Menuju konten utama
Horizon

Jalan Panjang Menghadirkan Kembali Tokiwaso Manga Museum

Tokiwaso Manga Museum menghadirkan jejak perjalanan para legenda mangaka alias komikus Jepang dalam berkarya di era 1950-an hingga 1960-an.

Jalan Panjang Menghadirkan Kembali Tokiwaso Manga Museum
Tokiwaso Manga Museum. tirto.id/Fadrik Aziz Firdausi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Artikel sebelumnya: Di Tokiwaso Manga Museum, Mengintip Masa Bokek Para Legenda

Riwayat indekos Tokiwaso yang asli berakhir pada Desember 1982. Lantaran gedungnya yang sebagian besar berbahan kayu semakin ringkih di makan usia, ia akhirnya dirobohkan. Sementara itu, Distrik Shiinamachi beralih nama menjadi Minami-Nagasaki.

Meski bangunan aslinya telah musnah, cerita-cerita tentang para mangaka yang pernah numpang hidup di situ terus hidup. Terutama, dalam memoar atau komik bikinan "alumninya", juga film.

Fujiko Fujio A, misalnya, bikin "Manga Michi" (terbit di majalah Shonengahosha pada 1977) yang menggambarkan kesehariannya di indekos Tokiwaso. Lalu, pada 1996, sutradara Ichikawa Jun menggarap film drama berjudul Tokiwaso no Seishun.

Cerita pengalaman hidup di indekos dua lantai itu juga bisa ditemui dalam komik pendek "Tokiwasou Story" bikinan Akatsuka Fujio yang diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Matthew Young dan terbit di jurnal Mechademia (volume 8, 2013).

Memori tentang Tokiwaso rupanya juga sintas di benak para penggemar manga dan juga warga Kota Toshima. Merekalah yang kemudian melobi Pemkot Toshima untuk mendirikan kembali Tokiwaso sebagai sebuah museum.

Seturut pemberitaan The Japan News (15/3/2022), pada 1999, kelompok warga Distrik Minami-Nagasaki mengajukan petisi pembangunan kembali Tokiwaso kepada DPRD Toshima. Tak tanggung-tanggung, petisi itu ditandatangani oleh sekitar 4 ribu orang.

Namun, kondisi fiskal Pemkot Toshima saat itu sedang cekak. Lain itu, para pengusung petisi pun belum memiliki materi sejarah maupun riset tentang Tokiwaso yang memadai. Karena satu dan lain hal pula, Pemkot Toshima hanya bisa menampung aspirasi masyarakat itu.

Cita-cita itu baru menemukan jalan untuk mewujud satu dekade kemudian.

"Semangat masyarakat memberikan momentum," demikian kata Wali Kota Toshima periode 1999-2023, Takano Yukio, dikutip The Japan News.

Pada April 2009, Pemkot Toshima mendirikan sebuah monumen perunggu Tokiwa-sō no Hīrō-tachi (Para Pahlawan Tokiwaso) di sudut Minami-Nagasaki Hanasaki Public Park. Monumen ini menampilkan potret diri dan tanda tangan dari 10 mangaka yang dulu menghuni Apartemen Tokiwaso. Di pucuknya, ditaruhlah sebuah miniatur bangunan apartemen Tokiwaso.

Tokiwaso Manga Museum.

Monumen perunggu Tokiwa-sō no Hīrō-tachi (Para Pahlawan Tokiwaso) di sudut Minami-Nagasaki Hanasaki Public Park. tirto.id/Fadrik Aziz

Pada tahun berikutnya, Pemkot Toshima menunjuk firma arsitektur Tanseisha untuk mengerjakan proyek pembangunan kembali Tokiwaso. Tanseisha pernah terlibat merenovasi Yokote Masuda Manga Museum di Prefektur Akita dan Ishinomori Manga Museum di Prefektur Miyagi. Jadi, Tanseisha bisa dibilang punya kredensial yang mumpuni untuk proyek yang ditunggu-tunggu ini.

Tanseisha lantas menerjunkan tim dari lembaga think tank-nya, TanseiInstitute, untuk memulai riset awal menyusun basis perencanaan bagi proyek restorasi Tokiwaso.

Direktur Kreatif Tanseisha untuk proyek Tokiwaso, Katō Tsuyoshi, berbagi secuplik kisah timnya kala meriset proyek ini kepada Amano Hisaki dari Nippon.com. Menurutnya, tantangan terbesar dari upaya membangun kembali Tokiwaso adalah hilangnya cetak biru bangunan asli. Alhasil, tim Tansei Institute mesti mengambil jalan memutar dalam riset ini.

