tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook memuat tabel terkait pembagian desil kesejahteraan masyarakat yang dikaitkan dengan Kementerian Sosial (Kemensos).
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Inry Kawonal” (arsip) pada Sabtu (14/2/2026). Unggahan berisi pembagian desil 1 hingga 10 beserta kategori dan nominal tertentu yang disebut sebagai dasar untuk menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat.
“SISTEM DESIL TERBARU 2026. Tabel Klasifikasi Kesejahteraan DTSEN (Sistem Desil).” Begitu narasi tertulis dalam gambar.
Pengunggah juga menuliskan keterangan dalam unggahan, “INFO PENTING SISTEM DESIL TERBARU 2026. Desil adalah sistem kesejahteraan masyarakat yang menentukan tingkatan dari yang paling miskin sampai yang sejahtera. Ini adalah tabel komprehensif yang menggabungkan kategori Desil (1-10), nominal pendapatan/pengeluaran per kapita, serta profil aset secara mendetail.
Data ini disesuaikan dengan standar Proxy Mean Test (PMT) yang sering digunakan dalam verifikasi DTKS dan data BPS terbaru.
Saat ini negara sudah menyatukan seluruh data yang awalnya setiap instansi memiliki data masing-masing, kini disatukan dengan program uang disebut DTSEN.
Namun DTSEN ini belum akurat secara signifikan, masih banyak sekali data dilapangan yang tidak sesuai.
Semoga kedepannya peningkatan keakuratan sistem DTSEN ini semakin membaik dan tepat sesuai data dilapangan
Sumber : FB info bansos terbaru.”
Sampai artikel ini ditulis pada Jumat (14/8/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 4,8 ribu tanda suka, 2,2 ribu komentar, dan 1,5 kali dibagikan. Kolom komentar dipenuhi reaksi kepercayaan masyarakat terhadap informasi tersebut dan banyak yang membagikan pengalamannya mendapat bantuan dari pemerintah.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Instagram @pertamax7, @losty_putriprawito. akun Facebook “Graha Anugrah”, “Flora Desima”, "Melin Nenk", dan akun Threads @hasansanz. Unggahan tersebut menampilkan gambar tabel desil serupa terkait klaim sistem desil terbaru tahun 2026 yang Kemensos tetapkan sesuai dengan besaran penghasilan.
Lantas, benarkah pembagian desil Kemensos seperti yang tercantum dalam tabel tersebut?

Penelusuran Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasilnya, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.
Lebih lanjut, Tirto menelusuri informasi tersebut melalui laman resmi Cek Bansos Kemensos dan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS).
Berdasarkan laman resmi Cek Bansos Kemensos, sumber data yang digunakan adalah Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Kemensos menjelaskan bahwa desil merupakan kelompok kesejahteraan keluarga yang diukur berdasarkan sejumlah variabel sosial ekonomi.
“Desil: kelompok kesejahteraan keluarga yang diukur berdasarkan variabel sosial ekonomi mencakup keterangan individu (pekerjaan, pendidikan), keterangan perumahan (kondisi rumah, daya listrik) dan kepemilikan aset. Terdapat 10 desil yang masing-masing berisi 10% keluarga di Indonesia, desil 1 merupakan keluarga dengan tingkat kesejahteraan 10% terbawah sementara desil 10 merupakan keluarga dengan tingkat kesejahteraan 10% tertingi.” Begitu keterangan pembagian desil dikutip dari laman cekbansos.kemensos.go.id.
Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) merupakan amanat Inpres No. 4 Tahun 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) ditugaskan untuk menetapkan sumber data, menyusun, mengelola, dan memutakhirkan DTSEN.
DTSEN merupakan data yang dinamis dan terus dimutakhirkan. Dalam pemutakhiran DTSEN, dikelompokkan kesejahteraan masyarakat berdasarkan berbagai indikator, seperti identitas kependudukan, pendidikan, ketenagakerjaan, kondisi dan kualitas tempat tinggal, akses sanitasi dan air minum, kesehatan dan disabilitas, kepemilikan aset, hingga kepemilikan usaha.
Variabel-variabel tersebut yang digunakan untuk mengelompokkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang disebut desil.
BPS bersama kementerian/lembaga terkait, terus berkolaborasi memutakhirkan DTSEN untuk memastikan penyaluran berbagai program pemerintah didukung oleh basis data yang akurat, terkini, dan tepercaya.
Variabel tersebut mencakup informasi individu seperti pekerjaan dan pendidikan, kondisi perumahan seperti kondisi rumah dan daya listrik, serta kepemilikan aset. Data tersebut kemudian membagi keluarga ke dalam 10 desil. Setiap desil berisi sekitar 10 persen keluarga di Indonesia. Desil 1 merupakan 10 persen keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah, sedangkan desil 10 merupakan 10 persen dengan tingkat kesejahteraan tertinggi.
Laman BPS menyatakan bahwa desil merupakan pembagian data menjadi 10 kelompok sama besar berdasarkan urutan tingkat pengeluaran atau kesejahteraan. Dengan demikian, desil merupakan posisi relatif dalam distribusi kesejahteraan, bukan kategori yang ditentukan hanya berdasarkan satu angka pendapatan tertentu.
Dengan demikian, tabel yang mencantumkan batas nominal pendapatan tertentu sebagai batas mutlak untuk desil 1, desil 2, hingga desil 10 tidak dapat dianggap sebagai tabel resmi pembagian desil Kemensos apabila tidak memiliki dasar metodologi dari DTSEN.
BPS menjelaskan bahwa dalam pemutakhiran DTSEN, tingkat kesejahteraan masyarakat dikelompokkan berdasarkan berbagai indikator, seperti pendidikan, ketenagakerjaan, kondisi tempat tinggal, akses sanitasi dan air minum, kesehatan, kepemilikan aset, hingga kepemilikan usaha. Variabel-variabel tersebut digunakan untuk mengelompokkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang disebut desil.
Dengan kata lain, penentuan desil tidak hanya melihat penghasilan seseorang.
BPS juga menjelaskan bahwa desil merupakan pembagian penduduk menjadi 10 kelompok berdasarkan tingkat pengeluaran dari yang terendah hingga tertinggi. Desil menunjukkan posisi relatif dalam distribusi, bukan angka nominal tertentu.
Sebagaimana dalam pemberitaan Tirto, Pembagian desil dapat dipahami secara sederhana sebagai berikut:
- Desil 1: kelompok paling miskin atau paling rentan,
- Desil 2: kelompok miskin,
- Desil 3: kelompok hampir miskin,
- Desil 4: kelompok rentan miskin,
- Desil 5: kelompok menengah bawah,
- Desil 6: kelompok menengah,
- Desil 7: kelompok menengah atas,
- Desil 8: kelompok yang relatif mapan,
- Desil 9: kelompok dengan tingkat kesejahteraan tinggi, dan
- Desil 10: kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi.
Data yang diperhatikan dapat mencakup kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset, pengeluaran rumah tangga, akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan, jumlah anggota keluarga, serta jumlah orang yang menjadi tanggungan. Jadi, angka desil menunjukkan peringkat relatif, bukan berarti desil 1 sampai 10 mempunyai batas pendapatan nasional yang tetap.
Desil digunakan pemerintah untuk membantu menentukan sasaran program bantuan sosial. Namun, desil tidak dapat dipahami sebagai nama bantuan ataupun jaminan bahwa seseorang otomatis menerima bantuan.
Kemensos RI melalui akun Instagram @pusdatikensos membantah klaim yang beredar terkait infografis "Sistem Desil Terbaru 2026" yang mengaitkan desil dengan nominal pengeluaran, kondisi rumah, hingga status bantuan sosial. Faktanya, infografis tersebut bukan dibuat oleh Kementerian Sosial.
Melalui Kepmensos Nomor 22/HUK/2026, peringkat kesejahteraan dalam DTSEN digunakan sebagai peringkat kesejahteraan keluarga dari desil 1 hingga desil 10, ditentukan sebagai berikut:
Desil 1 merupakan 10% kelompok kesejahteraan terbawah,
Desil 2 adalah 10% di atasnya dan seterusnya sampai Desil 10 adalah 10% kelompok kesejahteraan paling sejahtera.
Perlu diketahui bahwa DTSEN tidak digunakan untuk mengategorikan masyarakat berdasarkan besaran pengeluaran per kapita per bulan. BPS tidak pernah mempublikasikan besaran pengeluaran berdasarkan desil.
Informasi yang mencantumkan nominal pengeluaran dan label kesejahteraan tertentu bukan merupakan informasi resmi dari Kemensos maupun BPS.
Dalam laman Cek Bansos, Kemensos menyebut keluarga yang berada dalam desil 1 hingga 4 atau 40 persen terbawah dapat diusulkan sebagai penerima PKH dan Sembako. Sementara itu, keluarga yang berada pada desil 5 dapat diusulkan sebagai peserta PBI-JK.
Dengan demikian, kategori desil harus dibaca bersama dengan kriteria masing-masing program. Tidak tepat jika masyarakat menyimpulkan bahwa semua orang yang berada pada satu desil tertentu secara otomatis menerima seluruh jenis bantuan sosial.
Kemensos menyatakan bahwa desil bersifat dinamis. Jika hasil pengelompokan tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, masyarakat dapat mengajukan pembaruan melalui desa/kelurahan dan dinas sosial atau melalui aplikasi Cek Bansos. Selanjutnya, desil akan dihitung ulang oleh BPS secara periodik.
Senada dengan hal tersebut, BPS menyebutkan bahwa DTSEN merupakan data yang terus dimutakhirkan. Pada pemutakhiran DTSEN, BPS melakukan penyempurnaan data sosial ekonomi dan klasifikasi kesejahteraan masyarakat agar dapat digunakan sebagai basis penyaluran program pemerintah secara lebih tepat sasaran.
Kemensos mengimbau agar masyarakat bijak bermedia sosial, dimulai dari satu langkah sederhana dan memeriksa informasi dari sumbernya sebelum membagikannya.
Kemensos juga mengajak masyarakat agar bersama-sama melawan hoaks dan memastikan informasi yang disebarkan berasal dari sumber yang terpercaya.
Kesimpulan
Hasil pemeriksaan fakta menunjukkan, tabel yang beredar, yang mengklaim sebagai pembagian resmi desil terbaru tahun 2026 dari Kemensos berdasarkan batas nominal penghasilan tertentu, bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).
Kemensos membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa infografis "Sistem Desil Terbaru 2026" bukan dibuat oleh Kementerian Sosial.
Sistem desil dalam DTSEN membagi keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraan, dengan mempertimbangkan berbagai variabel sosial ekonomi, bukan semata-mata pendapatan.
Desil 1 menunjukkan 10 persen keluarga dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 menunjukkan 10 persen keluarga dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.
Desil digunakan sebagai salah satu dasar penentuan sasaran bantuan sosial dan bersifat dinamis karena DTSEN terus diperbarui.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id
































