu secara fungsional’ itu tidak sama dengan kerusakan jaringan otak permanen,” katanya.

Pada sejumlah kasus, fungsi kognitif dapat membaik ketika kondisi tubuh yang mendasarinya telah kembali normal.

“Pada banyak kasus keracunan, fungsi kognitif membaik setelah tekanan darah, oksigenasi, elektrolit, infeksi, dan metabolisme kembali normal,” ujar Ferry.

Dengan demikian, munculnya gangguan memori setelah keracunan tidak serta-merta membuktikan adanya kerusakan permanen pada otak. Penentuan penyebabnya tetap membutuhkan pemeriksaan medis, terutama ketika gangguan memori disertai kejang atau perubahan fungsi neurologis lainnya.

Proses Medis Panjang di Tengah Silang Pendapat

Siswi Korban Keracunan MBG Jalani Pemeriksaan Lanjutan

Manajer Hukum dan Humas RSUP H. Adam Malik Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak, saat memberikan keterangan terkait penanganan medis kandung FY pada Selasa (8/9/2026). (FOTO/Istimewa)

Hingga saat ini, teka-teki mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada sistem saraf FY masih terus digali oleh tim dokter. Manajer Hukum dan Humas RSUP H. Adam Malik Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak, mengatakan FY telah tiga kali menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Pemeriksaan terbaru dilakukan dengan EEG untuk melihat aktivitas listrik dan mendeteksi kemungkinan gangguan fungsi otak. Rosario mengatakan kondisi FY saat ini tergolong stabil.

“Kondisinya kan stabil, ya. Kondisi pasien tuh stabil. Jadi saat ini memang yang diperlukan hanya rawat jalan saja,” kata Rosario, Selasa (8/9/2026).

Menurut Rosario, penanganan medis terhadap FY masih akan berlanjut dalam jangka waktu yang cukup lama. Biaya pengobatan pasien juga ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Masih lanjut. Dan sepertinya memang untuk jangka waktu yang cukup lama,” sambungnya.

Pihak RSUP H. Adam Malik belum memberikan penjelasan lebih jauh mengenai diagnosis FY karena proses pemeriksaan masih berlangsung. Pasien ditangani oleh dokter spesialis gastro anak, dokter spesialis neurologi anak, dan dokter psikiatri.

KPPG Bantah Ada Amnesia

Di sisi lain, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Wilayah Medan, Donal Simanjuntak, membantah pemberitaan mengenai FY yang disebut mengalami amnesia atau hilang ingatan.

Menurut Donal, FY pada 7 September 2026 pulang atas permintaan sendiri dari RS Amanda di Karo dan kemudian menuju Medan untuk menjalani kontrol di RSUP H. Adam Malik sesuai jadwal. Pemeriksaan yang dilakukan adalah EEG.

"Kemarin tanggal 7 September 2026, korban pulang atas permintaan sendiri pagi hari dari RS Amanda di Karo dan langsung ke Medan untuk kontrol ke RS Adam Malik sesuai jadwal. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan EEG," sebut Donal dalam rilis yang diterima kontributor Tirto, Selasa (8/9/2026).

Donal mengatakan FY kemudian kembali ke RSUP H. Adam Malik bersama orang tuanya untuk menerima hasil pemeriksaan EEG. Ia menyebut kondisi FY sempat menurun ketika tiba di rumah sakit.

"Namun saat tiba di RS, FY drop dan lemas karena banyaknya peliputan atas dirinya. Keluarga menerima hasil normal pada pemeriksaan EEG," katanya.

Donal juga menyebut Badan Gizi Nasional (BGN) terus mendampingi FY selama menjalani perawatan di RS Haji Medan hingga kepulangan dan kontrol di RSUP H. Adam Malik.

"Kepala BGN sudah menyampaikan kepada pemerintah daerah agar dilakukan pelayanan kesehatan secara maksimal untuk pengobatan siswa yang sakit dengan pembiayaan dari kantor BGN," ujarnya.

DPR Minta Pemerintah dan BGN Turun Tangan

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa, meminta pemerintah dan instansi terkait serius menangani kondisi FY. Ia menilai kondisi siswi tersebut sudah cukup memprihatinkan dan membutuhkan penanganan segera.

“Kita minta, ya dari BGN, bahkan dari instansi-instansi yang terkait untuk bisa menangani mereka secara serius,” kata Saan kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (9/9/2026).

Politikus NasDem tersebut juga minta pemerintah memastikan pembiayaan pemulihan kesehatan korban. Langkah ini dinilainya perlu, agar pemulihan korban tidak menjadi beban keluarga.

“Termasuk juga, karena kan pasti mereka yang keracunan itu, kan berasal dari kalangan keluarga yang kurang mampu, kan begitu,” kata Saan.

Saan meminta penanganan tidak hanya berhenti pada pemeriksaan awal, tetapi juga memastikan korban memperoleh pemulihan yang diperlukan.

Di tengah proses tersebut, penyebab pasti gangguan memori dan kejang yang dialami FY masih membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Secara medis, keracunan berat memang dapat memengaruhi fungsi otak melalui dehidrasi, penurunan tekanan darah, gangguan oksigenasi, sepsis, kejang, atau ketidakseimbangan metabolik. Namun, mekanisme tersebut tidak dapat dijadikan diagnosis untuk kasus FY sebelum seluruh pemeriksaan medis selesai.

Baca juga artikel terkait KASUS KERACUNAN atau tulisan lainnya dari Hanang Septioyudho

tirto.id - GWS
Reporter: Hanang Septioyudho
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Siti Fatimah