tirto.id - Gestur mengacungkan jempol, menurut penelitian, sudah eksis sejak zaman Romawi kuno.
Dalam film Gladiator (2001) yang dibintangi Russell Crowe dan Joaquin Phoenix, gestur tersebut turut ditampilkan. Jempol yang diacungkan ke atas berarti tanda bahwa sang gladiator bakal dibiarkan bertahan hidup, sementara jempol ke bawah berarti maut. Namun, seorang ahli Latin dari University of Virginia, Anthony Corbeill, menyebut gestur dalam film tersebut salah kaprah.
Kepada Time, Corbeill bertutur bahwa memang benar gestur mengacungkan jempol sudah ada pada zaman itu. Akan tetapi, penggambaran dalam Gladiator kurang tepat. Yang benar, ketika gladiator dibiarkan hidup, jempol akan dilipat ke arah genggaman tangan, sementara jempol yang diacungkan ke atas justru berarti persetujuan bahwa si gladiator harus mati.
Seiring berjalannya waktu, makna gestur jempol ke atas itu berkembang. Hingga akhirnya, memasuki abad ke-20, entah dari mana asalnya, gestur tersebut punya arti baru. Dalam buku Over the Top (1917), Arthur Guy Empey, seorang serdadu Amerika Serikat (AS) di Perang Dunia I, menceritakan kisah pilot Inggris yang mengacungkan jempolnya ke atas untuk menandakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Sejak itu, secara luas, gestur jempol ke atas pun diterima sebagai tanda positif, mulai dari pujian akan suatu pekerjaan yang mampu dilakukan dengan baik, persetujuan terhadap eksekusi rencana, hingga pose favorit bapak-bapak Indonesia yang, sekali lagi, menunjukkan bahwa segalanya baik-baik saja.
Lalu, datanglah Gen Z. Dan seketika, gestur jempol terangkat itu pun kembali mengalami perubahan makna. Alih-alih positif, gestur tersebut, khususnya yang hadir dalam bentuk emoji, justru dipandang sebagai simbol kemarahan atau keacuhtakacuhan seseorang.
Fenomena itu sempat ramai dibahas di Reddit beberapa tahun lalu. Sejumlah pengguna muda mengaku tidak nyaman menerima emoji jempol ke atas dari kolega atau atasan. Mereka bilang, emoji tersebut terlalu dingin, singkat, dan pasif-agresif. Lantas, mengapa itu bisa terjadi?
Brittany Ferdinands, dosen di Universitas Sydney, menulis di The Conversation bahwa, meski dirancang sebagai bahasa universal, makna emoji bisa jauh lebih cair dari makna aslinya. Makna emoji tidak bisa dipisahkan dari sosok pengirim, penerima, dan jenis platform yang digunakan. Emoji jempol ke atas dari bos di tempat kerja terasa berbeda dari jempol ke atas yang dikirimkan oleh ayah si penerima, misalnya.

Jadi, apa sebenarnya yang terjadi di dalam kepala kita saat kita melihat emoji?
Penelitian terbaru dari Bournemouth University memberikan jawabannya. Tim pimpinan Madeline Molly Ely menemukan, pola aktivitas listrik di otak manusia ketika memproses ekspresi emosi pada emoji sangat mirip dengan pola yang muncul saat kita melihat wajah manusia sungguhan. Saking miripnya, sampai-sampai sebuah algoritma komputer yang dilatih untuk mengenali sinyal otak dari satu jenis wajah bisa berhasil mengidentifikasi sinyal yang sama saat orang melihat jenis wajah lainnya.
Dalam studi terbitan jurnal ilmiah Psychophysiology pada Maret 2026 tersebut, tim peneliti menguji dua kelompok peserta yang berbeda. Kelompok pertama berjumlah 24 orang, bertugas mengamati foto-foto wajah manusia nyata yang menampilkan ekspresi bahagia, marah, sedih, dan netral. Kelompok kedua berjumlah 25 orang, bertugas mengamati emoji dari enam platform berbeda, termasuk Apple dan Facebook, yang menampilkan ekspresi sama. Semua peserta mengenakan tudung elektroda yang memuat 64 sensor untuk mengukur aktivitas listrik di otak mereka secara real-time.
Hasilnya, pada kelompok yang mengamati emoji, sinyal otak yang menunjukkan pengenalan emosi muncul sejak sekitar 70 milidetik setelah gambar ditampilkan, dengan puncaknya di sekitar 155 milidetik. Pada kelompok yang melihat wajah manusia, sinyal muncul sekitar 120 milidetik dan mencapai puncak di sekitar 160 milidetik. Sinyal-sinyal itu lantas memuncak di area belakang kepala yang merupakan wilayah pemrosesan wajah.
