tirto.id - Tren kenaikan harga minyak dunia terus berlanjut pada perdagangan Senin (30/3/2026), setelah kelompok Houthi di Yaman berpihak pada Iran dengan melancarkan serangan pertama mereka terhadap Israel pada akhir pekan kemarin. Serangan ini menandakan konflik yang semakin meluas di Timur Tengah.
Berdasarkan catatan Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent melonjak 3,16 dolar Amerika Serikat (AS) atau 2,81 persen, menjadi 115,73 dolar AS per barel pada pukul 22.05 waktu setempat. Meski begitu, kenaikan ini lebih rendah dari lonjakan harga Brent pada Jumat (27/3/2026) pekan kemarin yang mencapai 4,2 persen.
Sementara itu, harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) berada di level 102,77 dolar AS per barel, naik 3,13, atau 3,14 persen, menyusul kenaikan 5,5 persen di sesi perdagangan sebelumnya.
Kepala ekonom global di JP Morgan, Bruce Kasman, menilai semakin lama Selat Hormuz ditutup, akan semakin banyak negara yang memutuskan untuk menarik pasokan penyangganya. Sehingga, memicu kenaikan 'dramatis' harga minyak mentah, gas alam dan komoditas lainnya.
"Skenario di mana Selat tetap ditutup selama satu bulan tambahan akan konsisten dengan kenaikan harga minyak menuju 150 dolar AS per juta barel dan kendala pada konsumen industri pasokan energi," katanya, dikutip Reuters, Senin (30/3/2026).
Di sisi lain, analis geo-ekonomi senior di CBA, Madison Cartwright menjelaskan, kontrol Iran atas Selat Hormuz telah mengganggu pasar energi dan pangan global. Sayangnya, dengan bergabungnya kelompok Houthi di Yaman pada konflik Teluk ini, membuat perang dapat berlangsung setidaknya sampai Juni 2026.
"Iran yang menguasai Selat Hormuz, memiliki kemampuan untuk mengganggu pasar energi dan pangan global, serta kapabilitas rudal dan drone yang berkelanjutan, membuatnya memiliki sedikit insentif untuk mengalah, sehingga memberi tekanan kepada Amerika Serikat untuk meningkatkan eskalasi,” kata Cartwright.
“Kami memperkirakan perang ini akan berlangsung setidaknya hingga Juni, dengan risiko yang cenderung mengarah pada konflik yang lebih panjang," tambahnya.
Tindakan keras terhadap Selat Hormuz ini telah menyebabkan harga minyak, gas, pupuk, plastik, dan aluminium melonjak. Pun dengan bahan bakar untuk pesawat dan pengiriman. Harga untuk makanan, farmasi dan produk petrokimia siap naik, menyusul masih terus berlangsungnya konflik Iran.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































