Menuju konten utama

Sadia Moalim Ali: Wanita Somalia Disiksa Usai Kritik Pemerintah

Aktivis Sadia Moalim Ali ditangkap dan disiksa setelah getol menyuarakan kebobrokan Pemerintah Somalia terkait dugaan korupsi dan nepotisme. Ini kisahnya.

Sadia Moalim Ali: Wanita Somalia Disiksa Usai Kritik Pemerintah
Ilustrasi Penjara Anak. foto/isttockphoto

tirto.id - Seorang perempuan di Somalia mengalami penyiksaan di dalam penjara setelah ditahan karena bersuara mengkritik pemerintah. Sadia Moalim Ali (27 tahun) menyatakan dirinya telah ditelanjangi dalam ruang dengan CCTV, ditendang, dipukuli, dan dibiarkan tanpa makanan selama dua hari di ruang sel kecil.

Menukil The Guardian, Ali menceritakan pengalamannya itu dalam wawancara dari penjara baru-baru ini. Ia menyebut telah ditelanjangi dan dipukuli oleh petugas laki-laki.

“Saya disiksa. Saya dipaksa berbaring telungkup di tanah, dan air disiramkan ke tubuh saya. Saya ditendang oleh penjaga dengan sepatu bot. Mereka berdiri di atas saya, memukul saya dengan pentungan,” katanya.

Keterangan Ali tersebut telah mengkhawatirkan banyak pihak di Somalia bahwa pemerintah telah melakukan penyiksaan. Konvensi PBB dan hukum internasional telah melarang praktik penyiksaan dan mengategorikannya sebagai pelanggaran hak asasi manusia.

“Saya dibawa ke sel isolasi dan dikurung di sana selama dua hari. Saya tidak diberi makanan dan kebutuhan dasar saat dikurung di sel itu. Saya tidak diizinkan keluar untuk pergi ke toilet,” kata Ali.

Sadia Moalim Ali merupakan perempuan lulusan sekolah keperawatan yang bekerja sebagai pengemudi becak di Somalia. Ia ditangkap dan dipenjara pada 12 April lalu karena menjadi aktivis anti-pemerintah.

Ali menggunakan platform media sosial Facebook dan TikTok sebagai sarana mengkritik pemerintahan federal Somalia, menyuarakan dugaan korupsi dan nepotisme, penggusuran paksa, pengangguran kaum muda, pajak, dan harga bahan bakar yang mencekik.

Pada 14 April, Ali dipindah ke penjara pusat Mogadishu, tempat ia kini ditahan dan mendapatkan penyiksaan.

Ali menyatakan bahwa hingga kini ia belum didakwa secara resmi dan tidak diizinkan mengakses bantuan hukum ke pengacara. Selama jadi tahanan polisi, Ali mengatakan ia telah dipaksa menandatangani dokumen yang tak ia mengerti, dan kemudian dibawa ke pengadilan.

Amnesty Internasional menyebut bahwa polisi Somalia kini diberikan izin dari pengadilan untuk menahan Ali selama 90 hari, sembari menunggu penyelidikan lebih lanjut.

Ali Ditempatkan di "Sel Kematian"

Menurut keterangan Ali, ia mengalami penyiksaan setelah melakukan wawancara dari penjara bersama Shabelle Media, sebuah stasiun radio dan televisi di Somalia. Wawancara itu terbit pada 20 April lalu, berisi kesaksian Ali yang ditahan tanpa proses hukum dan tidak mendapat akses pada proses banding.

“Ketika saya berbicara kepada media, saya dihukum pada hari yang sama … Sungguh, banyak penderitaan yang ditimbulkan pada saya,” katanya.

Ruangan tempat Ali ditahan kini dikenal sebagai cellula della morte, julukan bahasa Italia untuk “sel kematian”. Julukan itu dilekatkan karena penjara tersebut dibangun selama masa pemerintahan Italia di Somalia.

Mantan tahanan yang pernah ditahan dalam sel itu menuturkan bahwa ruangan kerap digunakan untuk mengurung para tahanan, terutama mereka yang sedang menunggu eksekusi mati.

Lantai sel disebut telah disiram oli mesin dan garam, kotoran ada di mana-mana. Luasnya hanya sekitar dua meter persegi dan sangat panas. Baunya teramat menyengat, menyebabkan banyak tahanan muntah.

“Tidak ada manusia yang pantas mendapatkan tempat di sini,” kata Ali. “Tempat itu tidak memiliki ventilasi. Bahkan orang sehat pun bisa sakit. Sangat berisik dan sangat ramai.”

Penyiksaan dan penggunaan cellula della morte telah membuat Ali kesulitan tidur, mengalami gejala gangguan ginjal, serta mati rasa pada tangan dan kakinya. Penyiksaan juga telah membuat Ali hanya ingin segera dibebaskan, ia menyebut akan menghentikan aktivismenya.

Oposisi Sebut Penahanan Ali sebagai Aib Nasional

Pemimpin partai oposisi, Abdirahman Abdishakur, menyebut bahwa penahanan Ali merupakan “aib nasional” dan tuduhan serius bagi pemerintahan Hassan Sheikh yang tengah menjabat.

“Satu-satunya ‘kesalahan’nya adalah berbicara menentang korupsi dan nepotisme di dalam lembaga pemerintah,” tulis Abdishakur melalui akun X miliknya.

“Itu bukan kejahatan; itu adalah hak sipil mendasar. Tuan Presiden, kegagalan untuk mentolerir suara seorang perempuan muda bukanlah tanda kekuatan, itu adalah bukti nyata ketidakamanan.”

Sejak 2022, pemerintah Somalia telah dituduh melakukan penindakan sistematis untuk membungkam suara kritis masyarakat sipil. Mereka diduga menggunakan penangkapan sewenang-wenang, penahanan, pelecehan, ancaman, dan intimidasi sebagai alat pembungkam jurnalis, aktivis, dan siapa pun yang mengungkapkan pandangan berbeda.

Anggota Koalisi Pembela Hak Asasi Manusia Somalia, Dalmar Dhayow, menyebut bahwa perempuan jadi salah satu kelompok paling rentan di penjara. Tahanan perempuan macam Ali telah secara rutin menghadapi serangkaian pelanggaran hak asasi manusia.

“Kita tahu bahwa pelecehan atau kekerasan seksual secara sistematis digunakan sebagai alat untuk memaksa perempuan [untuk membuat pengakuan palsu], mempermalukan dan melecehkan mereka di dalam penjara,” kata Dhayow.

“Kita tahu banyak kasus perempuan yang diborgol saat ditahan, dengan kaki dan tangan terikat.”

Sementara itu, Pemerintah Somalia belum memberikan keterangan resmi tentang kesaksian Ali yang disiksa di penjara.

Baca juga artikel terkait KASUS PENYIKSAAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar