tirto.id - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyatakan komitmennya untuk memegang kepemilikan saham minimal 30 persen dalam setiap proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy yang akan digarap.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa meski memiliki batas minimal, perusahaannya tetap terbuka terhadap berbagai skema kepemilikan, termasuk ambil alih mayoritas saham oleh mitra strategis.
“Kita bilangnya if we can 30 persen paling tidak. Tapi kita happy to take 51 persen atau lebih, karena paling penting adalah menelusuri masalah lingkungan,” kata Pandu dalam media briefing, di Wisma Danantara, Senin (3/11/2025).
Lebih lanjut, Pandu menjelaskan bahwa fleksibilitas dalam struktur kepemilikan ini bertujuan untuk mendorong partisipasi swasta. Prinsipnya, yang terpenting adalah proyek dapat diselesaikan tepat waktu dan sesuai anggaran.
“Kami ingin private sector ikut bantu masuk ke situ. For certain project kita bisa mayoritas, for certain others, bisa saja yang private sector mayoritas, it's okay,” jelasnya.
Menurut Pandu, insentif bagi sektor swasta untuk terlibat justru terletak pada kepastian ini. Dengan tenggat waktu dan biaya yang terkendali, Economic Internal Rate of Return (EIRR) proyek dapat terjaga.
“Mereka diinsentif untuk menuntaskan proyek tepat waktu, dengan biaya yang pas. EIRR pasti akan lebih baik kalau bisa on time dan cost-nya juga within the range,” tuturnya.
Adapun, Managing Director Investment di Danantara Indonesia, Stefanus Ade Hadiwidjaja, menjelaskan bahwa PSEL ditargetkan dibangun di 33 Provinsi di seluruh Indonesia.
Namun, untuk tahap awal akan dibangun di 7 kota yang telah siap secara lahan, jumlah sampah 1.000 ton per hari, dan ketentuan administrasi lainnya. Anggaran yang dibutuhkan untuk membangun tiap PSEL dengan kapasitas 1.000 ton sampah per hari berkisar antara Rp2,5-3,2 triliun.
“Investasi satu PSEL itu bisa ranging dari Rp2,5 triliun sampai Rp 3,2 triliun untuk kapasitas 1.000 ton. Itu satu (PSEL),” ujarnya.
Proyek ini ditargetkan dapat menyerap tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Dia menjelaskan, untuk tahap konstruksi, paling tidak akan menyerap 2.000-3.000 pekerja tidak langsung, berikut dampak ekonomi di sekitar proyek. Sedangkan, untuk serapan pekerja langsung akan mencapai 500 orang.
“Jadi pembangunannya itu sendiri jadi during construction itu bisa menyerap baik langsung maupun tidak langsung. Yang langsung di situ mungkin 400-500,” ucapnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































