Menuju konten utama

Jadwal Puasa Sunah Syaban 2026: Niat, Doa, Amalan, & Keutamaan

Jadwal lengkap puasa sunah bulan Syaban 2026 dapat menjadi acuan umat Islam. Cek tanggal dan amalan yang dianjurkan.

Jadwal Puasa Sunah Syaban 2026: Niat, Doa, Amalan, & Keutamaan
Ilustrasi berbuka puasa. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Jadwal puasa sunah bulan Syaban 2026 dapat menjadi acuan bagi umat Islam. Simak niat, doa, amalan, dan keutamaan bulan Syaban 2026.

Salah satu ibadah yang dianjurkan pada bulan Syaban ialah puasa sunah. Selama hidup, Nabi Muhammad juga mencontohkan puasa sunah di bulan Syaban kepada para sahabatnya.

Dalam kalender hijriah, bulan Syaban merupakan bulan kedelapan yang berapa tepat sebelum bulan Ramadan. Pada bulan tersebut, umat Islam memiliki serangkaian ibadah yang dikerjakan untuk menghidupkan bulan Syaban.

Jadwal Puasa Sunah Syaban 2026

Puasa sunah dianjurkan bagi umat Islam di bulan Syaban baik puasa Senin Kamis maupun puasa Ayyamul Bidh yang dikerjakan pada 13, 14, dan 15 Syaban. Hal ini juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad selama hidup.

Nabi melakukan puasa sunah di bulan Syaban karena amalan umat manusia diangkat dan diperlihatkan kepada Allah. Sehingga kondisi terbaik untuk menjalani proses pemeriksaan amal adalah dengan beribadah melalui puasa sunah.

Hal ini diriwayatkan dalam hadis Imam Ahmad yang berbunyi:

ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

"Itulah bulan yang orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan dihadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa," (HR Ahmad).

Merujuk pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang diterapkan organisasi masyarakat (ormas) Muhammadiyah, 1 Syaban 1447 Hijriah jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026. Kemudian, bulan Syaban akan berakhir pada Selasa, 17 Februari 2026. Kalender Hijriah yang diterbitkan oleh Kementeri Agama (Kemenag) RI juga menetapkan Syaban 1447 Hijriah dimulai pada Selasa, 20 Januari 2026.

Berikut jadwal puasa sunah bulan Syaban 2026 yang dapat menjadi acuan umat Islam.

  • Senin, 19 Januari 2026 (29 Rajab 1447 H): Puasa Sunah Senin
  • Kamis, 22 Januari 2026 (3 Syaban 1447 H): Puasa Sunah Kamis
  • Senin, 26 Januari 2026 (7 Syaban 1447 H): Puasa Sunah Senin
  • Kamis, 29 Januari 2026 (10 Syaban 1447 H) Puasa Sunah Kamis
  • Minggu, 1 Februari 2026 (13 Syaban 1447 H): Puasa Ayyamul Bidh
  • Senin, 2 Februari 2026 (14 Syaban 1447 H): Puasa Ayyamul Bidh
  • Selasa, 3 Februari 2026 (15 Syaban 1447 H): Puasa Ayyamul Bidh
  • Kamis, 5 Februari 2026 (17 Syaban 1447 H): Puasa Sunah Kamis
  • Senin, 9 Februari 2026 (21 Syaban 1447 H): Puasa Sunah Senin
  • Kamis, 12 Februari 2026 (24 Syaban 1447 H): Puasa Sunah Kamis
  • Senin, 16 Februari 2026 (28 Syaban 1447 H): Puasa Sunah Senin

Niat Puasa Sunah Syaban 2026 dan Keutamannya

Niat merupakan salah satu syarat wajib dalam menunaikan puasa sunah Syaban 2026. Niat puasa Syaban dapat dibaca pada malam hari hingga dini hari sebelum tiba waktu subuh.

Berikut niat puasa Syaban 2026 dan artinya yang dapat menjadi acuan umat Islam:

نَوَيْتُ صَوْمَ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya: "saya niat puasa Syaban karena Allah ta’ala"

Bagi umat Islam yang melaksanakan puasa sunah di bulan Syaban 2026, akan mendapatkan keutamaan berupa kondisi berpuasa saat amal ibadahnya dilaporkan sebagaimana penjelasan hadis di atas.

