tirto.id - PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), anak usaha BUMN yang bergerak di sektor ekspor sumber daya alam (SDA), ternyata baru memiliki satu orang pegawai.
Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa satu-satunya pegawai yang mengisi struktur DSI saat ini adalah Luke Thomas Mahony, yang menjabat sebagai direktur utama.
Meski demikian, Pandu menekankan bahwa proses rekrutmen besar-besaran akan segera dibuka. Pembentukan organisasi DSI diklaim akan dilakukan secara bertahap, serupa dengan masa awal pendirian Danantara.
"Sebagai perusahaan baru dibentuk Senin minggu lalu, Senin kemarin baru menjadi persero BUMN, jadi cukup cepat. Kebetulan pegawainya baru satu, Luke," ujar Pandu di acara Investor Daily Round Table di Jakarta, dikutip Rabu (27/5/2026).
Ia memberikan contoh, Danantara yang pada Februari tahun lalu hanya bermodal tiga pegawai, kini telah berkembang menjadi sekitar 450 pegawai dalam kurun waktu setahun.
"Kalau misalnya bapak ibu ingat, Danantara dimulai Februari dimulai dengan 3 orang. Akhir Maret dan April, 30 orang. Sekarang, setahun kemudian 450 orang," katanya.
Menurut Pandu, perekrutan pegawai untuk DSI nantinya tidak hanya menyasar tenaga kerja lokal, tetapi juga akan dilakukan secara global. Langkah ini diambil karena bisnis perdagangan komoditas dan pembiayaan perdagangan internasional membutuhkan keahlian khusus.
"Jadi dari sisi sumber daya manusia, kami juga rekrut dari global, bukan hanya di Indonesia, semuanya global. Seperti tadi saya sebut di batu bara hanya ada 2 ribu trader di dunia," ujarnya.
Di sisi lain, DSI juga membuka peluang bagi sumber daya manusia dari BUMN yang sudah ada untuk turut bergabung. Hal ini bertujuan untuk mempercepat penguatan kapasitas organisasi melalui proses belajar bersama.
"Tentu nanti akan ada juga dari BUMN yang akan kita coba rekrut juga human capital yang sudah ada itu untuk bisa belajar bareng," katanya.
Pandu menambahkan, kebutuhan tenaga ahli di sektor pembiayaan perdagangan dinilai sangat mendesak. Ia menyebut talenta di bidang tersebut masih minim di Indonesia sehingga diperlukan rekrutmen dari luar negeri untuk transfer pengetahuan.
"Untuk trade financing specifically, most of the talent tuh tidak banyak di Indonesia, banyaknya di luar negeri. Ini juga kita harus bisa recruit to transfer knowledge of doing financing yang menyangkut komoditas," ujar Pandu.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id



































