Menuju konten utama

Ekonomi Digital RI 2030 Diproyeksi Tembus Rp5.800 Triliun

Realisasi proyeksi ekonomi digital RI didorong bonus demografi yang melek digital, penetrasi internet, serta kemampuan inovasi dan teknologi dalam negeri.

Ekonomi Digital RI 2030 Diproyeksi Tembus Rp5.800 Triliun
Warga menggunakan ponsel untuk berbelanja secara daring di salah satu situs belanja di Bogor, Jawa Barat, Kamis (21/11/2024). Berdasarkan riset Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi digital Indonesia akan mencapai 90 miliar US dolar pada 2024 atau naik 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan begitu, GMV ekonomi digital Indonesia akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran sekaligus Asisten Gubernur Bank Indonesia (BI), Dicky Kartikoyono, memproyeksikan ekonomi digital Indonesia akan mengalami pertumbuhan pesat pada 2030. Nilai ekonomi digital Indonesia berpotensi melesat mencapai Rp147,3 triliun pada tahun 2030.

"Kami di Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan digital ini akan bisa mencapai hingga Rp147,3 triliun (2030)," kata Dicky dalam uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di Komisi XI DPR RI, Senin (26/1/2026).

Dicky bilang, proyeksi positif ini menilik data pertumbuhan digital dalam lima tahun terakhir telah mencapai Rp37 triliun. Calon Deputi Gubernur BI itu pun mengatakan, digitalisasi merupakan game changer untuk menjawab berbagai tantangan ekonomi.

Ia menjelaskan, fondasi pertumbuhan telah dibangun kuat dalam sembilan tahun terakhir. Inisiatif seperti sistem pembayaran nasional (BIFAS) dan standar open API telah memfasilitasi transaksi ekonomi digital hingga mencapai Rp1,6 kuadriliun.

"Ketika KRIS diluncurkan 2019, ini tumbuhnya eksponensial. Transaksi digital tumbuh signifikan," tambahnya.

Dicky menyoroti beberapa faktor kunci yang akan mendorong realisasi proyeksi tersebut. Pertama, bonus demografi dengan dominasi Generasi Z dan Alpha yang telah melek digital. Kedua, penetrasi internet yang terus meluas. Ketiga, kemampuan inovasi dan teknologi dalam negeri.

"Potensinya ada di kemampuan dalam negeri kita, tentunya kita lihat teknologi dan kemampuan dari inovasi, pengguna internet kita yang terus bertumbuh, dan tentunya bonus demografi," paparnya.

Untuk mengakselerasi capaian tersebut, BI berkomitmen memperkuat tiga pilar. Pertama, membangun infrastruktur sistem pembayaran yang tangguh. Kedua, menciptakan ekosistem ekonomi digital yang terpercaya dan inovatif. Ketiga, mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berdaulat melalui digitalisasi.

“Kita di Bank Indonesia selalu memikirkan bagaimana kita bisa berkontribusi terutama melalui sistem pembayaran,” ucapnya.

Baca juga artikel terkait PERKEMBANGAN EKONOMI DIGITAL atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah