22 Oktober

Hari Santri Nasional Ada Berkat Jasa Fahri Hamzah

Oleh: Arlian Buana - 22 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Jika Fahri Hamzah tidak pernah berkomentar "Sinting!" untuk gagasan penetapan Hari Santri, boleh jadi Jokowi tidak jadi presiden dan aspirasi kaum santri itu nasibnya masih terlunta-lunta.
tirto.id - Kaum santri pantas berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Fahri Hamzah. Tanpa peran Fahri, belum tentu ada peringatan besar-besaran Hari Santri Nasional seperti yang tampak dalam tiga tahun terakhir.

Fahri Hamzah bukan hanya nyaris terlupakan, ia bahkan sempat dianggap batu penghalang, padahal perannya justru sangat menentukan.

Kalau bukan karena Fahri, kunjungan Joko widodo, yang ketika itu berstatus calon presiden, ke Pesantren Babussalam di Malang pada 27 Juni 2014 hanya akan menjadi acara biasa yang paling-paling akan diberitakan selewat oleh stasiun-stasiun berita di televisi.

Jika Fahri tidak bereaksi, kontrak politik yang ditandatangani Jokowi — untuk menetapkan 1 Muharam sebagai Hari Santri jika terpilih menjadi presiden akan menjadi — bisa menjadi hanya perjanjian biasa yang tidak akan berdampak apa. Beberapa orang akan menyebutnya berlebihan dan sisanya kalem-kalem atau bahkan tertawa-tawa saja. Sebab andai Fahri tidak berkomentar atas peristiwa itu, tidak ada yang bisa menjamin Jokowi akan terpilih menjadi presiden.

Tentu saja ada banyak orang yang berperan dalam proses lahirnya hari santri. Salah satunya Thoriq bin Ziyad, pengasuh Pondok Pesantren Babussalam. Ia sudah mengupayakan hari santri sejak 2009. Namun, upaya itu, hingga kekuasaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berakhir, hanya menjadi rekomendasi belaka.

Baca juga: Hari Santri Momentum Merajut Kebhinekaan

Harus diakui pula kecerdikan tim pemenangan Jokowi dalam menangkap peluang ini, yang berujung pada kontrak politik. Siapapun ia, atau mereka yang pertama kali membisikkan ke telinga Jokowi, jasanya sungguh besar.

"1 Muharram jadi Hari Santri Nasional, saya sanggupi," kata Jokowi seusai acara di Pondok Pesantren Babussalam. "Itu wajib diperjuangkan."

Tapi kunjungan Jokowi itu tetap saja cuma safari politik biasa. Prabowo Subianto, saingan Jokowi, juga melakukannya di tempat lain dan mengucapkan janji-janji dan menandatangi kontrak-kontrak dan gaungnya biasa saja.

Betul, keduanya sama-sama mendapat perhatian awak media, dan masing-masing punya corong sendiri di televisi. Tapi tak ada yang tahu pasti bagaimana membuat kegiatan politik di hari-hari terakhir menjelang coblosan pada 30 Juni 2014 itu menjadi bahan pembicaraan orang di seluruh Indonesia. Lebih dari itu, tak seorang pun di kubu tiap-tiap capres yang hakulyakin akan meraih kemenangan.

Skor kedua pasangan di berbagai survei masih tipis. Ada yang mengunggulkan Prabowo-Hatta, ada pula yang memenangkan Jokowi-JK. Semua orang di lingkaran dalam para calon, khususnya Jokowi-JK, masih ketar-ketir akan hasil akhir.

Semua berubah ketika negara api menyerang. Peta berubah ketika Fahri Hamzah berkicau.

Baca juga: Cara Nahdlatul Ulama Menghadapi Perbedaan

"Jokowi janji 1 Muharam hari santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!" tulis Fahri di akun Twitternya, 2 hari sebelum coblosan.

Tentu Fahri sadar ketika mengetiknya. Fahri tahu benar itu menjadi tugasnya sebagai pendukung Prabowo-Hatta. Tapi sepertinya ia kurang menghitung kicauannya akan digoreng habis-habisan pihak lawan untuk dijadikan "barang" atau senjata menghancurkan Prabowo-Hatta.

Fahri sepertinya kurang berhitung sejak awal bahwa twitnya yang kurang dari 140 karakter itu justru menjadi "gong" bagi kampanye kemenangan Jokowi, terlebih di hari-hari terakhir menjelang pilpres. Fahri tentu tak menyangka, kata "Sinting" yang dituliskannya menjadi salah satu blunder terbesar dalam sejarah politik Indonesia.

Di acara Mata Najwa, ia tampak tak berkutik setelah bertubi-tubi didesak oleh Najwa Shihab.

"Sinting itu Anda tujukan ke siapa?" tanya Najwa.

"Kalau Anda belajar bahasa yang benar, di situ ada titik."

"Jadi yang sinting siapa?" potong Najwa lagi.

"Kita di Indonesia ini kadang-kadang bilang, bercanda, di Twitter pribadi kita, 'gile, lu!', 'gile lu, Ndro!' itu biasa kita bercanda," kata Fahri, suaranya meninggi. "Tapi kalau dianggap serius, ya, kita akan klarifikasi secara serius. No problem."

Baca juga: Najwa, Wimar, J.S. Badudu: Talkshow yang Berhenti Tiba-Tiba

Kamera mengarah ke wajah Nusron Wahid, lawan debat Fahri, yang melotot tajam.

"Jadi ke siapa itu sinting-nya?" tanya Najwa, sekali lagi.

"Ya, kalau Anda lihat, itu soal ide!" kata Fahri, setengah membentak, benar-benar kehilangan ketenangan. Jauh berbeda dari penampilan Nusron yang begitu dingin, terukur, dan mematikan.

"Kata sinting dalam konteks itu bisa melekat pada tiga hal. Pertama, bisa Pak Jokowi-nya sinting," kata Nusron, disambut gelak tawa para penonton di studio Metro TV. "Kedua, bisa santri-nya sinting. Yang ketiga, bisa ide menjadikan-1-Muharam-sebagai-hari-santri sinting. Yang tahu siapa? Yang tahu, ya, Fahri. Tetapi publik yang membaca bebas untuk menginterpretasi. Sehingga orang tidak boleh disalahkan kalau kemudian menafsirkan macam-macam tentang Fahri."

Twit "Sinting" Fahri memang hanya diritwit 97 kali, kalah jauh dibanding twit dukungan Denny JA untuk Jokowi-JK yang diritwit sebanyak 995.556 kali tapi yang ditorehkan Fahri jauh lebih berdampak di akar rumput. Ia ditampilkan ribuan kali di berita-berita televisi, cetak, dan online dan dibicarakan hingga berhari-hari kemudian. Memicu ratusan demonstrasi kaum santri di berbagai daerah.

Jokowi, yang sebelumnya di desa-desa digosipkan beragama Kristen dan keturunan Cina dan segala macam, perlahan-lahan mendapat poin simpati berlimpah karena ide "Hari Santri" dan polemik "Sinting" itu.

Sementara rekan-rekan Fahri tidak bisa berbuat banyak, bahkan banyak yang memilih mengecam pernyataannya. Bola politik terus bergulir ke arah yang menguntungkan lawan.

Baca juga:
infografik mozaik resolusi jihad


Bayangkan jika Fahri tidak pernah berkomentar. Topik Hari Santri tidak akan pernah menjadi drama politik, tidak bunyi, dan belum tentu ada momentum perubahan angin politik di detik-detik terakhir pilpres. Bayangkan jika tak ada Fahri, apakah Jokowi masih akan terpilih? Bisa jadi, tapi tidak ada yang menjamin proses penetapan Hari Santri Nasional berlangsung cepat, dan kemungkinan Jokowi kalah juga masih terbuka.

Berkat Fahri Hamzah, jalan Hari Santri Nasional menjadi mulus. Bahkan penolakan beberapa pihak, misalnya dari Muhammadiyah, hanyalah ganjalan-ganjalan kecil ketika terjadi perubahan dari 1 Muharam ke 22 Okober. Setahun lebih sedikit masa pemerintahannya, di Masjid Istiqlal, Jokowi memilih 22 Oktober, hari di mana Resolusi Jihad dicetuskan Pendiri NU KH Hasyim Asyari pada 1945 untuk mengantisipasi kedatangan kembali Belanda dan para sekutunya.

Baca juga: Saat Seorang Anak Petani Bertamu ke Rumah Kiai Hasyim Asyari

"Sejarah mencatat, para santri telah mewakafkan hidupnya, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut," kata Jokowi dalam pidatonya. "Para santri, dengan caranya masing-masing, bergabung dengan seluruh elemen bangsa, melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, menyadarkan kesadaran, tentang arti kemerdekaan."

Dan sejak peringatan Hari Santri tahun lalu, Jokowi tampak semakin menyadari pentingnya mendekati dunia pesantren. Terlebih sejak rangkaian Aksi Bela Islam pada tanggal-tanggal cantik: 411, 212, dan seterusnya. Dalam setahun, Jokowi mengunjungi 20 pesantren di seluruh Indonesia dan menghadiri acara-acara penting yang berkaitan dengan para santri.

Menjelang Pilpres 2019, Jokowi tentu ingin sekali lagi mendulang suara kaum sarungan itu—dan dalam banyak kesempatan bersantai ia sering tampil bersarung. Penting bagi Jokowi dipercaya kelompok santri sebagai presiden yang mewakili mereka, menyuarakan dan memperjuangkan kelompok mereka.

Apakah Jokowi akan berhasil? Biarkan sejarah yang bicara. Untuk saat ini, sejarah perlu mencatat bahwa Fahri Hamzah punya andil yang tidak kecil untuk memuluskan perayaan Hari Santri. Terima kasih, Fahri.

=====

Artikel ini tayang pertama kali pada 22 Oktober 2016. Redaksi mengunggahnya kembali dengan perubahan minor pada infografik.

Baca juga artikel terkait HARI SANTRI NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Arlian Buana
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Arlian Buana
Penulis: Arlian Buana
Editor: Zen RS