Menuju konten utama

GITEX ASIA 2025: Kesiapan Ekosistem, Modal Utama Implementasi 5G

CEO Indosat Ooredo Hutchison, Vikram Sinha, menyatakan pentingnya untuk memastikan kesiapan ekosistem untuk dapat merasakan manfaat maksimal dari 5G

GITEX ASIA 2025: Kesiapan Ekosistem, Modal Utama Implementasi 5G
Dr. Anna Yip (CEO International Digital Services, Singtel), Vikram Sinha (CEIO Indosat Ooredo Hutchison), T Kugan (Chief Innovation Officer, CelcomDigi), Dr. Magnus Ewerbring (Chief Technology Officer APAC, Ericson), Julian Gorman (APAC MD, GSMA). tirto.id/Dwi Ayuningtyas
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perkembangan teknologi 5G di Asia Tenggara menjadi salah satu topik hangat yang dibahas dalam ajang GITEX ASIA x Ai Everything Singapore 2025, salah satu pameran teknologi terbesar di dunia. Acara yang berlangsung selama 23-25 April di Marina Bays Sands tersebut mempertemukan lebih dari 700 perusahaan teknologi dan 250 investor global dari 70-an negara.

Dalam diskusi yang melibatkan pemimpin perusahaan teknologi, CEO Indosat Ooredo Hutchison, Vikram Sinha, menegaskan perlunya kesiapan ekosistem secara keseluruhan untuk memaksimalkan dampak dan manfaat teknologi 5G. Ini terutama penting bagi Indonesia yang memiliki tantangan geografis dan demografis yang unik dibanding negara Asia Tenggara lainnya.

Menurut Vikram, percuma saja memiliki jaringan 5G yang canggih jika ekosistem sekitarnya belum siap untuk memanfaatkan kecepatan dan kapabilitas yang ditawarkan. Dirinya bahkan membandingkan pengalamannya menggunakan 5G di Singapura dan Malaysia dengan Jakarta yang masih didominasi 4G, tak ada perbedaan signifikan.

“Saya di Singapura, saya menggunakan 5G. Saya pergi ke KL (Kuala Lumpur), saya menggunakan 5G. Saya di Jakarta, saya menggunakan 4G. Saya tidak melihat ada perbedaan,” ungkap Vikram pada GITEX ASIA 2025, Rabu (23/4).

Indonesia berada dalam tahapan yang benar untuk tidak terburu-buru dalam mengejar 5G dan memastikan ekosistemnya siap. Karena semua pihak yang terlibat, baik publik maupun swasta, harus sama-sama siap.

“Tantangannya adalah, ini bukan soal seberapa siap perusahaan kita. Perusahaan yang kita ajak kerjasama juga harus sama-sama siap. Jadi sekali lagi, kamu harus mengajak semua pihak untuk ikut serta”, imbuhnya.

Pandangan Vikram ini memberikan kontras yang menarik dengan kemajuan 5G di Singapura, dimana CEO International Digital Services Singtel, Dr. Anna Yip, menggambarkan situasi yang lebih kondusif. Bahkan Negeri Singa sudah dalam tahap pengembangan “5G Plus” yang memiliki spektrum hingga 700MHz. Ini berarti jangkauan yang lebih luas dan performa yang jauh lebih memuaskan.

“Spektrum 700 MHz memberi kekuatan sinyal dan memungkinkan menjangkau banyak area dengan performa yang lebih baik. Misalnya, basement, gedung tinggi, dan area dengan banyak bangunan beton. Jadi, kami sangat antusias dengan hal ini,” pungkas Anna, Rabu (23/4).

Anna juga menjelaskan beberapa sektor yang sudah merasakan manfaat atas pengembangan jaringan ini, utamanya di sektor kesehatan dan keamanan.

“Jadi, kami membawa teknologi ini ke sektor-sektor tertentu seperti kesehatan. Ini adalah sektor-sektor utama, termasuk juga keamanan, yang kami lihat bisa sangat diuntungkan dari kombinasi 5G Plus dengan teknologi baru lainnya,” jelasnya.

Kesiapan ekosistem di berbagai sektor industri adalah hal yang mendasar. Keberhasilan Singapura dalam mengimplementasikan 5G menjadi bukti pentingnya sinergi antara ketersediaan infrastruktur dan kemampuan ekosistem untuk mengadopsi dan berinovasi dengan teknologi tersebut.

Baca juga artikel terkait TEKNOLOGI AI atau tulisan lainnya dari Dwi Ayuningtyas

tirto.id - Byte
Penulis: Dwi Ayuningtyas
Editor: Nuran Wibisono