Menuju konten utama

Daftar Ratu Belanda & yang Pernah ke Indonesia selain Maxima

Ketahui daftar nama Ratu Belanda dari generasi ke generasi, mulai dari Wilhelmine hingga Maxima, serta siapa Ratu Belanda yang pernah datang ke Indonesia.

Daftar Ratu Belanda & yang Pernah ke Indonesia selain Maxima
Ilustrasi Ratu. freepik/Still life of ruler crown

tirto.id - Ratu Maxima dari Belanda mengunjungi Indonesia pada 24–27 November 2025. Sebelum Maxima, ternyata Ratu Belanda generasi sebelumnya juga pernah berkunjung ke Tanah Air untuk memperkuat hubungan diplomasi.

Ratu Maxima diketahui datang ke Indonesia sebagai Advokat Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Keuangan Inklusif bagi Pembangunan (UNSGSA). Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat kolaborasi antara PBB dan Indonesia di bidang keuangan.

Kunjungannya kali ini bukan pertama kalinya bagi Ratu Maxima. Sebelumnya, istri dari Raja Willem‑Alexander ini sudah pernah beberapa kali datang ke Tanah Air. Misalnya sebagai perwakilan PBB pada tahun 2016 dan pada tahun 2020 saat berkunjung bersama sang suami.

Kedatangan Ratu Maxima langsung menyedot perhatian publik. Salah satu alasannya adalah karena catatan sejarah antara Indonesia dan Belanda di masa lalu.

Jauh sebelum Indonesia merdeka di tahun 1945, Belanda telah berdiri sebagai negara monarki yang dipimpin oleh seorang raja dan ratu. Selama ratusan tahun, ada beberapa ratu yang tercatat oleh sejarah, dan salah satunya pernah mengunjungi Indonesia pasca kemerdekaan.

Daftar Ratu Belanda

RAJA BELANDA KUNJUNGI RUMAH ADAT SUKU BATAK

Raja Belanda Willem Alexander bersama Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti disambut tarian tor-tor oleh masyarakat Batak ketika berkunjung di Dusun Siambat Dalan, Desa Lintong Nihuta, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Kamis (12/3/2020). ANTARA FOTO/Septianda Perdana.

Sejumlah tokoh wanita pernah memegang takhta Kerajaan Belanda dan memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah negara tersebut, baik sebagai pewaris takhta maupun ratu consort (pasangan dari raja yang berkuasa). Berikut daftar Ratu Belanda dari generasi ke generasi:

1. Ratu Wilhelmine

Lahir sebagai Putri Prussia, Friederike Luise Wilhelmine menjadi Ratu Belanda sekaligus sebagai istri Raja William I pada periode tahun 1815–1837. Ia lahir di Potsdam pada 18 November 1774 sebagai anak keempat dari delapan bersaudara dalam keluarga Kerajaan Prusia.

Pada 1 Oktober 1791, Putri Wilhelmine menikah dengan sepupunya, William, yang akhirnya menjadi seorang raja. Wilhelmine resmi menjadi Ratu Belanda pada tahun 1815 ketika wilayah kerajaan masih meliputi Belanda dan Belgia.

Ia jarang tampil menonjol dalam kehidupan publik, sehingga kurang begitu populer sebagai ratu dan tidak memiliki pengaruh besar dalam urusan kenegaraan.

Kesehatannya diketahui menurun sejak tahun 1820 dan ia semakin jarang terlihat di depan umum hingga wafat pada tahun 12 Oktober 1837 di Istana Noordeinde, dan kemudian dimakamkan di Nieuwe Kerk Delft.

2. Ratu Anna Pavlovna

Anna Pavlovna dari Rusia menjadi Ratu Belanda periode tahun 1840–1949 melalui pernikahannya dengan Raja William II. Ia lahir pada 18 Januari 1795 di Gatchina Palace sebagai seorang Grand Duchess Rusia dari keluarga Romanov.

Pada tahun 1816, Anna menikah dengan Pangeran Orange, calon Raja Belanda. Pernikahan tersebut awalnya diusulkan oleh kakaknya, Tsar Alexander I, sebagai bentuk aliansi politik, tapi kemudian disetujui sendiri oleh Anna.

Setelah suaminya naik takhta pada tahun 1840, Anna menjadi Ratu Consort Belanda dan dikenal sebagai figur yang sangat mementingkan etiket dan keagungan kerajaan.

Anna Pavlovna wafat pada 1 Maret 1865, meninggalkan warisan sebagai ratu yang penuh martabat, disiplin, dan setia pada identitas asalnya dari Rusia hingga akhir hayat.

Ilustrasi Ratu

Ilustrasi Ratu. foto/High angle girl wearing silver crown

3. Ratu Sophie

Sophie Friederike Matilda merupakan istri pertama dari Raja William III dan menjadi ratu untuk periode tahun 1849–1877. Ia lahir pada 17 Juni 1818 di Stuttgart dari keluarga Kerajaan Wurttemberg. Melalui perjodohan politik, ia akhirnya menikah dengan William III di tahun 1839.

Hubungan mereka sejak awal penuh ketegangan dan ketidakcocokan. Hal ini terus berlangsung sampai William III naik takhta pada 1849. Pada akhirnya, mereka berpisah tanpa bercerai di tahun 1855. Jadi, Sophie tetap menjalankan tugas publik sebagai ratu, tapi menjalani kehidupan pribadi yang terpisah dari William III.

Ratu Sophie wafat pada 3 Juni 1877 di Huis ten Bosch dan dimakamkan dengan mengenakan gaun pengantin, simbol dari keyakinannya bahwa kehidupannya sudah berhenti sejak hari pernikahannya dimulai.

4. Ratu Emma

Memiliki nama lengkap Adelheid Emma Wilhelmina Theresia, Ratu Emma merupakan istri kedua Raja William III. Ia menjabat sebagai ratu untuk periode tahun 1879–1834.

Lahir pada 2 Agustus 1858 di Kastil Arolsen, ia dibesarkan dalam keluarga kerajaan kecil di Jerman. Pernikahannya dengan William III pada 1879 berlangsung karena keinginan keluarga, bukan pilihan pribadi.

Ia melahirkan seorang putri, Wilhelmina, pada 31 Agustus 1880, yang kelak menjadi pewaris takhta sekaligus menjadi Ratu Belanda. Saat Raja William III jatuh sakit, Ratu Emma mulai menjalankan banyak tugas kenegaraan.

Ia akhirnya resmi menjadi wali penguasa (regensi) pada 1890 ketika suaminya meninggal, sedangkan Wilhelmina sang pewaris takhta masih di bawah umur. Masa regensinya dianggap sebagai salah satu periode paling stabil dalam sejarah monarki Belanda.

Ketika Wilhelmina resmi naik takhta dan mencapai usia dewasa pada 1898, Emma pensiun dari regensi sambil tetap menjalankan peran publik sebagai ibu suri. Emma wafat pada 1934 di Den Haag dan dimakamkan di Delft sebagai salah satu tokoh kerajaan Belanda yang paling dihormati sepanjang sejarah.

5. Ratu Wilhelmina

Ratu bernama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Maria ini lahir pada 31 Agustus 1880 di Istana Noordeinde, Den Haag. Ia adalah satu-satunya pewaris takhta yang masih hidup dan merupakan putri dari Raja William III dan Ratu Emma.

Dengan wafatnya sang ayah pada 23 November 1890, Wilhelmina yang baru berusia 10 tahun naik takhta sebagai Ratu Belanda, tapi ia berada di bawah naungan masa regensi ibunya, Ratu Emma, hingga 1898. Ia diketahui menikah dengan Duke Henry of Mecklenburg-Schwerin pada 1901.

Masa kekuasaan Ratu Wilhelmina berlangsung sekitar 58 tahun (1890–1948), menjadikannya penguasa terlama dalam sejarah monarki Belanda. Selama masa pemerintahannya, ia melewati berbagai periode penting, termasuk Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Ratu Wilhelmina mengalami penurunan kesehatan dan memutuskan turun tahta pada 4 September 1948, digantikan oleh putrinya, Juliana. Ratu Wilhelmina wafat pada 28 November 1962 di usia 82 tahun.

Ilustrasi Mozaik Ratu Wilhelmina

Ilustrasi Ratu Wilhelmina. tirto.id/Nauval

6. Ratu Juliana

Ratu Juliana Louise Emma Marie Wilhelmina lahir pada 30 April 1909 di Istana Noordeinde, Den Haag, sebagai satu-satunya anak dari Ratu Wilhelmina dan Duke Henry of Mecklenburg-Schwerin.

