tirto.id - Sudah dipukul kesusahan bertubi-tubi, didera kegagalan silih berganti, rakyat kecil sering kali masih dipaksa menyerah lagi dan lagi. Masyarakat di salah satu kampung di Kalimantan Utara, misalnya, dipaksa menyerahkan lahannya demi sesuatu yang disebut proyek nasional. Ada juga petani di Malang, Jawa Timur, dipaksa merelakan tanahnya untuk perusahaan perkebunan.
Namun, ketika masyarakat tertindas kemudian (terpaksa) memilih menyerah atau nrimo (ing pandum),banyak orang justru mengkritisinya sebagai ketertundukan.
Padahal, acapkali masyarakat kecil memang tak punya kuasa untuk melawan atau memprotes. Jangankan kekuatan untuk itu, pemahaman bahwa dirinya sedang ditindas pun kerap kali nihil, baik karena ketidakpercayaan diri maupun kurangnya wawasan.
Lantas, kenapa orang-orang selalu menyepelekan kekalahan orang lain, seolah dirinya tak pernah kalah, tak pernah gagal?
Padahal, kekalahan orang-orang yang digusur rumahnya, dirampas lahannya, dan dipersempit ruang bicaranya, tidak jauh berbeda dengan kekalahan kita sehari-hari.
Kita kalah dari diri sendiri yang merumuskan resolusi saban tahun berganti. Kita kalah karena gagal menepati janji pribadi bakal berhenti merokok atau sekadar bangun pagi setiap hari. Kita kalah sebab gagal mencapai target penghasilan bulanan, yang nyatanya hanya secuil yang didapatkan. Kekalahan ini, kekalahan itu.
Dengan melabeli stigma buruk terhadap orang-orang nrimo, tidakkah itu hanya menutupi kekalahan diri sendiri yang terjadi setiap hari?
Kegagalan Adalah Keniscayaan
Menghitung kekalahan setiap hari jelas terlampau rumit sebab teramat banyaknya kegagalan yang dialami. Akan tetapi, soal itu bisa "disederhanakan" dengan tujuan-tujuan yang disusun berjangka. Salah satunya terkait resolusi tahun baru.
Semua orang menyambut tahun baru dengan cara masing-masing. Meski berbeda-beda, yang jelas, semuanya membawa harapan. Ada yang berduyun-duyun ke pusat kota, menanti kembang api sembari merapal doa dan harapan untuk hidup lebih baik di tahun depan. Ada pula yang sibuk merumuskan resolusi tahun baru, entah demi hidup lebih sehat, rezeki mengalir deras, karier melonjak, atau bahkan memperoleh hidayah agar beribadah lebih giat.
Pengharapan pada tahun baru merupakan sesuatu yang purba. Ia sudah ada sejak baheula. Pada masa Romawi Kuno, orang-orang mempersembahkan resolusi tahun baru berupa janji berperilaku baik kepada sang dewa, Janus. Dari situlah istilah januari berasal, yang kemudian tepat ditempatkan di awal tahun kalender Masehi.
Beriringan dengan pengadopsian penanggalannya, kultur resolusi pun turut terbawa hingga kini. Itu barangkali terjadi tanpa sadar, tapi mungkin pula sengaja diamalkan lantaran dianggap membawa manfaat.
Akan tetapi, tentu saja "ritual berharap" itu tidak selalu berjalan sesuai harapan. Setidaknya begitu menurut hasil penelitian berjangka tahunan yang dilakukan oleh John C. Norcross & Dominic J. Vangarelli.
Pada akhir dekade 1980, Norcross dan Vangarelli mengamati upaya perubahan diri dari 213 orang selama dua tahun. Mereka berdua ingin memastikan—mengingat jutaan resolusi selalu dipanjatkan setiap tahun—apakah benar semua orang bakal konsisten mewujudkannya atau sekadar harapan "kosong" belaka?
Dua peneliti itu memantau perkembangan resolusi para partisipan secara rutin, tepatnya pada minggu ke-1, ke-2, dan ke-3, lalu pada bulan ke-1, ke-3, dan ke-6, kemudian puncaknya pada akhir periode (2 tahun). Setiap memasuki waktu tersebut, peneliti menanyai para partisipan.
Setelah menginjak 2 tahun, para peneliti menganalisis hasilnya, kemudian mengambil kesimpulan. Pada pekan pertama, 77 persen partisipan berhasil mempertahankan dan mengusahakan resolusinya. Tapi masalahnya, bahkan hanya dalam hitungan tujuh hari, sudah ada 23 persen yang gagal dan menyerah!
Jika dikomparasikan, angka keberhasilan itu masih cukup optimistis. Namun, itu baru seminggu. Pengukuran komprehensifnya masih kurang sekitar 103 pekan.
Akhirnya, datanglah waktu itu. Tepat dua tahun setelahnya, peneliti mencatat perubahan kontras: dari 77 persen orang yang bertahan di pekan pertama, hanya tinggal 19 persen di antaranya yang teguh hingga dua tahun. Itu berarti, 81 persen mengalami kegagalan dalam urusan resolusi tahunan.

Sebelum pada Akhirnya Kita Menyerah
Penetapan tujuan yang tinggi dan spesifik acapkali dianggap sebagai doping untuk meningkatkan kinerja, ketekunan, dan motivasi. Makanya, hal itu sangat ditekankan dalam organisasi atau perusahaan. Begitu pula dalam hidup setiap individu.
"Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Kalaupun jatuh, kau akan jatuh di antara bintang-bintang." Begitu kutipan motivasi bergema di telinga kita sejak kecil.
Namun, beberapa studi menyebut sebaliknya. Artikel ilmiah Lisa D. Ordóñez dkk., misalnya, menyimpulkan bahwa tujuan dapat mempersempit fokus perhatian sehingga isu penting lain terlewatkan. Tujuan tinggi dan spesifik juga berpotensi meningkatkan pengambilan risiko dan perilaku niretis karena mementingkan pencapaian tujuan di atas lainnya.
Tak hanya itu, penetapan tujuan berimplikasi pada hasil akhirnya, terutama jika gagal. Jessica Höpfner dan Nina Keith membuktikan hal itu lewat penelitian yang terbit di jurnal Sec. Organizational Psychology (2021).
Penelitian dari Technical University of Darmstadt, Jerman, tersebut terdiri atas dua percobaan, yakni eksperimen kuesioner daring dan laboratorium.
Studi pertama dilakukan terhadap 185 sukarelawan yang direkrut secara acak. Mayoritas di antaranya merupakan buruh (62,4 persen). Setelah menerima dan berkomitmen dengan tujuan tinggi dan spesifik, peserta mengerjakan 10 item tes kecerdasan. Kemudian, mereka akan mendapat umpan balik fiktif tergantung kondisi, sedangkan para peneliti menilai dampaknya (afek, harga diri, dan motivasi).
Hasilnya sesuai dugaan. Peserta yang gagal mencapai tujuan menunjukkan afek ke arah negatif. Harga diri mereka juga menurun ketika mengalami kegagalan. Penurunan signifikan juga terjadi di aspek motivasi: peserta yang gagal mencapai tujuan mengalami degradasi motivasi.
Di laboratorium, eksperimen itu melibatkan peserta berbeda, yakni 86 sukarelawan dengan mayoritas karyawan (61,2 persen). Secara umum, dua faktor yang dibandingkan sama, yakni tujuan tercapai vs tujuan gagal. Hasilnya pun sama: afek, harga diri, dan motivasi seseorang akan menurun drastis jika tujuan yang ditetapkannya gagal tercapai.
Masalahnya lagi, tidak semua kegagalan membawa hikmah seperti kata orang bijak. "Kegagalan adalah guru terbaik," begitu kira-kira katanya. Strategic Management Journal membeberkan buktinya.
Sunkee Lee dan Jisoo Park memeriksa 300 ahli bedah di 133 rumah sakit di California, AS, yang melakukan operasi jantung coronary artery bypass graft (CABG) selama 15 tahun (2003-2018). Dua peneliti itu mencoba menelaah hikmah yang bisa didapatkan oleh para dokter yang gagal dalam operasi. Kegagalan di sini diukur berdasarkan jumlah kematian selama operasi.
Di beberapa kegagalan awal, para dokter mampu belajar dari kesalahan. Namun, sekali lagi, itu hanya di awal. Setelah melewati batas kegagalan tertentu, semua dokter mulai jenuh. Kegagalan tak lagi mampu meningkatkan kinerja dan tidak memperbarui pengetahuan mereka, bahkan meski lingkungan tugasnya berganti.
"[Setelah kegagalan berulang kali] saya merasa sangat frustrasi. Saya sangat meragukan apakah saya pantas jadi ahli bedah. Beberapa kejadian negatif bisa menjadi kesempatan belajar, tetapi jika terjadi lebih dari itu, saya rasa saya tidak memenuhi syarat," kata seorang ahli bedah, dalam catatan hasil penelitian tersebut.
Para ahli tentu saja berharap ada titik atau angka pasti ketika kegagalan mampu diolah sedemikian rupa menjadi pembelajaran. Begitu juga para motivator, yang berupaya membuat orang-orang kembali jadi optimistis dan mampu menetapkan tujuan tinggi demi, katanya, "hidup yang lebih tertata dan baik."
Namun, jauh sebelum para peneliti membuktikan secara empiris soal kegagalan, Arthur Schopenhauer, filsuf pesimisme, dalam esai "On the Sufferings of the World", telah lebih dulu menegaskan, "Penderitaan secara umum adalah hal biasa." Ia bahkan menganggap keberhasilan dan kebahagiaan sebagai "hal negatif", sebab pada dasarnya keberadaan manusia adalah kesengsaraan. Memperoleh kebahagiaan berarti sedikit terbebas dari penderitaan.
Setelah mengingat kegagalan yang menimpa bertubi-tubi, membaca epos yang berakhir sengsara, mendengarkan kisah warga yang kalah dan dirampas ruang hidupnya, dan melihat kembali ke kehidupan pribadi, tidak ada salahnya mengeja lagi beberapa larik puisi Chairil Anwar "Derai-Derai Cemara":
...
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah.
=======================
Judul artikel dan subjudul terakhir diambil dari penggalan puisi Chairil Anwar bertajuk "Derai-Derai Cemara" yang dihimpun dalam Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949).
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id




































