Menuju konten utama

ESDM Evaluasi Kebijakan DMO Usai Antam Impor 30 Ton Emas

Antam diketahui telah mengimpor emas sekitar 30 ton dari Singapura dan Australia untuk memenuhi kebutuhan domestik.

ESDM Evaluasi Kebijakan DMO Usai Antam Impor 30 Ton Emas
Gedung Kementerian ESDM. FOTO/Yohanes Hasiholan
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, akan mengevaluasi kebijakan domestic market obligation (DMO) untuk komoditas emas. Hal ini menyusul impor emas yang dilakukan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dalam jumlah besar.

"Kalau misalnya nanti ada DMO, seandainya ada DMO, nanti kalau misalnya sananya beroperasi seperti apa. Jangan sampai juga terus malah numpuk," kata Tri saat ditemui di Kementerian ESDM, dikutip Selasa (14/10/2025).

Tri mengatakan bahwa Antam dan PT Freeport Indonesia (PTFI) telah menjalin kerja sama jual beli emas sebanyak 30 ton untuk mengurangi impor. Namun, situasi berubah sejak adanya penutupan tambang bawah tanah milik Freeport di Grasberg, Papua.

"Sebetulnya sudah ada perjanjian sama Freeport kan. Terus kemudian atas perjanjian itu sebetulnya gak ada masalah, sudah oke. Nah cuma karena ini ada kejadian ini kan, ya kita bahas lah, nanti kita evaluasi gimana baiknya," ujar Tri.

Diberitakan sebelumnya, Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam, Achmad Ardianto, mengatakan perusahaannya mengimpor emas sekitar 30 ton dari Singapura dan Australia untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Pasalnya, hingga saat ini tambang emas Antam di Pongkor, Jawa Barat, hanya mampu memproduksi 1 ton emas dalam satu tahun, sementara permintaan domestik melonjak hingga 37 ton di tahun lalu, dan 43 ton saat ini.

“Mungkin (impor) sekitar 30-an ton. Kenapa Antam impor? Karena terpaksa, karena kebutuhan masyarakat besar sementara sumbernya tidak ada,” kata Achmad Ardianto dalam rapat kerja bersama DPR RI Komisi VI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (29/9/2025).

Sebagai informasi, tahun ini Antam menargetkan penjualan emas mencapai 45 ton. Selain mengandalkan impor, perusahaan juga memanfaatkan skema pembelian kembali (buyback) emas dari masyarakat.

“Itu (buyback) menjadi sumber bagi kami untuk dicetak dengan versi yang baru, tetapi hanya dapat 2,5 ton dalam setahun. Kita masih kekurangan emas,” papar Ardianto.

Baca juga artikel terkait PT ANTAM atau tulisan lainnya dari Natania Longdong

tirto.id - Insider
Reporter: Natania Longdong
Penulis: Natania Longdong
Editor: Dwi Aditya Putra