Menuju konten utama

Gunung Gajah Pemalang dalam Naungan Ritual dan Identitas Lokal

Ritual dan kisah legenda ialah salah satu cara masyarakat setempat menjaga alam, termasuk gunung. Demikian halnya yang terjadi di Pemalang, di Gunung Gajah.

Gunung Gajah Pemalang dalam Naungan Ritual dan Identitas Lokal
Gunung Gajah Pemalang. wikimeida/Pieselection77

tirto.id - Menjulang di sisi selatan Kabupaten Pemalang, tepatnya di Desa Gongseng, Kecamatan Randudongkal, Gunung Gajah berdiri setinggi 500-an meter di atas permukaan laut.

Gunung kapur tersebut bukan sekadar gugusan batu yang memikat mata. Ia menyimpan legenda tentang seekor gajah raksasa, jejak sejarah masyarakat desa, serta simbol spiritual yang diwariskan turun-temurun.

Dalam pandangan masyarakat lokal, Gunung Gajah adalah ruang yang mengikat mitos dan realitas. Ia juga menjadi simbol identitas bagi warga Gongseng.

Legenda dan Cerita Lokal

Sekilas pandang, Gunung Gajah memang sedikit menyerupai wujud gajah yang tengah berbaring. Sebagian mungkin ada yang menganggapnya kebetulan atau memaksakan. Namun yang jelas, bagi masyarakat Gongseng, bentuk itu lebih dari kebetulan.

Cerita rakyat yang berkembang menyebutkan bahwa nama tersebut berasal dari kisah seekor gajah raksasa yang dikutuk menjadi batu. Ada pula yang meyakininya sebagai pengejawantahan dari kerajaan siluman hewan, dan karena itulah bentuknya mirip gajah.

Terlepas dari mitos sejarah asal-usulnya, Gunung Gajah di Pemalang menjadi pusat kegiatan budaya yang hingga kini masih dijalankan. Salah satunya adalah tradisi Suronan, upacara adat yang digelar setiap memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa.

Di Gunung Gajah, tradisi tersebut rutin diselenggarakan oleh masyarakat sekitar dan menjadi magnet bagi warga dari berbagai daerah. Tak hanya warga lokal, ada juga yang datang dari luar Pemalang, bahkan luar Jawa Barat, untuk turut serta dalam rangkaian acara yang dianggap bernilai spiritual tinggi.

Puncak acara Suronan biasanya berupa ruwatan, ritual tradisi Jawa yang bertujuan membersihkan diri dari kesialan, menolak bala, sekaligus memohon keselamatan. Tahun demi tahun, sub-acara tersebut jamak dilaksanakan di kediaman Mbah Romo Slamet Sudoro, sesepuh sekaligus tokoh spiritual yang memimpin jalannya prosesi.

Salah satu bagian paling penting dalam ruwatan adalah pembacaan Kidung Kalacakra, kidung Jawa kuno yang dipercaya sebagai doa penolak bala. Sejak kidung dinyanyikan dengan lantunan khidmat, suasana jalannya ritual berubah menjadi sakral dan khusyuk. Warga yang hadir mengikuti dengan penuh penghormatan, menjadikan acara ini bukan sekadar tradisi, melainkan juga ruang untuk mempererat ikatan batin antarwarga dan menjaga kesinambungan warisan leluhur.

Tradisi Suronan di Gunung Gajah tidak hanya menjadi sarana spiritual, tetapi juga bagian dari identitas budaya lokal yang terus dilestarikan. Di tengah perubahan zaman, keberadaannya menjadi bukti bahwa masyarakat masih menempatkan nilai-nilai kearifan tradisional, termasuk mitos dan legenda asal-usulnya, sebagai bagian penting dalam kehidupan.

Legenda semacam itu bukanlah hal baru dalam tradisi Jawa. Clifford Geertz (1960) dalam The Religion of Java mencatat, masyarakat Jawa kerap menghubungkan bentang alam dengan hal gaib atau peristiwa spiritual.
Gunung, bukit, atau batu besar, sering dianggap sebagai tempat bersemayamnya makhluk halus maupun roh leluhur.

Demikian halnya dengan yang terjadi di Gunung Gajah. Ia berfungsi sebagai tempat bertirakat, berdoa, sekaligus ruang tradisi, yang tanpa sadar mengundang pengunjung dari berbagai penjuru daerah.

Gunung Gajah Pemalang

Gunung Gajah Pemalang, Jawa Tengah. (Sumber: Tegal Terkini)

Dari Kesakralan hingga Jadi Destinasi Kebudayaan

Transformasi Gunung Gajah mulai terasa sejak sektor pariwisata Pemalang berkembang pesat selama dua dekade terakhir. Bentang alamnya yang indah sekaligus kisah sakralnya membuat Gunung Gajah menarik perhatian wisatawan, dari peziarah hingga pelajar yang datang untuk belajar sejarah dan budaya lokal.