Tak hanya itu, umat Islam juga akan mendapatkan syafaat Nabi Muhammad di hari kiamat kelak. Hal ini diriwayatkan oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya:

وَالثَّانِي عَشَرَ صَوْمُ شَعْبَانَ، لِحُبِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامَهُ. فَمَنْ صَامَهُ نَالَ شَفَاعَتَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya, “Puasa sunnah yang keduabelas adalah Puasa Sya’ban, karena kecintaan Rasulullah saw terhadapnya. Karenanya, siapa saja yang memuasainya, maka ia akan mendapatkan syafaat belau di hari kiamat.” (Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi, Nihâyatuz Zain fi Irsyâdil Mubtadi-în,

Doa dan Amalan Bulan Syaban 2026

Umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak doa dan amalan di bulan Syaban, seperti puasa sunah, salat malam, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak dzikir serta istighfar.

Sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam kitab Musnad Ahmad, ketika melihat hilal bulan Rajab. Nabi Muhammad saw memiliki doa khusus yang dibaca. Doa tersebut juga dapat dibaca untuk menghidupi bulan Syaban. Nabi berdoa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Yang artinya: “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.”

Berikut beberapa doa dan amalan yang dianjurkan bagi umat Islam di bulan Syaban:

1. Puasa sunah

Beberapa puasa sunah yang dapat dilakukan umat Islam ialah puasa Senin Kamis dan puasa Ayyamul Bidh yang dikerjakan pada 13, 14, dan 15 Syaban.

2. Memperbanyak istigfar

Pada bulan Syaban, terdapat malam Nisfu Syaban 2026.Pada malam tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak membaca istigfar kepada Allah. sebab, Allah berjanji akan mengampuni seluruh dosa umat Islam di malam Nisfu Syaban, kecuali dosa syirik.

3. Doa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Berikut ini adalah doa yang dibaca di malam nisfu Syaban dari Syekh Abdul Qadir al-Jilani, yang mengutip doa dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، مَصَابِيْحِ الْحِكْمَةِ وَمَوَالِيْ النِّعْمَةِ، وَمَعَادِنِ الْعِصْمَةِ، وَاعْصِمْنِيْ بِهِمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ. وَلَا تَأْخُذْنِيْ عَلَى غِرَّةٍ وَلَا عَلَى غَفْلَةٍ، وَلَا تَجْعَلْ عَوَاقِبَ أَمْرِيْ حَسْرَةً وَنَدَامَةً، وَارْضَ عَنِّيْ، فَإِنَّ مَغْفِرَتَكَ لِلظَّالِمِيْنَ، وَأَنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ، اللهم اغْفِرْ لِيْ مَا لَا يَضُرُّكَ، وَأَعْطِنِيْ مَا لَا يَنْفَعُكَ، فَإِنَّكَ الْوَاسِعَةُ رَحْمَتُهُ، اَلْبَدِيْعَةُ حِكْمَتُهُ، فَأَعْطِنِي السَّعَةَ وَالدَّعَةَ، وَالْأَمْنَ وَالصِّحَّةَ وَالشُّكْرَ وَالْمُعَافَاةَ، وَالتَّقْوَى، وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ وَالصِّدْقَ عَلَيَّ، وَعَلَى أَوْلِيَائِيْ فِيْكَ، وَأَعْطِنِي الْيُسْرَ، وَلَا تَجْعَلْ مَعَهُ الْعُسْرَ، وَأَعِمَّ بِذَلِكَ أَهْلِيْ وَوَلَدِيْ وَإِخْوَانِيْ فِيْكَ، وَمَنْ وَلَدَنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Artinya: “Ya Allah limpahkan rahmat ta’dhim-Mu kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, lampu-lampu hikmah, tuan-tuan nikmat, sumber-sumber penjagaan. Jagalah aku dari segala keburukan lantaran mereka, janganlah engkau hukum aku atas kelengahan dan kelalaian, janganlah engkau jadikan akhir urusanku suatu kerugian dan penyesalan, ridhailah aku, sesungguhnya ampunanMu untuk orang-orang zhalim dan aku termasuk dari mereka, ya Allah ampunilah bagiku dosa yang tidak merugikanMu, berilah aku anugerah yang tidak memberi manfaat kepadaMu, sesungguhnya rahmat-Mu luas, hikmah-Mu indah, berilah aku kelapangan, ketenangan, keamanan, kesehatan, syukur, perlindungan (dari segala penyakit) dan ketakwaan. Tuangkanlah kesabaran dan kejujuran kepadaku, kepada kekasih-kekasihku karena-Mu, berilah aku kemudahan dan janganlah jadikan bersamanya kesulitan, liputilah dengan karunia-karunia tersebut kepada keluargaku, anaku, saudar-saudaraku karena-Mu dan para orang tua yang melahirkanku dari kaum muslimin muslimat, serta kaum mukiminin dan mukminat.” (Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Ghunyah al-Thalibin, juz 3, hal. 249)

Baca juga artikel terkait PUASA SYABAN atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo