Menuju konten utama

Hampir Seribu Orang Tewas, Sumatra Berjuang dari Reruntuhan

Kala bencana mulai berlalu, warga pengungsi dihadapkan pada krisis air bersih dan kehilangan tempat mukim.

Hampir Seribu Orang Tewas, Sumatra Berjuang dari Reruntuhan
Header Decode Bagaimana Memulihkan Kerusakan Sumatra Usai Bencana. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jumlah korban jiwa akibat bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra kian hari kian bertambah. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Rabu (10/12/2025) pukul 18.00 WIB, bencana hidrometeorologi tersebut telah merenggut 969 jiwa. Sementara itu, sebanyak 252 orang dinyatakan hilang, dan 5 ribu lebih orang lainnya mengalami luka-luka.

Dari tiga provinsi di Sumatra yang terdampak bencana—Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat—Kabupaten Agam di Sumatra Barat menjadi wilayah dengan jumlah korban jiwa paling banyak. BNPB melaporkan setidaknya ada 181 orang meninggal akibat bencana di sana.

Bencana yang terjadi di akhir November 2025 itu juga menimbulkan kerusakan material yang masif. Di 52 kabupaten/kota yang terdampak, sebanyak 157.900 rumah milik warga mengalami kerusakan. Akibatnya, seturut data BNPB per Selasa (9/12/2025) lebih dari 890 ribu orang terpaksa mengungsi di posko-posko pengungsian.

Saat artikel ini disusun pada Selasa (9/12/2025), BNPB mengumumkan ada 391 orang yang meninggal dunia, 31 orang hilang, dan 4,3 ribu lebih orang mengalami luka-luka di provinsi Aceh. Kabupaten Aceh Utara memiliki jumlah korban jiwa terbanyak di seluruh Aceh–total mencapai 138 orang. Disusul dengan Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur dengan jumlah korban jiwa masing-masing sebanyak 58 dan 48 orang.

Akibat bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, sebanyak 138,5 ribu lebih rumah warga mengalami kerusakan. Selain rumah, bencana juga merusak 656 fasilitas umum, 149 fasilitas kesehatan, 308 fasilitas pendidikan, 199 rumah ibadah, 258 gedung/kantor, dan 313 jembatan.

Sementara itu, di Provinsi Sumatra Utara, korban meninggal dunia mencapai 338 orang, korban hilang 138 orang, dan korban luka-luka sebanyak 650 orang. Korban meninggal dunia terbanyak tercatat di Kabupaten Tapanuli Tengah–totalnya mencapai 110 orang. Selanjutnya, di Kabupaten Tapanuli Selatan ada 85 orang yang meninggal dunia, dan di Kota Sibolga ada 53 orang.

Bencana yang melanda 18 kabupaten/kota di Sumatra Utara telah merusak 11,2 ribu lebih rumah warga. Kerusakan akibat bencana juga menimpa 80 fasilitas umum, 1 fasilitas kesehatan, 60 fasilitas pendidikan, 19 rumah ibadah, dan 121 jembatan.

Terakhir, di Provinsi Sumatra Barat, bencana telah membuat 235 orang meninggal dunia, 93 orang hilang, dan 113 orang terluka. Korban jiwa terbanyak di Sumatra Barat berada di Kabupaten Agam. Lalu, Kabupaten Padang Pariaman terdapat 23 korban jiwa, dan Kota Padang Panjang terdapat 19 korban jiwa.

Akibat dari bencana, sebanyak 8,3 ribu lebih rumah, 486 fasilitas umum, 65 fasilitas kesehatan, 216 fasilitas pendidikan, 205 rumah ibadah, 29 gedung/kantor, dan 64 jembatan di Sumatra Barat mengalami kerusakan.

Memori yang Hanyut Tersapu Banjir

Di Tapanuli Selatan, bencana telah membuat 7,2 ribu lebih warga mengungsi. Banyak dari mereka yang harus merelakan tempat tinggalnya luluh lantak tersapu air dan lumpur yang mengamuk deras. Bukan hanya rumah yang hanyut terbawa air, melainkan juga kenangan yang tercipta di dalamnya.

Tak terkecuali bagi Abdul Salam dan Nurbaeti, sepasang suami istri dengan lima anak, yang harus merelakan rumah mereka di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, hancur diterjang banjir dan longsor pada Selasa (25/11/2025) lalu.

