Tradisi Bangsawan Sunda di Ramadan dan Idulfitri Era Kolonial

Kontributor: Andika Yudhistira Pratama, tirto.id - 23 Apr 2023 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Di era kolonial dulu, terdapat beberapa kebiasaan yang dilakukan para elite atau menak selama masa puasa dan Idulfitri. Misalnya arak-arakan.
tirto.id - Sebagaimana banyak orang di berbagai daerah di Indonesia, masyarakat Sunda yang beragama Islam pun tidak lepas dari tradisi-tradisi untuk menyambut datangnya Ramadan. Keramasan juga munggahan adalah dua di antaranya.

Tradisi umum lain adalah ziarah kubur. Dalam masyarakat Sunda, ziarah kubur dikenal dengan nama nadran. Mereka yang datang ke makam biasanya membersihkan pusara dan mendoakan yang telah tiada. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta atas dasar keyakinan akan datangnya perlindungan dari yang sudah pergi.

Ada pula tradisi yang cukup tidak biasa. Seperti diceritakan Haryoto “Kuncen Bandung” Kunto dalam Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe) (1996), satu hal umum lain yang dilakukan orang Sunda dalam rangka menyambut Ramadan adalah menguras empang atau kolam.

Tradisi ini dapat dimengerti mengingat di Bandung tempo dulu memang banyak orang bekerja sebagai peternak ikan. Setelah air dikuras, ikan-ikan dipilah berdasarkan bobot, warna, dan kebugarannya untuk diadu dalam perlombaan. Setelah itu ikan-ikan dijual ke masyarakat misalnya di pasar ikan Cigereleng.

Selain dilakukan semua kalangan, ada pula tradisi yang hanya melekat pada menak atau priayi Sunda. Tradisi ini dilakukan juga pada saat dan usai Ramadan atau ketika Idulfitri.

Saat Ramadan

Atep Kurnia, seorang pegiat literasi Sunda, menukil kisah anak-anak menak di Serang, Banten, dari buku yang berjudul Kenang-kenangan Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat. Pria kelahiran 16 Agustus 1877 ini pernah menjadi Bupati Serang dan anggota Volksraad. Dia masih satu keluarga dengan Hoessein Djajadiningrat.

Menurut Djajadiningrat, Ramadan adalah bulan yang memberikan berkah tersendiri bagi anak-anak menak. Sebab, mereka diperkenankan duduk bersama orang tua untuk menyantap makan malam. Hal ini tidak diperbolehkan di luar Ramadan. Mereka harus menunggu hingga orang tua selesai menyantap hidangan.


Anak-anak menak dapat memesan jenis makanan tertentu untuk berbuka pada pukul 11. Di waktu berbuka, biasanya teh dan kue menjadi sajian pertama. Setelah memasuki pukul 19, mereka diperkenankan menyantap hidangan utama yang biasanya berupa gulai. Selanjutnya, saat jarum jam menunjukkan pukul 21-22, mereka menyantap penganan/kudapan.

Tata cara sahur berbeda. Di waktu itu makanan disajikan lengkap.

Kegiatan lain di lingkungan keluarga menak Serang selama bulan Ramadan adalah membaca Al-Qur’an selepas salat tarawih hingga masuknya waktu sahur.

Malam ke-15 Ramadan menjadi waktu yang istimewa. Sebab, di malam itu, tersaji ketupat dengan berbagai bentuk.

Di sepuluh hari terakhir Ramadan, terdapat tradisi yang dikenal dengan nama malam salikur (menyambut Lailatulqadar). Di momen tersebut, setiap tanggal ganjil, para keluarga kaya memanggil orang-orang miskin untuk menyantap hidangan berbuka. Makanan disediakan di meja anyaman bambu, lengkap dengan pelita dan pohon pisang di tengah halaman.

Di Hari Raya

Bagaimana dengan menak dewasa? Nina H. Lubis (1998) mencatatnya, khususnya bupati. Dia mengatakan para bupati biasanya mengenakan jubah putih saat Idulfitri. Mereka akan dijemput oleh para menak bawahannya termasuk Hoofd ('Kepala') Penghulu menuju masjid agung. Para bupati akan menempati baris paling depan.

Setelah selesai melaksanakan salat Id, bupati kembali diantarkan oleh para menak bawahannya menuju kabupaten. Di sana para bupati disambut dengan gamelan dan meriam, untuk kemudian menjalankan ritual munjungan--didatangi keluarga.

Munjungan kepada bupati (laki-laki) diawali oleh garwa padmi atau istri utama, kemudian dilanjutkan oleh selir, anak-anak, hingga keluarga lain.

Tak ketinggalan, para menak dari kabupaten yang statusnya lebih rendah beserta istri mereka juga berdatangan dengan pakaian dinas. Mereka akan mengucapkan selamat hari raya dan menciumi kaki bupati.