"Gunung Gajah adalah contoh bagaimana alam dan budaya bertemu. Ia tidak hanya sekadar bentang alam, melainkan ruang sosial dan spiritual masyarakat. Tanpa Gunung Gajah, identitas Desa Gongseng tidak akan sekuat sekarang,” ujar Ahmad Zubaedi, pengamat sejarah, Jumat (22/8).

Bagi masyarakat Pemalang, keberadaan Gunung Gajah turut membuka peluang ekonomi baru. Warung-warung sederhana mulai bermunculan di sekitar lokasi, menjual makanan tradisional, minuman hangat, dan oleh-oleh kecil untuk pengunjung.

Data Dinas Pariwisata Kabupaten Pemalang tahun 2022 mencatat, kunjungan ke Gunung Gajah meningkat sekitar 35 persen pasca-pandemi. Angka tersebut memperlihatkan bahwa daya tarik antara spiritualitas dan ekowisata dapat berjalan beriringan.

Seorang pertapa asal Tegal, Bagaskara, yang kerap melakukan tirakat di kawasan ini, mengaku menemukan kedamaian batin.

"Saya sudah beberapa kali bolak-balik ke Gunung Gajah untuk lelaku. suasananya tenang, udaranya sejuk, dan bagi saya pribadi ada energi spiritual yang membuat hati lebih ringan untuk mendapatkan ketenangan batin,” katanya, Jumat (21/8).

Kehadiran peziarah dari luar daerah menegaskan bahwa Gunung Gajah bukan hanya menjadi milik warga Gongseng, melainkan telah menjadi bagian dari jaringan spiritual Jawa yang lebih luas.

Gunung dan Identitas Lokal

Upaya masyarakat melekatkan identitasnya dengan bentang alam gunung sudah terjadi sejak lama, terutama di Jawa. Merujuk pada artikel jurnal Dani Sunjana (2019), sejatinya gunung-gunung telah menjadi wawasan kosmologi dan orientasi spiritual bagi masyarakat dan kerajaan sejak masa Jawa Kuno.

Gunung Gajah bagi warga Gongseng ibarat “penjaga desa”. Bahkan, sampai saat ini warga masih melaksanakan ritual sedekah bumi di kawasan kaki gunung. Upacara tersebut bukan sekadar wujud rasa syukur atas panen, tetapi juga penghormatan kepada alam.

Selain itu, Gunung Gajah menjadi sarana pendidikan kultural. Banyak sekolah di Pemalang menjadikan lokasi tersebut sebagai tujuan study tour atau penelitian lapangan. Guru-guru memanfaatkan narasi legenda, nilai sejarah, hingga pelestarian lingkungan di sekitar gunung, sebagai bahan ajar bagi generasi muda.

Harapannya, anak-anak tidak hanya mengenal Gunung Gajah sebagai objek wisata, melainkan juga bagian dari identitas budaya mereka.

Relevansi Masa Kini

Di tengah derasnya arus modernisasi, Gunung Gajah tetap hadir sebagai ruang edukasi sekaligus refleksi. Bagi masyarakat Gongseng, gunung ini menjadi simbol kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan, yang kemudian dirawat dengan ritual dan edukasi.

Generasi muda bisa belajar menghargai warisan alam dan budaya leluhur, sekaligus memahami bahwa menjaga lingkungan berarti menjaga sejarah dan identitas.

Tantangannya tentu tidak ringan. Modernisasi sering kali mendorong eksploitasi berlebihan, sementara kebutuhan wisata juga dapat menggerus kesakralan situs.

Namun sejauh ini, warga bersama pemerintah desa masih berupaya menjaga keseimbangan. Beberapa area yang dianggap sakral tetap dijaga agar tidak dijadikan arena komersial, sementara jalur wisata dibuka di bagian lain gunung.

Gunung Gajah berdiri bukan hanya sebagai batu karang di Pemalang, melainkan penjaga ingatan kolektif masyarakatnya. Dari legenda hingga realitas, dari wadah ritual hingga objek wisata, gunung ini tetap tegak sebagai saksi perjalanan waktu.

Ia seakan berbisik kepada setiap pengunjung bahwa alam, budaya, dan manusia adalah satu kesatuan yang harus dijaga bersama. Dalam bisikan itu, tersimpan pesan bahwa identitas lokal tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari kesetiaan menjaga warisan leluhur.

=====

Tegalterkini.id adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.

Baca juga artikel terkait RITUAL AGAMA atau tulisan lainnya dari Tegalterkini.id

tirto.id - Horizon
Kontributor: Tegalterkini.id
Penulis: Tegalterkini.id
Editor: Fadli Nasrudin