Menuju konten utama

Eks PM Thailand Thaksin Shinawarta Hirup Udara Bebas

Thaksin Shinawatra bebas setelah menjalani delapan bulan hukuman dari total vonis satu tahun terkait kasus korupsi.

Eks PM Thailand Thaksin Shinawarta Hirup Udara Bebas
Mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra meninggalkan kantor setelah konferensi pers di Seoul pada 23 November 2011. (AFP PHOTO / KIM JAE-HWAN)

tirto.id - Mantan Perdana Menteri (PM) Thailand, Thaksin Shinawatra, dibebaskan lebih awal dari penjara di Bangkok pada Senin (11/5/2026). Ia bebas setelah menjalani delapan bulan hukuman dari total vonis satu tahun terkait kasus korupsi.

Melansir AFP, sekitar 300 pendukung dan sekutu politik menyambut pembebasan miliarder berusia 76 tahun itu di luar Penjara Pusat Klong Prem, Bangkok. Thaksin tampak keluar dari gerbang penjara mengenakan kaus polo berkelir putih dan celana biru sebelum dipeluk anggota keluarganya.

Anak-anak Thaksin, termasuk mantan perdana menteri Paetongtarn Shinawatra, turut hadir sejak pagi untuk menyambut kepulangannya. Thaksin terlihat tersenyum sambil menyapa para pendukung yang meneriakkan “kami mencintai Thaksin” dan memberinya mawar merah. Ia kemudian meninggalkan lokasi tanpa memberikan pernyataan kepada wartawan.

Thaksin merupakan pengusaha telekomunikasi yang mendirikan partai politiknya sendiri pada 1998. Ia menjabat sebagai perdana menteri sejak 2001 hingga digulingkan lewat kudeta militer pada 2006 ketika sedang berada di luar negeri.

Penggulingan itu memicu polarisasi politik mendalam di Thailand selama hampir dua dekade, yang beberapa kali berujung bentrokan kekerasan. Di tengah situasi tersebut, mesin politik Thaksin beberapa kali berhasil bangkit kembali, sementara dirinya menjalani pengasingan secara sukarela untuk menghindari proses hukum yang menurutnya bermotif politik.

Thaksin tercatat sebagai perdana menteri terpilih pertama dalam sejarah Thailand yang mampu menyelesaikan masa jabatan penuh selama empat tahun. Kebijakan seperti program layanan kesehatan nasional dan pembangunan jalan di wilayah kurang berkembang membuatnya mendapat dukungan besar dari kelompok masyarakat miskin, khususnya di kawasan pedesaan utara dan timur laut Thailand.

Namun, popularitas serta gaya kepemimpinannya yang dinilai keras juga memicu perpecahan dengan elite perkotaan, kelompok royalis, dan militer.

Ia didakwa menyalahgunakan kekuasaan, termasuk dituduh memakai jabatannya untuk menguntungkan kepentingan bisnis pribadi dan menyetujui proyek lotere negara secara ilegal yang disebut merugikan pemerintah.

Thaksin divonis secara in absentia atau tanpa kehadirannya di pengadilan. Namun, ia kembali ke Thailand pada 2023 untuk menjalani hukuman ketika Partai Pheu Thai Party, kendaraan politik terbarunya, membentuk pemerintahan.

Ia diyakini luas telah mencapai kesepakatan diam-diam dengan kelompok elite royalis tradisional Thailand. Hukuman awal Thaksin berupa delapan tahun penjara kemudian dikurangi menjadi satu tahun oleh Raja Maha Vajiralongkorn. Ia juga sempat diizinkan menjalani hukuman di suite Rumah Sakit Polisi Bangkok dengan alasan kesehatan.

Setelah muncul protes publik yang menilai Thaksin memperoleh perlakuan istimewa, Mahkamah Agung Thailand pada September 2025 memerintahkan agar ia kembali menjalani hukuman di penjara.

Bulan lalu, panel Kementerian Kehakiman Thailand menyetujui pembebasan bersyarat Thaksin dalam peninjauan terhadap lebih dari 900 narapidana yang memenuhi syarat. Pertimbangan pembebasan itu mencakup perilaku baik selama di penjara, faktor usia, dan rendahnya risiko pengulangan tindak pidana.

Usai dibebaskan, Thaksin akan menjalani masa percobaan selama empat bulan. Dalam periode itu, ia diwajibkan tinggal di rumah yang telah didaftarkan di Bangkok, mengenakan gelang pemantau elektronik, dan rutin melapor kepada petugas pembimbing kemasyarakatan.

Sementara itu, putri Thaksin, Paetongtarn, yang menjadi perdana menteri termuda Thailand pada 2024, dicopot dari jabatannya oleh Mahkamah Konstitusi pada Agustus 2025 setelah rekaman percakapan telepon kompromistis dengan mantan pemimpin Kamboja Hun Sen beredar ke publik. Dalam pemilihan umum tahun ini, Partai Pheu Thai hanya mampu finis di posisi ketiga.

Baca juga artikel terkait THAKSIN SHINAWATRA atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama