tirto.id - PT Bank DBS Indonesia mencatat dana kelolaan atau asset under management (AUM) nasabah segmen Treasures Private Client, layanan wealth management bagi nasabah dengan aset investasi minimal Rp10 miliar, tumbuh 13 persen sepanjang 2025 hingga 2026. Di tengah tantangan likuiditas perbankan, rata-rata dana kelolaan per nasabah juga meningkat 15 persen.
Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengatakan capaian tersebut menunjukkan kepercayaan nasabah tetap terjaga meski kondisi pasar masih dipenuhi berbagai tantangan.
“Kemudian untuk AUM, under management itu kita bertumbuh 13 persen. Jadi, yet kita bisa mendapatkan 15 persen kenaikan total AUM per customer,” kata Melfrida dalam media briefing DBS Insights Forum 2026 di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Selain mencatat pertumbuhan dana kelolaan, DBS juga membukukan kenaikan pendapatan (income) segmen Treasures Private Client sebesar 34 persen pada periode yang sama.
“Di tahun 2025 sampai dengan tahun 2026, we are glad to share with you bahwa khusus untuk segmen Treasures Private Client, itu income growthnya itu adalah 34 persen,” ujarnya.
Menurut Melfrida, sebagian besar pertumbuhan pendapatan tersebut berasal dari peningkatan fee income bisnis investasi dan asuransi.
“Majority dari income yang kita bookingnya itu datang dari fee income. Fee income itu adalah shopnya Pak Djoko, investment and insurance. Jadi growthnya itu sekitar 65 persen, kontribusi terhadap 34 persen kenaikan total income,” jelasnya.
Kinerja positif tersebut turut mendorong pertumbuhan laba setelah pajak (profit after tax) DBS Indonesia sebesar 24 persen.
“Jadi, all in all teman-teman, kita punya kan profit after tax, itu 24 persen,” kata Melfrida.
Menurut dia, capaian tersebut menjadi hasil yang membanggakan mengingat kondisi global sepanjang 2025 hingga 2026 masih dibayangi perang dan tingginya ketegangan geopolitik.
“Ini sungguh satu hal yang membanggakan, karena kalau teman-teman ingat di tahun 2025, itu ada perang. Kemudian, hal ini juga menjadi challenging lagi, karena sampai sekarang political tension masih sangat tinggi,” ujarnya.
Penulis: Nanda Surya
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