Rumah mereka kini tinggal sisa setengah bangunan. Meski begitu, Abdul dan Nurbaeti tetap bertekad untuk kembali ke rumah itu.

Dulu, rumah itu mereka bangun pelan-pelan, sedikit demi sedikit, dengan cara mengumpulkan uang dari hasil usaha berjualan martabak. Kini, bangunannya hanya tersisa dapur dan ruang keluarga.

Bagian atas rumah pun sudah menganga sebab atap sengnya terseret arus. Bahkan, banjir hampir membuat rumah itu roboh sepenuhnya akibat tiang pondasi yang sudah tercerabut.

Di ruang keluarga, hanya tersisa satu tiang penyangga yang apabila tersenggol oleh sedikit guncangan saja, tiang itu bisa langsung ambruk. Meski demikian, pasangan suami-istri itu rela memperjuangkan dan memperbaiki lagi "istana kecil" mereka.

Usai keadaan genting berlalu, Abdul Salam mencari sisa kayu di sekitar rumahnya untuk menggantikan tiang rumah yang hancur terseret banjir. Kemudian, dia memasangnya tanpa bantuan orang lain.

Namun, dia mengalami kesulitan saat harus menyambungkan kayu itu dengan bagian atap rumah yang tersisa. Dia pun meminta Nurbaeti naik ke atas pundaknya. Sang istri diminta menancapkan paku serta mengakali sedemikian rupa, agar tiang kayu bekas temuannya itu bisa sedikit mengokohkan rumahnya.

Kisah Suami Istri memperbaiki Rumah di Tapanuli Selatan

Pasangan suami istri Abdul Salam dan Nurbaeti sedang memperbaiki rumah mereka yang tersisa sepaeuh bangunan di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan pada Sabtu (6/12/2025). tirto.id/M. Irfan Al Amin

Nurbaeti bercerita, dia dan suaminya bekerja keras secara swadaya, mulai dari membersihkan sisa-sisa lumpur menggunakan sekop hingga memperkuat sejumlah tiang agar atap tak roboh.

"Hanya kami berdua membersihkan pasir dari kamar menggunakan sekop," kata Nurbaeti di rumahnya, Sabtu (6/12/2025) lalu.

Apabila ditilik dari jauh, rumah Abdul Salam dan Nurbaeti sedikit "beruntung". Sebab, hanya rumah itu yang "selamat" dari bencana, sedangkan sebagian besar rumah tetangganya telah rata dengan tanah.

Ada satu hal yang membuat Nurbaeti heran terhadap tragedi banjir dahsyat tersebut: ribuan kayu berukuran besar ikut terseret ke permukiman.

Dia menjelaskan, banjir pada 25 November lalu itu terjadi sebanyak dua kali. Banjir pertama setinggi betis, yang menurutnya menjadi "hal rutin" saat musim penghujan tiba. Namun, banjir kedua terjadi begitu cepat dan tingginya sampai sepinggang orang dewasa.

"Di sini, banjir adalah hal biasa, tapi baru kali ini ada kayunya," terangnya.

Saat ini, Nurbaeti beserta keluarga mengungsi di rumah saudara yang berjarak 1 kilometer dari rumahnya. Untuk bisa kembali ke rumah, Nurbaeti bersama suami dan anak-anaknya harus berjalan kaki menempuh jalan berdebu bekas lumpur yang dibawa banjir. Jika beruntung, ia bisa menumpang truk atau mobil milik relawan maupun pemerintah yang sesekali melintas.

Cerita Nurbaeti tentang ribuan gelondongan kayu besar yang terbawa banjir tak bisa dianggap enteng. Pasalnya, tepat di bawah Jembatan B0035 yang berlokasi di Jalan Lintas Antar Kota, Garoga, Kecamatan Batang Toru, wartawan Tirto mendapati ribuan gelondongan kayu yang menumpuk setelah terbawa arus banjir.

Ribuan batang kayu itu membuat debit air di Sungai Anggoli-Garoga meningkat drastis. Akibat tertahan oleh bangunan jembatan, laju kayu-kayu itu terhenti dan menumpuk di sisi sebelah kanan dan kiri jembatan.

Selain dipenuhi kayu, salah satu sisi dari jembatan itu kini juga terputus dan membuat akses distribusi bantuan terhambat.

Pidie Jaya Diselimuti Lumpur

Beralih ke Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, warga terdampak bencana kini tengah mengalami krisis air bersih usai banjir bandang menerjang wilayah tersebut pada 26 November 2025 lalu. Saat ini, warga hanya mengandalkan air yang diperoleh dari sumur bor untuk keperluan mandi dan mencuci.

Berdasarkan pantauan wartawan Tirto di lokasi pada Senin (8/12/2025), kondisi permukiman warga di Desa Mesjid Tuha, Pidie Jaya, Aceh, tampak masih dipenuhi lumpur tebal. Masyarakat setempat sangat sulit untuk membersihkan lumpur karena keterbatasan air.

Air sisa banjir di desa tersebut juga belum sepenuhnya kering. Hal itu terlihat dari jalanan becek yang dilalui oleh wartawan Tirto selama menyisir desa tersebut. Beberapa rumah tampak jebol dindingnya dan dipenuhi lumpur.

Salah seorang warga, Nurmalawati (56), mengatakan bantuan air bersih dari pemerintah yang masuk ke wilayahnya masih sangat minim. Akibatnya, mereka harus rela merogoh kocek pribadi untuk mendapatkan air bersih.

"Enggak ada, kami beli [air bersih] sendiri," kata Nurmalawati saat berbincang dengan wartawan Tirto di lokasi pengungsian.

Keluhan serupa disampaikan Bachtiar Arahman, warga Desa Meunasah Lhok, Pidie Jaya, yang kini desanya luluh lantak usai diterjang banjir. Menurut penuturannya, Bachtiar sempat melihat beberapa potongan kayu terbawa arus banjir dan menumpuk di sekitar rumahnya.

Bachtiar mengaku bantuan dari pemerintah tak kunjung sampai ke desanya sampai beberapa waktu usai banjir. Padahal, akses ke desanya kini sudah bisa dilalui kendaraan, meski kondis jalanannya masih becek.

"Air bersih sama sekali sampai hari ini belum sampai. Belum dapat," kata Bachtiar.

Lumpur juga mengendap di permukiman warga Desa Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya. Setidaknya, dua alat berat telah dikerahkan untuk membersihkan endapan lumpur di sana.

Keuchik (Kepala Desa) Babah Krueng, Ismail, mengatakan lumpur yang dibawa banjir menutupi hampir seluruh rumah penduduk di desa tersebut. Ketinggian lumpur disebutnya mencapai 2 meter.

"Yang dibutuhkan masyarakat di desa ini alat berat, selain kebutuhan dasar. Hampir semua korban banjir di desa ini belum bisa kembali ke rumah masing-masing karena tempat tinggal mereka tertimbun lumpur," kata Ismail pada Jumat (5/12/2025), dikutip dari Antara.

Ismail menjelaskan 1.200 jiwa dari 348 keluarga yang mukim di desa itu kini terpaksa harus mengungsi. Mereka mengungsi di meunasah (tempat ibadah), kantor desa, dan tempat-tempat lainnya. Menurutnya, rumah-rumah warga bisa dipenuhi lumpur karena adanya luapan dari Sungai Meureudu.

Bukan hanya manusia yang menjadi korban dari bencana di Pidie Jaya. Seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) juga ditemukan mati akibat banjir yang menerjang Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, pada Sabtu (29/11/2025) lalu.

Seturut pemberitaan Antara, bangkai gajah itu mulanya ditemukan oleh warga setempat. Gajah itu tampak tertimbun di antara tumpukan kayu dan lumpur. Setengah badan gajah itu terkubur, dengan kepalanya yang mengarah ke bawah.

"Di desa ini tidak ada gajah, warga belum pernah lihat gajah karena biasanya gajah ada di hutan. Baru sekarang ini kami lihat gajah mati karena banjir," kata Muhammad Yunus, warga Desa Meunasah Lhok, Sabtu (29/11/2025), dilansir dari Antara.

Yunus mengatakan warga tidak bisa memindahkan bangkai gajah itu karena kondisi medan yang sulit dan tidak ada peralatan memadai. Menurutnya, gajah itu kemungkinan terseret banjir dari hutan di bagian hulu sungai.

Gajah ditemukan mati akibat banjir

Seorang warga melintasi bangkai gajah sumatera yang ditemukan mati di daerah bencana banjir di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Sabtu (29/11/2025). ANTARA/FB Anggoro

Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, mengaku sudah mendapat informasi terkait penemuan bangkai gajah tersebut. Dia juga mengakui ada banyak kayu dari hutan yang hanyut terseret banjir sehingga menimbulkan kerusakan parah terhadap rumah warga, fasilitas umum, sekolah, sampai rumah ibadah di Pidie Jaya.

Meski begitu, ia mengaku belum bisa memastikan apakah banjir bandang yang melanda Pidie Jaya itu berkaitan langsung dengan kerusakan hutan yang terjadi di daerah hulu sungai.

"Sampai hari ini saya belum tahu kondisi di gunung bagaimana. Apakah kayu-kayu ini akibat penebangan atau apa, kami belum tahu. Insya Allah setelah ini kita akan cek kondisi hutan," kata Hasan, dikutip dari Antara pada Sabtu (29/11/2025).

Agam: Kabupaten dengan Korban Jiwa Terbanyak

Kabupaten Agam, Sumatra Barat, menjadi wilayah terdampak bencana dengan jumlah korban meninggal dunia terbanyak, yakni 178 orang. Sebanyak 57 orang di Agam juga dilaporkan masih hilang saat artikel ini ditulis.

Bencana hidrometeorologi turut membuat 1,5 ribu lebih rumah warga rusak. Selain itu, 11 fasilitas umum, 4 fasilitas kesehatan, 6 fasilitas pendidikan, 1 rumah ibadah, dan 4 jembatan di Agam juga ikut mengalami kerusakan.

Salah satu wilayah yang terdampak bencana cukup parah di Agam adalah Kecamatan Palembayan. Banjir melanda kawasan Palembayan pada Kamis (27/11/2025) sore. Menurut penuturan Neng Hartati (48), salah seorang warga yang tinggal di Nagari Salareh Aia, Palembayan, Agam, air dengan arus deras pada awalnya mendekat ke arah belakang area rumahnya sekitar pukul 17.00 WIB.

Dalam hitungan detik, perempuan yang lahir dan besar di Nagari Salareh Aia itu harus berlari mencari tempat berlindung karena aliran air terus membesar.

"Airnya besar sekali. Kami sudah jatuh-jatuh semua. Cuma bisa berlindung di belakang dapur rumah orang,” tutur Neng Hartati kepada Antara, Jumat (5/12/2025).

Di saat arus air terus membesar, warga yang berupaya menyelamatkan diri tak sanggup lagi bergerak jauh. Mereka akhirnya berpegangan pada dinding dapur dan menunggu arus air mereda.

Namun, hujan kembali turun dan air kembali pasang. Neng bersama sembilan orang lain terpaksa naik ke loteng rumah warga dan berdiam di sana hingga pukul 20.00 WIB malam.

Dalam keadaan mencekam itu, anak laki-lakinya yang berusia 11 tahun terpisah darinya. Anaknya itu terseret arus bersama empat orang temannya. Neng sempat berusaha mengejar, tetapi terhalang kayu-kayu besar yang terbawa aliran banjir.

"Alhamdulillah, kelimanya selamat. Saya baru ketemu anak saya pukul 22.00 WIB di posko," ucapnya.

Setelah air surut, warga hanya bisa menunggu bantuan datang. Keluarga Neng yang berasal dari Pasaman kemudian tiba dan membantu mereka berjalan keluar melalui lumpur hingga mencapai jembatan dan lokasi aman.

Neng baru melihat kondisi rumahnya kembali pada Rabu (3/12/2025) atau enam hari setelah kejadian. Sebagian rumahnya kini sudah tertimbun lumpur, termasuk dua mobil yang terparkir di dalamnya.

"Hati saya hancur. Rumah sudah tertimbun lumpur. Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan," kata dia.

Untuk itu, Neng berharap pemerintah dapat segera memberikan bantuan berupa rumah sementera bagi korban bencana seperti dirinya dan para tetangga usai rumah-rumah mereka dinyatakan rusak total.

Sejauh ini, dia mengaku sudah merasa cukup dengan berbagai bantuan logistik yang diberikan oleh pemerintah. Namun, permasalahan utama saat ini menurutnya adalah ruang posko pengungsian yang semakin dipadati oleh pengungsi.

“Inginnya dibikinkan rumah sementara dulu. Kalau bisa, direlokasi ke tempat yang aman. Di posko ini, banyak orang, ada anak-anak, bapak-bapak,” ujar Neng.