Sekitar pukul 9-10 pagi, para bupati yang berasal dari kabupaten yang menjadi ibu kota keresidenan mendatangi kediaman asisten residen dan residen. Hal ini sangat penting bagi citra bupati. Sebab, jika hal tersebut tidak dilakukan, maka para bupati akan dicap sombong dan akan mendapat teguran dari pemerintah kolonial.

Pada pukul 11, giliran para pejabat kolonial dan menak yang berstatus pangreh praja mendatangi kabupaten. Dalam kesempatan itu, seorang residen atau asisten residen--atas nama penduduk--mengucapkan selamat hari raya. Acara dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan bagi para pejabat pribumi yang berprestasi.

Tak lupa, para garwa padmi bupati di serambi dalam mendapat ucapan selamat dari asisten residen atau residen.

Dalam perayaan tersebut, tersaji bermacam makanan dan sampanye bagi para tamu. Sementara di alun-alun diadakan hiburan untuk rakyat seperti adu harimau, adu domba, juga adu kerbau. Sedangkan di pendopo kabupaten, biasanya diadakan pertunjukan wayang dan pada malam hari diadakan pesta bernama tayuban yang berlangsung hingga 8 pagi.

Menurut A. Sobana Hardjasaputra dalam disertasi berjudul Perubahan Sosial di Bandung 1810-1906 (2002), perayaan Idulfitri yang dihadiri pejabat-pejabat kolonial mulai dilaksanakan pada 1864. Tak jarang orang-orang Belanda di luar pemerintahan tapi dianggap tokoh dan kerap bergaul dengan para menak juga turut diundang untuk sekadar mengucapkan selamat.

Dari sisi politik, menurut Hardjasaputra, acara tersebut berguna untuk menarik simpati dan loyalitas para pejabat pribumi terhadap pemerintah kolonial. Namun, sejak 1904, pemerintah kolonial mulai menentang perayaan Idulfitri yang seperti itu. Mereka menganggap perayaan tersebut merupakan pemborosan.

Meski begitu, masyarakat dan menak khususnya di Bandung tetap merayakan Idulfitri, terutama sejak 1924 seiring dengan kepulangan R. H. A. A. Wiranatakusumah V dari tanah suci. Demikian catat Haryoto Kunto (1996).

Perayaan diawali dengan prosesi arak-arakan para menak beserta alim ulama dari pendopo kabupaten menuju masjid agung. Selepas salat Id, masyarakat biasanya berebut mendapat berkah dengan menciumi tangan para menak.


Infografik mozaik Lebaran Bangsawan Sunda
Infografik mozaik Lebaran Bangsawan Sunda. tirto.id/Ecun


Terdapat juga tradisi mengirim makanan. Tak jarang masyarakatlah yang mengirim untuk para menak. Masih menurut catatan Kunto, saat bekerja di Cibatu, Garut, pada 1934, ayahnya pernah mengirim makanan untuk istri bupati saat itu.

Ada cerita unik di balik pengiriman makanan tersebut. Semua diawali dari pawai makanan pada hari terakhir puasa. Acara yang diinisiasi oleh ibu Kunto itu berlangsung dengan meriah sampai-sampai terdengar istri bupati. Keesokan harinya, sang ibu mendapatkan sepucuk surat dari istri bupati. Isinya: “Alo (ponakan), embi menerima laporan dari camat Kota Cibatu yang menceritakan bahwa alo amat terampil berolah selera memasak makanan-makanan lezat untuk orang banyak. Sayang sekali embi terlewat, tidak diberi kesempatan untuk ikut mencicipi hidangan enak hasil olahan alo. Akhir kata, salam taklim dari embi.

Setelah selesai membaca surat, dengan sigap ibu dan ayah Kunto menyiapkan makanan yang disukai dan kerap disantap istri bupati waktu berbuka dan sahur. Makanan tersebut dikirim keesokan harinya sekitar pukul 10 pagi.

Masih dihari yang sama, ibu Kunto kembali menerima surat dari istri bupati yang dibubuhi kalimat “hatur nuhun, lo” atau 'terima kasih keponakanku'. Dikirim juga sebotol minyak wangi berlabel Soir de Paris dan sepucuk kartu nama bupati. Semuanya diwadahi dalam cepuk emas atau kuningan.

Kiwari, tradisi-tradisi para menak, khususnya dalam merayakan Idulfitri dengan arak-arakan, sudah sangat jarang dilakukan.

Baca juga artikel terkait TRADISI atau tulisan menarik lainnya Andika Yudhistira Pratama
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Andika Yudhistira Pratama
Penulis: Andika Yudhistira Pratama
Editor: Rio Apinino

DarkLight