Menuju konten utama

Gubernur BI Yakin Pelemahan Rupiah Hanya Jangka Pendek

Dengan melihat kondisi fundamental nilai tukar, Perry menilai ke depan rupiah masih akan terus mengalami penguatan.

Gubernur BI Yakin Pelemahan Rupiah Hanya Jangka Pendek
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan sambutan saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi 2023 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (31/8/2023). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, meyakini pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir hanya berlangsung dalam jangka pendek. Sementara, keoknya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dipengaruhi oleh faktor-faktor teknis.

“Nilai tukar ini adalah karena faktor-faktor kami sebut technical. Faktor-faktor karena jangka pendek,” ujar Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).

Sebaliknya, secara fundamental nilai tukar rupiah masih mengalami penguatan. Meski, Perry mengakui bahwa sampai saat ini rupiah masih undervalued, dimana nilai tukar lebih rendah daripada yang seharusnya berdasarkan kondisi perekonomian Indonesia yang sebenarnya.

“Ya (rupiah masih undervalued),” lanjutnya singkat.

Namun, dengan melihat kondisi fundamental nilai tukar, Perry menilai ke depan rupiah masih akan terus mengalami penguatan.

Bukan tanpa dasar, ramalan ini disampaikannya setelah melihat indikator fundamental yang cukup baik, mulai dari inflasi rendah, pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan akan terus menguat, hingga imbal hasil investasi yang menarik.

“Dan tentu saja adalah bagaimana komitmen Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah dan mengarahkan rupiah ke arah yang lebih kuat,” tutur Perry.

“Sekali lagi, tekanan inflasi rupiah sekarang adalah faktor-faktor teknikal karena ketidakpastian global yang meningkat. Dan ke depan kami meyakini akan menguat secara fundamental,” tegasnya.

Sama halnya dengan rupiah, secara fundamental inflasi juga dipastikan tidak mengalami kenaikan. Menurut Perry, inflasi saat ini mengalami peningkatan karena faktor-faktor jangka pendek yang berkaitan dengan peningkatan harga pangan.

“Inflasi yang meningkat sekarang adalah bukan inflasi fundamental (inflasi inti). Inflasi yang sekarang meningkat karena memang faktor-faktor jangka pendek karena berhubungan dengan kenaikan harga pangan. Karena ada gangguan cuaca dan kemarin juga ada bencana yang mempengaruhi faktor distribusi,” jelas dia.

Namun demikian, untuk melunakkan tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia terus melakukan intervensi, baik di pasar spot maupun di luar negeri melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

“Nah, karena itu bagaimana koordinasinya? Yang tekanan Rupiah tadi sudah saya jelaskan, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di luar negeri (DNDF), pasar Asia, Eropa, Amerika, kami terus berada di pasar luar negeri. Di dalam negeri kami juga intervensi di pasar tunai, spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward,” tutup Perry.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Bayu Septianto