tirto.id - PT Freeport Indonesia (PTFI) mengakui bahwa penghentian operasional akibat longsor tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), Mimika, Papua Tengah, berdampak pada produksi emas dan tembaga sejak 8 September 2025.
Namun, Direktur Utama Freeport Indonesia, Tony Wenas, menyatakan kegiatan pertambangan sempat berjalan sesuai target sejak awal tahun hingga tanggal kejadian.
Meski produksi terhenti, Tony menegaskan hasil konsentrat yang telah diproduksi sebelum insiden masih dapat diolah lebih lanjut.
Adapun dalam paparannya di Komisi VI DPR RI pada Maret silam, RKAB 2025 PTFI mematok target jumlah bijih yang ditambang harian sebesar 212 ribu ton. Dalam bijih tersebut terdapat 1 persen kandungan tembaga dan 1 gram/ton emas. Sementara bijih yang ditambang secara tahunan sebesar 75-77 juta ton untuk tahun ini.
“Enggak dong (produksi tidak turun). Ini kan sudah berjalan sampai tanggal 8 September kan produksi kita masih sesuai dengan target. Jadi mulai 8 September itu kita berhenti produksi tapi masih ada konsentrat kan yang kemudian diproses, dijadikan katoda, dijadikan emas batangan, masih ada,” katanya saat ditemui di Kantor BKPM, Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Meski belum ada perhitungan resmi dampak penutupan tambang terhadap produksi tembaga dan emas, Tony memperkirakan realisasi produksi hingga saat ini telah mencapai sekitar 66 persen.
“Kita belum menghitung (dampak produksi). Tapi kan kalau dilihat dari prosesnya, ini tahun udah bulan ke-8 kan sudah, kalau itu 2 per 3 ya sudah 66 persen. Itu dari hitungan bulannya,” ujarnya.
Sementara operasi tambang masih dihentikan, fokus utama perusahaan saat ini adalah proses pencarian dan evakuasi lima korban yang masih terjebak. Longsor yang terjadi sejak bulan lalu telah menewaskan dua pekerja.
Freeport Bidik Pasar Tembaga Global
Pada kesempatan yang sama, Tony Wenas menyoroti prospek pasar tembaga global yang diperkirakan melonjak signifikan. Freeport memproyeksikan permintaan tembaga dunia dapat mencapai 40 juta ton pada 2030.
Faktor pendorongnya adalah transisi energi bersih dan pembangunan infrastruktur energi terbarukan di berbagai negara.
“Hampir seluruh negara berlomba-lomba membangun renewable energy. Jadi memang permintaan akan tembaga akan sangat tinggi sekali,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tembaga adalah mineral masa depan, mengingat sekitar 65 persen penggunaannya adalah sebagai penghantar listrik untuk energi bersih.
Namun, Tony mengingatkan adanya potensi ketidakseimbangan pasokan. Saat ini produksi tembaga global berkisar 20–25 juta ton, sementara permintaan sudah melampaui angka tersebut.
“Dengan kata lain, supply masih hampir sama, sementara demand meningkat luar biasa,” ujarnya.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi pemain utama di pasar tembaga dunia jika tambang lain seperti Merdeka Copper, Gorontalo Minerals, dan Sumbawa Timur Mining mulai berproduksi.
Saat ini produksi nasional masih ditopang dua entitas, Freeport dan Amman Mineral. Jika tambang lain berproduksi, diperkirakan tingkat produksi katoda akan jauh lebih besar.
“Kami bisa memproduksi hingga 800 ribu ton tembaga saat beroperasi penuh. Jika digabungkan dengan Amman Mineral, produksi bisa mencapai 1,1 juta ton katoda tembaga. Itu sudah menempatkan Indonesia sebagai produsen nomor lima terbesar di dunia,” tuturnya.
Ia memaparkan, saat ini Chili menjadi produsen tambang tembaga terbesar di dunia dengan menghasilkan 1,9 juta ton katoda dan menguasai 25 persen pasokan tambang global.
Sementara itu, Cina memimpin produksi katoda dengan 12 juta ton, yang dihasilkan dari mengimpor 50 persen konsentrat tembaga dunia. Melihat peta persaingan industri tersebut, ia optimistis Indonesia dapat menjadi pemain utama.
“Kalau dilihat peluangnya besar sekali,” ucapnya.
Meski demikian, hilirisasi tembaga diakui memiliki tantangan tersendiri. Nilai tambah dari pengolahan konsentrat menjadi katoda tidak sebesar komoditas seperti nikel, sementara biaya investasi untuk fasilitas hilir sangat tinggi.
Meski begitu, Tony menegaskan komitmen Freeport Indonesia yang kini telah menjadi perusahaan tambang tembaga terintegrasi dari hulu ke hilir terbesar di dunia.
“Ini jadi consent bagi banyak perusahaan. Namun, kami sudah berkomitmen, dan sekarang Freeport Indonesia menjadi perusahaan tambang tembaga terintegrasi upstream–downstream terbesar di dunia,” kata Tony.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