"Kami menemukan foto-foto yang diambil selama pembongkaran. Foto-foto itulah yang memberi kami wawasan tentang struktur Tokiwaso yang asli. Foto-foto internal dan eksternal bangunan yang diambil oleh para penghuninya itu membantu kami memastikan detail-detail setiap sudut Tokiwaso," kata Katō, dikutip Nippon.com (30/9/2020).

Meski foto-foto lawas itu amat mencukupi untuk mengetahui detail wujud indekos Tokiwaso, darinya juga datang tantangan baru. Foto-foto itu adalah foto hitam-putih dan karena itu ia tak memiliki satu data amat krusial: warna material.

Jadilah Tansei Institute harus memperpanjang risetnya dengan melakukan banyak wawancara dengan orang-orang yang pernah tinggal di Tokiwaso era 1950-an hingga 1960-an. Demi mencapai tingkat akurasi yang tinggi, tim Kato mesti berulang kali membuat dummy beragam fitur bangunan indekos itu, mulai dari dinding, kusen jendela, atap, hingga langit-langit kamar.

Dummy itu lantas diperlihatkan kepada beberapa alumni Tokiwaso untuk dicek kesesuaiannya. Demikian proses itu diulang hingga memperoleh yang paling akurat.

Para perancangnya mengonsep replika Tokiwaso itu tak sekadar untuk menjadi museum atau monumen belaka. Tokiwaso Manga Museum dihadirkan untuk membuat pengunjung mengalami dan terhubung dengan suasana dan pahit-getir kehidupan di kawasan suburban Tokyo pada era Pascaperang. Inilah sebabnya akurasi tak bisa ditawar.

"Tokiwaso adalah situs yang spesial bagi para penggemar manga dan kami tak ingin mengecewakan mereka," tegas Kato.

Maka jangan pula heran mengapa rencana konkret proyek pembangunan ulang Tokiwaso baru diumumkan pada Juli 2016. Lalu, pembangunan fisiknya baru benar-benar dimulai pada 2019.

Secara keseluruhan, struktur Tokiwaso Manga Museum dibangun dengan paduan bahan kayu dan semen. Untuk perkara yang satu ini, jelas tak mungkin membangunnya hanya dengan bahan kayu seperti di masa lalu. Pemerintah Jepang telah menerbitkan regulasi yang wajib dipatuhi terkait struktur bangunan modern dan standar keamanannya.

Untuk menyiasati hal itu, Firma Tanseisha menggunakan struktur dinding ganda untuk menyembunyikan penopang baja. Jadi, bangunan tetap memenuhi standar dan regulasi sembari tetap menghadirkan fasad retronya.

Siasat semacam itu juga dilakukan untuk mewujudkan tangga kayu berderit yang sebelumnya saya ceritakan. Juga, untuk mereproduksi toilet dan dapur komunal di lantai 2.

Meski terkesan sebagai gimik sederhana, pembuatan tangga kayu berderit itu menurut Kato adalah salah satu yang tersulit. Para mangaka yang pernah tinggal di sana mengaku amat peka pada suara derit tangga itu. Hanya ada dua kemungkinan yang terbit bila derit tangga itu terdengar: ada sesama penghuni yang pulang atau editor yang datang untuk menagih manuskrip!

"Itulah sebabnya kami ingin memastikan untuk menciptakan kembali suara derit itu. Kami sangat ingin mereplikasinya sehingga kami memasukkan konsep tersebut ke dalam desain sejak awal," ujar Kato.

Firma Tanseisha lantas bereksperimen untuk mendapatkan bahan kayu yang dapat digunakan untuk susunan anak tangga itu. Ia mesti cukup lentur saat diinjak untuk memberi kesan bangunan tua. Di antara masing-masing anak tangga itu, dibuatlah celah kecil yang dilapisi dengan damar. Demikianlah formula yang mereka gunakan untuk menciptakan bunyi berderit yang khas saat pengunjung menaiki tangga itu.

Tepat di ujung tangga berderit itu, ruangan pertama yang tersaji adalah rekonstruksi ulang toilet bersama yang dipakai para penghuni Tokiwaso dulu. Sekilas, tak ada yang istimewa dari toilet itu, kecuali kita mendekat dan memeriksa detail-detailnya.

Memang tidak ada bau khas menguar dari sana—tentu saja, ia memang tak difungsikan. Namun, lihatlah kekusaman di dinding, pintu, juga pipa tanah liat berikut jejak-jejak hajat di urionirnya. Anda mungkin mengira itu sungguhan, padahal jejak-jejak kemanusiaan itu dibuat dengan metode weathering.

“Saat tahu ada warganet yang ngetwit bahwa 'toiletnya terkesan bau banget', kami menganggap itu pujian besar," kata Katō.

Di sebelah toilet bersama itu, ada rekonstruksi ulang dapur komunal yang keadaannya seakan baru saja dipakai masak mi instan dan lupa dibereskan. Botol kola, aneka botol saus khas Jepang, botol sake, mangkuk, gelas, cawan sake, sumpit, panci dan wajan, kompor-kompornya, hingga jemuran lap dan handuk berada di situ dengan sembarangan.

Kesembarangan itulah yang justru membuat saya hampir-hampir percaya bahwa seseorang memang baru saja memasak di situ. Kompor-kompor itu berkerak jelaga sebagaimana kompor di rumah saya. Teko-teko air dan spatula yang dicantelkan di dinding juga terlihat sangat familier. Sebuah mangkuk di meja tengah dapur bahkan masih ada sisa kuah dan ramen!

Yang juga perlu Anda ketahui, lokasi Tokiwaso Manga Museum saat ini sebenarnya bukanlah lokasi asli apartemennya di masa lalu. Lokasi apartemen yang asli terletak beberapa blok jauhnya dari Minami-Nagasaki Hanasaki Public Park. Agaknya, perubahan lanskap ruang permukiman di kawasan itu tidak memungkinkan Tokiwaso dibangun di titik orisinalnya.

Alhasil, di titik lokasi Tokiwaso yang asli itu, kini berdiri sebuah monumen kecil sebagai tengara.

Bangunan utuh Tokiwaso Manga Museum akhirnya dirampungkan pada awal 2020 dan sebenarnya dijadwalkan dibuka untuk umum pada Maret. Namun, pembukaannya terpaksa ditunda karena Pandemi Covid-19. Kyodo News memberitakan bahwa museum itu akhirnya dibuka secara resmi pada Juli 2020.

"Kami ingin memamerkan tempat kelahiran kultur anime dan manga ke seluruh dunia," kata Wali Kota Takano pada upacara pembukaan museum, dikutip Kyodo News, Selasa (7/7/2020).

Tidak bisa lebih persis lagi pernyataan Wali Kota Takano itu. Anime lahir dari manga dan di indekos dua lantai bernama Tokiwaso-lah para perintis industri manga membuka jalannya.

***

Kamar Yokota Tokuo adalah kamar terakhir yang saya longok di lantai 2 Tokiwaso Manga Museum. Sebenarnya, pameran belum sepenuhnya berakhir. Hanya saja, kita telah melewati puncaknya.

Turun ke lantai 1, pengunjung bakal disambut rak-rak memanjang yang memajang pusparagam manga karya para penghuni indekos dulu. Di tengah ruangan ada maket indekos Tokiwaso berikut penghuninya yang lucu. Selebihnya adalah gerai suvenir.

Melangkah keluar, saya bertemu lagi dengan bapak-bapak petugas museum yang sebelumnya menyambut saya. Lagi-lagi, dengan senyum yang ramah, dia mengucapkan terima kasih atas kunjungan ini. Sejurus kemudian, dia menyodorkan sebuah brosur.

Tokiwaso Manga Museum

Tokiwaso Manga Museum. tirto.id/Fadrik Aziz Firdausi

Dalam bahasa Inggris sederhana, dia bilang, "Jika Anda suka jalan-jalan ke museum, di dekat sini masih ada satu museum lagi. Datanglah jika berkenan."

"Oh ya. Itu museum apa? Ke mana arahnya?" kata saya membalas keramahannya.

Si bapak lalu membuka brosur di tangan saya dan barulah saya sadari itu adalah sebuah peta. Telunjuknya lantas menunjuk titik dengan nomor 32 di peta itu. Ah, aksara Jepang lagi.

"Namanya Showa Retro Museum," kata si bapak.

Sepertinya menarik dan lagi pula dekat sekali tempatnya. Tinggal berjalan ke timur menyusuri jalan di depan Tokiwaso.

Begitu diamati di peta, daerah ini ternyata punya banyak sekali tempat-tempat menarik.Selain Showa Retro Museum itu, ada pula penginapan retro Oyasumidokoro dan Tokiwaso Manga Station yang masih terkait dengan Tokiwaso Manga Museum. Destinasi-destinasi itu pun dibangun sebagai satu kesatuan dengan Tokiwaso untuk menghidupkan kembali marwah Minami-Nagasaki alias Shiinamachi sebagai distrik perbelanjaan.

Ah, sayang sekali, saya tak punya waktu lagi untuk tengok-tengok.

Melangkah ke luar Tokiwaso, hati saya penuh. Juga di kepala, pertanyaan dan penasaran makin memercik. Konteks Jepang dan Indonesia memang beda, tapi mungkinkah museum kultur pop semacam Tokiwaso itu hadir di Tanah Air?

Baca juga artikel terkait MANGA atau tulisan lainnya dari Fadrik Aziz Firdausi

tirto.id - Horizon
Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Irfan Teguh Pribadi