tirto.id - Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas memproyeksikan kinerja produksi dan penjualan tahun 2025 tak mencapai target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan.
Tony melaporkan bahwa penjualan tembaga hingga akhir tahun hanya menyentuh 537 ribu ton atau 70 persen dari target penjualan. Padahal, dalam target RKAB, PTFI memproyeksikan penjualan mencapai 770 ribu ton.
"Kalau kita lihat di proyeksi RKAB tahun 2025, kami itu volume penjualan tembaga tertulis sekitar 770 ribu ton namun hanya bisa kita capai sekitar 537 ribu ton," kata Tony dalam RDP bersama DPR RI Komisi VI, Senin (24/11/2025).
Tony menjelaskan, penurunan penjualan tembaga dipengaruhi oleh insiden kebakaran yang terjadi di smelter PTFI di Gresik, Jawa Timur. Ini membuat inventori konsentrat menjadi sangat tinggi di Timika, Papua.
Dampaknya, operasi penambangan mengalami pelambatan hingga 40 persen dari kapasitas normal pada Kuartal I 2025.
Sementara itu, untuk komoditas emas, PTFI hanya berhasil memproduksi 33 ton atau 50 persen dari target yang ditetapkan oleh RKAB sebesar 67 ton di 2025.
Ini disebebakan insiden pada 8 September lalu, di mana luncuran material basah di Tambang Grassberg Block Cave menyebabkan PTFI menghentikan semua produksi di tambang bawah tanah.
Menurut Tony, pihaknya berfokus pada pencarian ketujuh orang karyawan PTFI yang terperangkap di bawah tanah yang menyebabkan perusahaan berhenti produksi hampir 50 hari secara keseluruhan.
Sementara itu, nilai penjualan jika mengacu dalam RKAB sekitar 10,4 miliar dolar AS, sementara perusahaan hanya berhasil meraup pendapatan 8,5 miliar dolar AS atau 82 persen.
"Perusahaan dengan walaupun produksi tembaga berkurang 30 persen emas berkurang 50 persen, kami bisa mencapai pendapatan penjualan pada tahun ini sekitar 8,511 miliar dolar atau hanya turun 18 persen dari proyeksi di sesuai dengan RKAB," pungkas Tony.
Penulis: Natania Longdong
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