Dalam menangani dampak pasca bencana, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam telah mengerahkan 33 alat berat berbagai jenis untuk mencari korban yang masih hilang sembari membersihkan endapan lumpur. Alat berat diperoleh dari berbagai dinas terkait, perusahaan swasta, sampai hasil menyewa.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Agam, Ofrizon, mengatakan alat-alat berat itu disebar ke beberapa titik untuk mempermudah proses penanganan bencana. Meski begitu, Kecamatan Palembayan menjadi titik yang paling difokuskan karena kondisinya memang sangat parah.

Setidaknya, sebanyak 16 alat berat dikerahkan ke Palembayan.

"Kecamatan Palembayan paling banyak alat berat karena banyak titik longsor dan ditambah alat berat untuk pencarian korban yang masih dinyatakan hilang sebanyak 69 orang," ucap Ofrizon pada Minggu (7/12/2025), dikutip dari Antara.

Sisa alat berat lainnya kemudian didistribusikan secara merata ke berbagai kecamatan di Agam. Ofrizon menjelaskan 4 unit alat berat dikerahkan ke Kecamatan Malalak, 4 unit ke Kecamatan Tanjung Raya, 4 unit ke Kecamatan Ampek Koto, 3 unit ke Kecamatan Matur, 1 unit ke Kecamatan Palupuh, dan 1 unit ke Kecamatan Ampek Angkek.

Ofrizon menambahkan, kebutuhan alat berat telah didatangkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan kondisi di lapangan. Mengingat kerusakan yang masif, alat berat yang didatangkan pun disebutnya harus berkemampuan besar.

Saat ini, dia mengakui masih ada banyak kebutuhan pengerahan alat berat di Agam, khususnya di Palembayan. Di Palembayan, alat berat digunakan bukan hanya untuk membuka akses jalan, tetapi juga mencari korban hilang yang jumlahnya begitu besar.

"Kita juga membutuhkan alat berat lainnya seperti, buldozer, loader, gridder, dump truck dan dukungan BBM untuk alat berat," katanya.

Hingga kini, pemerintah pusat urung menetapkan status darurat bencana nasional untuk Sumatra. Kendati demikian, sejak awal Desember lalu, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, telah menyatakan pemerintah pusat menangani langsung penanganan pascabencana. Utamanya, terkait pengiriman bantuan ke daerah-daerah terdampak.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya mengirim logistik bantuan dan peralatan ke wilayah-wilayah terdampak di Sumatra.

Muhari merinci, per Selasa (9/12/2025), total pendistribusian bantuan di Provinsi Aceh telah mencapai 31,62 ton. Pada Selasa itu, pemerintah melalui Pos Pendamping Nasional yang terletak di Lanud Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh juga mengirimkan dukungan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar sebanyak 20 drum atau seberat 4 ton ke wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah.

“Sedangkan untuk jumlah logistik yang telah didistribusikan di Provinsi Sumatra Utara berjumlah 7,1 ton yang dikirimkan dengan 14 sorti pengiriman. Adapaun jenis barang yang paling banyak dikirimkan berupa permakanan,” terang Muhari melalui keterangan resmi, dikutip Rabu (10/12/2025).

Sementara itu, pengiriman logisitik ke Sumatra Barat berjumlah 44 ton dengan rincian 27,7 ton menggunakan jalur darat, 2,9 ton jalur udara, dan 13,4 ton melalui laut.

Kini, seiring mulai tersambungnya beberapa jalur darat yang sempat terputus, pemerintah pun mulai mengoptimalkan pengiriman bantuan. Keunggulan distribusi jalur darat, menurut Muhari, adalah jumlah tonase yang diangkut dapat lebih besar dan bervariasi.

“Sedangkan untuk jalur udara juga akan dioptimalkan menyentuh lokasi-lokasi yang terdapat masyarakat yang terpisah atau aksesnya terbatas. Hal ini menjadi komitmen kuat tim gabungan dari TNI, Polri, maupun pemerintah daerah guna memenuhi kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak,” tutup Muhari.

==========

Irfan Amin, Fransiskus Adryanto Pratama, dan Alfitra Akbar berkontribusi dalam artikel ini.

Baca juga artikel terkait PENANGANAN BENCANA atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Decode
Reporter: Naufal Majid, Irfan Amin, Fransiskus Adryanto Pratama & Alfitra Akbar
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fadrik Aziz Firdausi