tirto.id - Wahai Sengkewe/kunikahkan engkau dengan angin/air walimu/tanah saksimu/matahari saksi kalammu/Rimbunlah daun/maraklah buah/kuatlah akar/tegaplah batang/jauhkan penyakit/bangkitlah semangat.
Syair itu kerap disenandungkan para petani Gayo saat menanam dan merawat kopi. Sengkewe, Siti Kewe, atau Kewe merujuk pada kopi yang berasal dari bahasa Arab, qahwa. Sebagaimana dituturkan penyair kopi asal Gayo, Fikar W Eda, dalam buku yang disusun Tim Litbang Kompas berjudul Cita Rasa Kopi Gayo (2020:31-32), orang Gayo menganggap kopi sebagai makhluk bernyawa yang harus disayangi.
Senandung syair merupakan doa agar tanaman tumbuh subur, berbuah lebat, dan dijauhkan dari penyakit. Syair-syair tentang kopi juga sering dituturkan lewat pementasan Didong, kesenian yang memadukan musik, vokal, dan tarian.
Bagi masyarakat Gayo, ranumnya buah kopi adalah cerminan kesempurnaan hidup. Kopi bukan sekadar tanaman perkebunan yang buahnya dipetik lalu dijual. Kopi adalah napas, darah, dan tulang punggung peradaban.
Ada sebuah filosofi hidup yang dipegang teguh oleh para tetua di sana bahwa uang bisa habis dalam setahun, tetapi kopi adalah tabungan seumur hidup. Mulai dari biaya sekolah, pernikahan, hingga ongkos naik haji, semuanya bermuara pada panen biji merah yang berkilauan di sela-sela sejuknya udara Aceh Tengah.
Misteri Tanaman Liar dan Mitos Mesiu
Kopi Gayo merupakan salah satu varian arabika yang pertama kali ditemukan tumbuh liar di dataran tinggi Ethiopia sekitar abad ke-6 hingga ke-7 Masehi. Bangsa Arab, terutama dari Yaman, kemudian mulai membudidayakan dan memperdagangkan kopi ini secara luas. Mereka menyebarkan bibit kopi dari Ethiopia melintasi Laut Merah ke Semenanjung Arab.
Dari Yaman inilah kopi mulai diekspor ke seluruh dunia melalui Pelabuhan Mokha. Pada tahun 1753, ahli botani Swedia, Carl Linnaeus, memberi nama spesies ini Coffea arabica, karena pada masa itu kopi hanya dikenal berasal dari wilayah Arab, khususnya Yaman.
Jauh sebelum Belanda menancapkan kekuasaannya secara penuh pada tahun 1904, tanah Gayo sebenarnya sudah ditumbuhi tanaman kopi. Seperti dicatat penasihat pemerintah kolonial Belanda pada 1883, C. Snouck Hurgronje, yang dibuat terheran-heran saat menjejakkan kaki di sana.
Laporan Snouck bertajuk Het Gajoland en Zijne Bewoners (Tanah Gayo dan Penduduknya) yang diterbitkan pada 1903, menyebutkan bahwa ia menemukan batang kopi tumbuh liar di mana-mana, namun penduduk lokal hanya menggunakannya sebagai pagar kebun.
Buah kopinya dibiarkan jatuh dimakan burung, sementara penduduk hanya mengambil daunnya untuk dikeringkan dan diseduh menjadi minuman yang disebut kewe atau kawa, mirip seperti teh.
Dibanding kopi, Snouck menggambarkan masyarakat bertumpu pada peternakan kerbau dan produksi garam dari sumber air panas, seperti di Kampung Lane, Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Ia melukiskan Lane sebagai kampung statis, dikelilingi semak belukar, dengan potensi pertanian yang belum tergali.
Ketidaktahuan ini rupanya dipelihara oleh penjajah. Ketika Belanda mulai menyadari potensinya, mereka menebar mitos-mitos yang menakutkan agar petani tidak mengolah biji kopi arabika yang berharga mahal itu.
Mitos yang beredar menyebutkan bahwa biji kopi adalah bahan pembuat mesiu atau bahan peledak, sehingga siapa pun yang meminumnya bisa mati. Ada pula cerita bahwa meminum kopi arabika bisa membuat rambut berubah menjadi putih seperti orang Belanda. Bahkan ada anekdot siapa yang meminumnya bisa menyebabkan kekafiran.
Akibat propaganda licik ini, selama berpuluh-puluh tahun masyarakat Gayo hidup di lumbung kopi terbaik dunia tanpa pernah mencicipi kenikmatan aslinya. Mereka menyerahkan biji kopi berharga itu kepada penjajah, sementara mereka sendiri hanya meminum seduhan daun kopi.

