tirto.id - Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengakui target puncak emisi karbon (peak emission) Indonesia mundur lima tahun, dari semula 2030 menjadi 2035.
Eniya menjelaskan bahwa kebutuhan energi untuk menopang industrialisasi tidak sepenuhnya dipenuhi energi bersih dalam jangka pendek. Pertumbuhan ekonomi 8 persen yang digaungkan Presiden RI Prabowo Subianto, membutuhkan energi murah dalam jumlah besar, sehingga pemakaian batu bara masih dominan.
“Ya, betul (mundur 5 tahun), karena industri kita kan memang harus growing. Nah, growing itu membutuhkan energi yang lebih murah. Saat ini yang lebih murah masih batu bara, pertumbuhan industri memang kita perlu growth 8 persen, sehingga peak emission tantangan nih,” ujarnya usai menghadiri acara Indonesia Solar Summit 2025, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (11/9/2025).
Dia mengatakan bahwa strategi seperti ini mirip dengan yang ditempuh Cina, yang tetap mengandalkan batubara untuk menopang industri sekaligus membangun basis industri energi terbarukan, seperti panel surya dan turbin angin.
“Kalau teorinya Cina itu begini, Cina itu pakai batubara banyak, tetapi untuk apa? Supply industry yang membuat energi baru terbarukan (EBT). Kalo membuat solar cell, dia sumbernya masih batu bara," jelasnya.
Kementerian ESDM menekankan, meski puncak emisi mundur ke 2035, Indonesia tetap berkomitmen mengejar target net zero emission (NZE) pada 2060. Namun, pemerintah menilai prioritas jangka pendek adalah memastikan energi terjangkau untuk menopang pertumbuhan industri dan membuka lapangan kerja.
Penulis: Natalia Dian
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






