Yang paling menarik adalah sesuatu yang para peneliti sebut sebagai "cross-classification". Algoritma yang dilatih menggunakan data otak dari kelompok pertama, yang hanya melihat wajah manusia nyata, ternyata tetap bisa mengidentifikasi emosi yang sedang dilihat oleh kelompok kedua. Itu membuktikan adanya tumpang tindih dalam cara otak mengodekan informasi emosional, terlepas dari apakah stimulus yang dilihat adalah wajah sungguhan atau ikon digital bergaya kartun.
Tak sampai di situ. Ely, dkk. juga mendapati bahwa emoji terkadang menghasilkan sinyal otak yang lebih bersih dan mudah dibaca dibandingkan foto wajah manusia. Mereka menduga, itu terjadi karena emoji dirancang dengan fitur yang dilebih-lebihkan, dengan lengkungan mulut yang tegas dan mata ekspresif, sehingga batas antara satu kategori emosi dan kategori lainnya tampak lebih jelas bagi otak. Sementara itu, ekspresi wajah manusia sungguhan jauh lebih halus dan bervariasi antarindividu, yang justru membuat sinyal ke otak jadi lebih kabur.
"Temuan kami menunjukkan bahwa emoji bukan sekadar tambahan yang menyenangkan dalam komunikasi digital, melainkan dapat diproses oleh otak dengan cara yang sebanding dengan isyarat wajah nyata," kata Ely, seperti dikutip dari situs resmi Bournemouth University.
Jauh sebelum penelitian Bournemouth, para ilmuwan lain sudah menduga adanya kaitan antara emoji dan pemrosesan wajah. Tinjauan literatur sistematis terbitan jurnal Technology, Mind, and Behavior pada 2022, yang menganalisis 23 studi sejak 2001 hingga 2021, menemukan bahwa anak-anak usia 4 hingga 8 tahun mengenali emosi dalam emoji dengan cara yang serupa seperti ketika mereka mengenali emosi dalam foto wajah manusia.
Lalu, apa artinya semua itu dalam kehidupan nyata?
Penelitian dari Universitas Ottawa, yang diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior, menemukan bahwa emoji memengaruhi cara kita memandang pengirim pesan. Saat menyertakan emoji positif dalam pesannya, seseorang dinilai lebih hangat dan mudah didekati. Di sisi lain, kehadiran emoji negatif memperparah kesan negatif dari kalimat yang sejatinya sudah bernada negatif. Selain itu, emoji yang sesuai dengan isi teks terbukti mempercepat pemahaman pembaca terhadap pesan.
Temuan itu berimplikasi langsung pada hubungan antarmanusia. Studi terbitan PLOS One (2025), yang melibatkan 260 peserta, menemukan bahwa pesan yang menyertakan emoji lebih responsif dibandingkan sepenuhnya teks. Responsivitas itu pun secara signifikan memprediksi rasa kedekatan dan kepuasan dalam hubungan. Singkatnya, emoji yang tepat bisa membuat seseorang merasa didengar dan dipedulikan.
Tidak hanya dalam percakapan antarteman atau pasangan, di lingkungan profesional, penggunaan emoji juga berpengaruh pada persepsi para kolega.
Penelitian menemukan, dalam konteks profesional, penggunaan emotikon berupa senyuman, misalnya, tidak meningkatkan kesan kehangatan, tapi justru menurunkan kesan kompetensi pengirimnya. Emoji yang salah tempat bukan hanya soal kesalahpahaman, melainkan bisa memengaruhi cara kolega atau klien memandang kemampuan profesional seseorang.
Dunia medis pun mulai melirik potensi emoji. Dokter Shuhan He dari Massachusetts General Hospital, rumah sakit pengajaran utama Harvard Medical School, bersama rekan-rekannya, menulis bahwa emoji berpotensi menjadi alat komunikasi kuat antara pasien dan dokter.
Emoji bisa sangat membantu, terutama untuk anak-anak yang kemampuan berbahasanya belum matang, penyandang disabilitas komunikasi, dan pasien yang tidak berbicara dalam bahasa sama dengan dokternya. Dalam situasi gawat darurat, ketika waktu menjadi segalanya, emoji bisa mempersingkat proses komunikasi secara signifikan.
Semua temuan itu membawa kita pada kesimpulan bahwa emoji bukan dekorasi belaka. Otak kita, yang sudah berevolusi selama jutaan tahun untuk membaca wajah dan ekspresi, tidak berhenti bekerja hanya karena kini wajah itu berbentuk lingkaran kuning dengan tampilan tak jauh berbeda dengan logo Nirvana. Oleh karena itu, seperti halnya menulis dan berbicara, menggunakan emoji pun memerlukan kebijaksanaan tersendiri.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