Lahirnya Perkebunan Kopi
Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues merupakan bagian dari Dataran Tinggi Gayo yang terletak di punggung Pergunungan Bukit Barisan di Provinsi Aceh. Wilayah ini secara keseluruhan memiliki topografi bergunung dan berbukit dengan ketinggian rata-rata 1.200–1.600 mdpl.
Curah hujan 1.000–2.500 mm/tahun dan musim hujan yang merata mendukung pertumbuhan kopi arabika. Topografi berbukit memastikan drainase cepat dan menghindari busuk akar. Sinar matahari tropis sepanjang tahun dikombinasikan dengan kabut pergunungan menciptakan mikro iklim yang sempurna untuk fotosintesis lambat, meningkatkan kualitas biji.
Dataran Tinggi Gayo adalah terra incognita (tanah tak dikenal) bagi orang Eropa hingga awal abad ke-20. Tak ada sungai besar yang bisa dilayari ke Takengon. Sementara secara politik, Gayo berada di bawah Kesultanan Aceh namun tetap punya otonomi kultural. Masyarakat akhirnya hidup mandiri, nyaris terpisah dari perdagangan pesisir yang kosmopolit.
Keterlambatan kolonial membawa dampak besar bagi kopi. Jika Minangkabau sudah dipaksa menanam kopi melalui sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) sejak pertengahan abad ke-19, Gayo baru mengenal perkebunan komersial pada awal abad ke-20.
Menukil Jurnal Sejarah Lekha bertajuk “Dutch Colonial Infrastructure Development in Takengon, 1904-1942” (2021), ketika meriam terakhir Perang Gayo-Alas mereda pada 1904, Belanda akhirnya menancapkan kekuasaan di jantung Dataran Tinggi Gayo. Takengon, yang sebelumnya hanya wilayah pedalaman yang terisolasi, perlahan berubah menjadi pusat kolonial baru.
Belanda kemudian membuka akses jalan Bireuen-Takengon pada 1905 dan selesai pada 1911. Pada masa-masa inilah Belanda dianggap mulai memperkenalkan bibit kopi arabika di Gayo. Mereka membuka perkebunan-perkebunan (onderneming) lengkap dengan pabrik pengolahan dan asrama buruh.
Di sisi lain, ada versi sejarah lokal yang menyebutkan peran seorang haji bernama Aman Kawa. Konon, ia membawa biji kopi sepulang beribadah haji dari Makkah, jauh sebelum Belanda datang, lalu menanamnya di Kampung Daling, Bebesan, Aceh Tengah.
Perkebunan kopi pertama didirikan di Paya Tumpi, Aceh Tengah, pada 1920.
Sembilan tahun kemudian, Kopi Gayo pertama kali diekspor langsung ke Eropa. Sembilan tahun berikutnya, nilai ekspor kopi melonjak hingga 82.546 Gulden. Takengon pun berubah dari pos militer sunyi menjadi kota garnisun sekaligus pusat perdagangan, dengan tata kota bergaya peristirahatan Eropa.
Warsa 1930, Belanda membuka perkebunan besar bernama Wilhelmina Belang Gele di Aceh Tengah seluas 125 hektare dan mendirikan pabrik pengolahan di Bandar Lampahan. Namun, masyarakat Gayo yang egaliter enggan jadi kuli kontrak. Mereka memilih menggarap sawah dan kebun sendiri.
Menurut Khalisuddin, dkk dalam buku Kopi dan Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Gayo (201:58), untuk menutup kekurangan tenaga kerja, Belanda mendatangkan ribuan pekerja dari Jawa. Agar mereka betah, pemerintah kolonial sering menggelar ketoprak (sandiwara tradisional Jawa) dan membuka lapak judi sebulan sekali.
Kehadiran mereka mengubah demografi Gayo, membawa budaya, bahasa, dan teknik pertanian. Barak-barak perkebunan berkembang jadi kampung heterogen. Redelong, Pondok Baru, dan Lampahan tumbuh pesat sebagai pusat ekonomi baru. Asimilasi terjadi lewat perkawinan campur dan interaksi sehari-hari, membentuk masyarakat yang majemuk.
Anonimitas Geografi di Balik Setiap Tegukan
Kejayaan perkebunan kopi sempat terhenti dan memasuki era kegelapan yang cukup panjang. Ketika Jepang masuk pada tahun 1942 dan Belanda angkat kaki, kebun-kebun kopi mulai telantar.
Setelah kemerdekaan, terjadi nasionalisasi yang berbeda dari Jawa atau Sumatra Utara. Di Gayo, prosesnya berupa lahan bekas onderneming dibagikan kepada petani lokal, mendominasi dengan sistem kepemilikan rakyat.
Masyarakat Gayo yang sudah terbiasa dengan teknik kolonial membuka hutan dan lahan tidur untuk menanam kopi secara mandiri. Hasilnya, struktur ekonomi menjadi egaliter. Lebih dari 90 persen produksi Arabika Gayo kini berasal dari perkebunan rakyat.
Menurut Ulya Zainura dan kolega (2016), luas lahan rata-rata 0,5–1 hektare per keluarga. Pendapatan kopi langsung masuk ke kantong petani, untuk biaya membangun rumah, membeli kendaraan, biaya pendidikan, hingga ibadah haji.
Meski begitu, sejarah juga lagi-lagi mencatat penderitaan para petani. Setelah kemerdekaan, tanah Gayo terus dirundung konflik, mulai dari pemberontakan DI/TII pada tahun 1950-an, peristiwa politik 1965, hingga konflik berkepanjangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI yang berlangsung dari tahun 1976 hingga 2005.
Selama masa konflik bersenjata, ladang kopi menjadi tempat yang mencekam. Ancaman nyawa membuat petani takut pergi ke kebun, membiarkan tanaman mereka diselimuti semak belukar selama hampir 30 tahun. Bahkan, tak jarang jenazah korban konflik dibuang di sekitar perkebunan, meninggalkan trauma mendalam di tanah yang seharusnya subur itu.
Titik balik bagi kopi Gayo terjadi setelah perjanjian damai tahun 2005, yang ironisnya didorong oleh bencana dahsyat Tsunami Aceh. Bencana itu membuka mata dunia dan membawa bantuan serta perbaikan infrastruktur yang masif ke Aceh.
Petani kembali ke ladang. Kesadaran baru tumbuh, terutama di kalangan anak muda yang kembali ke kampung halaman untuk membangun pariwisata dan kedai kopi di tengah kebun. Merawat kembali warisan leluhur mereka.
Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues telah bertransformasi dari wilayah terpencil menjadi pusat produksi salah satu kopi arabika terbaik dunia. Tanah vulkanik yang subur, ketinggian ideal, dan iklim mikro unik melahirkan cita rasa kopi dengan kekentalan tebal, keasaman seimbang, dan aroma rempah yang khas.
Kota-kota utama di dataran ini, Takengon di Aceh Tengah, Redelong di Bener Meriah, dan Blangkejeren di Gayo Lues, kini merupakan pusat perkebunan kopi terluas di Indonesia. Temuan dari The Conversation pada Januari 2025, luasnya mencapai lebih dari 136.000 hektare, tiga kali lipat lebih luas dari data resmi BPS Aceh Tengah pada 2023.
Data ekspor kopi Indonesia menunjukkan bahwa pada 2024, Aceh menyumbang 155 juta dolar dari total ekspor kopi nasional sebesar 1.638 juta dolar, menempatkannya sebagai penyumbang terbesar keempat setelah Lampung, Sumatra Utara, dan Jawa Timur.
Kopi Gayo diekspor ke berbagai negara, seperti Belanda, Jerman, Italia, Prancis, dan Amerika Serikat. Pada 2023, satu perusahaan kopi dari Takengon saja telah mengekspor ke 15 negara dengan volume 100 ton per bulan, menunjukkan skala operasional yang mengesankan.
Kabupaten Bener Meriah mampu memproduksi hingga 113.980 ton kopi dengan luas areal 42.664 hektare, seluruhnya merupakan perkebunan rakyat. Menurut sebuah jurnal pertanian di Universitas Syiah Kuala, pada 2024 di Bener Meriah mayoritas rumah tangga petani kopi tergolong tahan pangan dengan kesejahteraan baik. Kopi melahirkan kelas menengah perdesaan yang kuat.
Namun, produktivitas mengalami tantangan serius dalam dekade terakhir. Data terbaru menunjukkan bahwa rata-rata produksi menurun drastis hingga 30.000 hingga 40.000 ton per tahun akibat perubahan iklim global dan serangan penyakit tanaman.
Pada akhir November 2025, Aceh, termasuk Dataran Tinggi Gayo dilanda banjir bandang dan longsor. Kebun kopi terendam air, akses jalan putus, dan petani terjebak di kebun saat musim panen. Banjir susulan di Aceh Tengah menyebabkan 104 desa kesulitan diakses. Begitu juga 95 persen Kabupaten Gayo Lues lumpuh total. Bahkan 122 infrastruktur vital mengalami kerusakan berat di Kabupaten Bener Meriah.
Bencana di pengujung 2025 itu seperti sebuah paradoks yang menyedihkan. Di satu sisi, Gayo telah dikenal melalui diplomasi kopi dunia. Di sisi lain, secara fisik dan logistik, wilayah ini tetaplah sebuah benteng alam yang rentan dan terisolasi.
Kopi Gayo sudah lama dipuji dalam cangkir-cangkir kopi di Roma, Paris, New York, atau Berlin. Namun, di balik setiap tegukan, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues jarang disebut-sebut. Nama Gayo hidup sebagai label dagang, sementara daerah penghasilnya tetap asing bagi banyak orang.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id
































