tirto.id - Kampung Bustaman sedang punya hajat. Selama beberapa hari, warga di permukiman padat Kota Semarang tersebut bersuka ria mempersiapkan Gebyuran Bustaman, tradisi rutin jelang Ramadhan.
Di hari libur, Minggu (23/2/2025), Juwairiyah sibuk sedari pagi. Tangannya cekatan membungkus air ke dalam kantong plastik transparan. Airnya diberi pewarna, mulai dari merah, kuning, hingga jingga.
"Mbungkus air buat nanti lempar-lemparan pas gebyuran," ucap perempuan berusia 75 tahun itu, saat kami temui di depan rumahnya di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Di belakang tempat duduk Juwairiyah, terlihat sudah ada tumpukan kemasan air. "Nggak tahu [tepatnya] berapa bungkus. Banyak banget, ratusan. Tadi pagi mbungkusin bareng anak cucu."
Bungkus-membungkus tidak hanya dilakukan keluarga Juwairiyah, melainkan seluruh warga di Bustaman, kampung yang bersebelahan dengan Kawasan Pecinan dan Kota Lama Semarang.
Sedikitnya terdapat 15 ribu air kemasan yang nantinya akan dipakai untuk perang air. Jumlah tersebut diestimasi dari rata-rata pengemasan yang dilakukan di setiap rumah. Per rumah rerata mengemas 300 bungkus, sementara di kampung itu ada lebih dari 50 rumah.
Coreng-moreng di Muka Simbol Melekatnya Dosa
Pada hari yang sama, selepas zuhur, ada sekelompok warga yang bertugas mengolesi muka seluruh peserta Gebyuran Bustaman. Aktivitas ini disebut coreng-coreng atau pencoretan wajah.
Widyastuti merupakan salah satu warga yang mendapat tugas coreng-coreng. Ia tampak sibuk mencegat semua pejalan yang melintas di depannya.
Tangan kiri Widya menenteng mangkuk berisi bedak dingin yang diberi pewarna. Sementara itu, tangan kanannya memegang kuas, siap menyasar wajah tak bernoda.
Jika sasarannya orang tua, Widya akan permisi dulu. Akan tetapi, jika bidikannya anak muda, tidak ada basa-basi, ia akan mengeluarkan jurus paksanya.
Tingkah Widya masih mending. Ada rekannya yang lebih serampangan, mencelupkan sepenuhnya telapak tangan ke dalam mangkuk berisi bedak dingin, lalu mengoles sekenanya ke muka orang lain.
Pencorengan wajah ini merupakan bagian dari ritual Gebyuran Bustaman. Tokoh warga setempat, Ashar, mengatakan, sebelum mengikuti Gebyuran, muka peserta wajib belepotan. Coretan di wajah adalah simbol dosa yang melekat pada diri manusia.
"Kita, kan, banyak dosa, banyak salah sama keluarga, tetangga, dan sebagainya. Nah, itu disimbolkan dengan corang-coreng. Biar bersih, harus digebyur. Maka, muncul tradisi gebyuran," ujar Ashar, yang juga Ketua RW di Kampung Bustaman.
Ritual Gebyuran
Ritual Gebyuran dilakukan selepas Asar. Pusat keramaian bertumpu di dekat musala.
Sebagai awalan, ada lima anak yang duduk berjejer, lalu diguyur air dari kendi. Air membasahi sekujur tubuh mereka. Noda coretan di muka pun luntur.
Pada saat bersamaan, semua orang bersiap, menunggu aba-aba. Titir kentungan menjadi tanda dimulainya Ritual Gebyuran. Setiap orang boleh saling melempar kantong plastik berisi air warna-warni yang telah disiapkan. Warga menyebut prosesi ini sebagai perang air.
Sontak, keriuhan tak terbendung. Semua warga Kampung Bustaman turut berpartisipasi. Banyak pula orang luar kampung yang ambil bagian, mengingat acara ini sudah masuk agenda kebudayaan Kota Semarang.
Mulai dari anak-anak hingga lansia, semuanya saling lempar air ke segala arah. Ada satu kesepakatan tak tertulis dalam acara ini: siapa pun dilarang marah ketika mukanya dicoreng maupun dilempari air.
"Nggak peduli anak-anak apa orang tua, pokoknya semua tak lempari air. Kan udah ada kesepakatan, kalau ada yang emosi, disorakin 'huuu' bareng-bareng," ucap Febi Ashari, pemuda setempat yang ikut berpartisipasi.
Peserta Gebyuran pantang takut basah. Namanya gebyuran, ya, wajib digebyur. Sebagian dari mereka yang enggan basah kuyup boleh mengenakan jas hujan atau pelindung lain.
Akan tetapi, ada warga yang curang, berdiri di loteng rumah. Warga macam ini menolak basah tetapi tetap berambisi ikut perang. Diam-diam ia melempari bungkusan air dari lantai atas ke arah kerumunan di bawah.
Setelah amunisi air kemasan habis, para warga memanfaatkan air di sekeliling kampung. Ada yang menimba dari sumur, menyemprot langsung dari selang keran di dekatnya, serta mengambil dari bak penampungan air.
Perang air berlangsung sekitar satu jam. Semua tampak larut dalam euforia. "Seru banget acaranya. Karena seneng, [jadi] nggak kerasa capek," ucap seorang peserta.
Gebyuran Bustaman diakhiri dengan gotong royong membersihkan sampah bekas bungkus air. Setelah itu, para warga dan tamu undangan dipersilakan makan gulai kambing, hidangan khas kampung ini.
Simbol Bersihkan Dosa
Setiap tahapan Gebyuran Bustaman tersirat makna. Salah satunya adalah simbol air yang digunakan dalam prosesi gebyuran. Dalam banyak tradisi keagamaan maupun kebudayaan di dunia, air dianggap sebagai medium penyucian dan pembaruan spiritual.
Seorang tokoh Kampung Bustaman, Hari Bustaman, mengatakan, gebyuran merupakan simbol pembersihan dosa-dosa sebelum menjalani ibadah puasa Ramadhan. Namun, dia menggarisbawahi bahwa prosesi ini hanya simbolis, bukan pembersihan dosa dalam arti sebenarnya.
Menurut kepercayaan warga setempat, tradisi Gebyuran sudah ada sejak 1742 (sumber lain mengatakan tahun 1743), dipelopori Kiai Bustam (Kiai Ngabehi Kertoboso/Sayid Abdullah Muhammad Bustam), seorang Arab-Jawa perintis terbentuknya permukiman Bustaman.
"Menurut cerita kakek buyut kami, dulu setiap menjelang Ramadhan, Kiai Bustam nggebyuri cucu-cucunya sebagai tanda penyucian sebelum menjalankan ibadah puasa," tutur Hari, saat kami temui usai acara Gebyuran Bustaman, Minggu (23/2/2025).
Penuturan Hari selaras dengan beberapa hasil penelitian kekinian yang menyebut tradisi Gebyuran sudah ada sejak masa Kiai Bustam tahun 1742. Salah satunya hasil penelitian tim Disbudpar Kota Semarang tentang "Laporan Akhir Kajian Sejarah Kampung Bustaman".
Namun, menurut analisis kami, penelitian-penelitian tersebut tidak merujuk pada literatur lawas yang benar-benar mendokumentasikan awal mula tradisi Gebyuran. Kepustakaan mengenai biografi Kiai Bustam justru lebih melimpah.
Hari mengakui bahwa Gebyuran Bustaman yang menyertakan prosesi perang air baru digelar sejak sekitar 2012, dua setengah abad pasca-era Kiai Bustam. Saat itu Hari menjadi inisiator yang menghidupkan kembali tradisi Gebyuran.
Dia menjelaskan, pelaksanaan Gebyuran yang dilaksanakan saat ini tetap mempertahankan prosesi sakral dari tradisi leluhur, tetapi kemasannya lebih menarik. Gebyuran Bustaman kekinian menjelma menjadi sebuah festival meriah.
"Prosesi ngebyuri anak-anak seperti yang dilakukan Kiai Bustam tetap ada, tapi setelah itu ada perang air yang diikuti semua warga di Kampung Bustaman," beber Hari.
Hari bercerita, pada awalnya, sempat ada warga yang khawatir tradisi Gebyuran bertentangan dengan syariat Islam. Namun, perlahan semuanya mengerti bahwa substansi Gebyuran tetap tersirat. Perang air hanyalah bentuk inovasi yang tak lain sebagai bumbu agar tradisi tetap relevan dan menarik.
Akademisi UIN Walisongo Semarang, Hamzah Zakariya, dalam artikel penelitian berjudul "Living Hadis dalam Tradisi Gebyuran di Kampung Bustaman Kota Semarang" menyebut Gebyuran sebagai tradisi masyarakat yang selaras dengan hikmah hadis.
Dia menilai, tradisi Gebyuran berbentuk perang air atau siraman sebelum Ramadhan merupakan cara menjalin silaturahmi. Itu merupakan simbol penyucian hati supaya memperoleh magfirah dari Allah Swt.
Warisan Budaya
Puncak festival Gebyuran Bustaman yang ke-13 terlaksana pada Minggu (23/2/2025). Pada masa Kiai Bustam sekitar abad ke-18, tradisi tersebut cenderung bersifat eksklusif. Akan tetapi, kini semua orang boleh menyaksikan, bahkan turut berpartisipasi.
Rangkaian Gebyuran Bustaman tahun ini dimulai sejak tanggal 15. Acaranya meliputi peringatan maulid nabi, arwah jama', ziarah makam, kirab budaya, pertunjukan fesyen, hingga perang air.
Tradisi tersebut dihadiri pejabat Pemkot Semarang serta beberapa tokoh nasional, seperti Giring Ganesha selaku Wakil Menteri Kebudayaan RI serta Samuel Wattimena sebagai anggota Komisi VII DPR RI yang juga perancang busana ternama.
Warga Kampung Bustaman berkomitmen terus menjaga keberlangsungan tradisi Gebyuran. Ketua RW di kampung tersebut, Ashar, berharap Gebyuran Semarang bisa ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
"Kami mendorong agar Gebyuran Bustaman ini masuk dalam Warisan Budaya Takbenda," harap Ashar mewakili seluruh warganya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Wing Wiyarso Poespojoedho, menyambut positif harapan warga. Ia pun senang jika kotanya memiliki banyak WBTb.
Dinas setempat sudah bergerak mengusulkan tradisi Gebyuran Bustaman menjadi WBTb kepada Kementerian Kebudayaan RI. Hanya saja, pengajuan itu belum lolos karena masih ada beberapa kendala teknis yang perlu diselesaikan.
"Kami sudah dua kali mengusulkan Gebyuran Bustaman (menjadi WBTb) namun belum berhasil," jelas Wing, di sela-sela menghadiri Gebyuran Bustaman, Selasa (25/2/2025).
Wing meminta bantuan bagi siapa pun yang memiliki catatan atau manuskrip tentang sejarah tradisi Gebyuran Bustaman agar menyerahkan kepadanya. Menurutnya, catatan sejarah tersebut bisa memperkuat usulan WBTb.
Predikat WBTb tak sekadar pencatatan suatu kebudayaan dalam daftar nasional, melainkan agar tradisi seperti Gebyuran Bustaman bisa lebih mendunia.
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Fadli Nasrudin