Ia menjabat sebagai ratu periode tahun 1948–1980. Ratu Juliana juga diketahui menikah pada 1937 dengan Pangeran Bernhard dan dikaruniai empat orang anak.

Juliana sempat menjabat sebagai wali takhta sementara ketika kesehatan ibunya, Ratu Wilhelmina, menurun. Ia kemudian resmi naik takhta pada 4 September 1948. Sebagai Ratu Belanda, Juliana dikenal dekat dengan rakyat dan memiliki gaya hidup sederhana.

Pada 1949, ia menandatangani pengakuan kedaulatan Indonesia sebagai bekas koloni Belanda, dan kemudian memimpin Uni Belanda-Indonesia sampai bubar pada 1956. Ratu Juliana wafat pada 20 Maret 2004 di usia 94 tahun.

Ratu Juliana

Ratu Juliana. FOTO/Istimewa

7. Ratu Beatrix

Ratu Beatrix Wilhelmina Armgard lahir pada 31 Januari 1938 di Istana Soestdijk di Baarn, Belanda, sebagai putri pertama dari Ratu Juliana. Ia menjabat sebagai Ratu Belanda untuk periode tahun 1980–2013.

Pada 10 Maret 1966, Beatrix pernah menikah dengan diplomat Jerman Claus von Amsberg, yang kemudian menjadi pangeran Belanda. Ketika ibunya, Ratu Juliana, turun takhta pada 30 April 1980, Beatrix naik tahta dan menjadi Ratu Belanda.

Pada 28 Januari 2013, Ratu Beatrix mengumumkan bahwa ia akan turun takhta pada 30 April, tepat setelah 33 tahun memerintah. Alasannya, ia merasa bahwa sudah saatnya tanggung jawab negara diberikan kepada generasi baru.

Pewaris takhtanya adalah putra sulungnya, Pangeran Willem-Alexander. Transisi monarki serta pelantikan Willem-Alexander sebagai raja berlangsung pada 30 April 2013.

8. Ratu Maxima

Ratu Maxima lahir dengan nama Maxima Zorreguieta pada 17 Mei 1971 di Buenos Aires, Argentina. Setelah bertemu dengan Willem‑Alexander pada tahun 1999, keduanya resmi bertunangan pada 2001 dan menikah pada 2 Februari 2002.

Maxima memperoleh kewarganegaraan Belanda melalui dekrit kerajaan dan resmi menjadi anggota keluarga kerajaan sebagai Putri Belanda.

Ketika ibu mertuanya, Ratu Beatrix, turun takhta pada 30 April 2013, Maxima pun resmi menjadi Ratu Consort Belanda. Bersama suaminya, Raja Willem-Alexander, Maxima dikaruniai tiga orang putri.

Maxima dikenal aktif dalam berbagai bidang sosial dan ekonomi, termasuk mendukung integrasi sosial untuk imigran, hak-hak LGBTQ, serta keuangan inklusif. Selain itu, ia diangkat sebagai Advokat Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Keuangan Inklusif bagi Pembangunan (UNSGSA).

Ratu Belanda yang Pernah ke Indonesia selain Maxima

Kunjungan Ratu Belanda di Indonesia

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi (kedua kanan) berjalan bersama dengan UN Secretary-General's Special Advocate for Financial Health yang juga sebagai Ratu Belanda Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti (kedua kiri) setibanya di Bandara Soekarno–Hatta, Tangerang, Banten, Senin (24/11/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/agr

Kedatangan Ratu Maxima ke Indonesia menjadi sorotan publik. Namun, Maxim bukanlah Ratu Belanda pertama yang mengunjungi Indonesia. Sejarah mencatat bahwa sebelumnya Ratu Juliana juga pernah datang ke Tanah Air.

Pada tahun 1971, Ratu Juliana bersama suaminya, Prince Bernhard of Lippe‑Biesterfeld, melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Ini adalah kunjungan resmi pertama oleh seorang monarki Belanda ke bekas koloninya.

Kunjungan kenegaraan ini juga dilakukan sebagai bentuk balasan atas kunjungan Presiden Soeharto ke Belanda pada tahun sebelumnya. Ratu Juliana dan rombongan tiba di Jakarta pada 26 Agustus 1971 dan disambut dengan hangat oleh pemerintah Indonesia.

Kunjungan tersebut berlangsung sekitar 10 hari. Selama di Indonesia, Ratu Juliana diketahui mengunjungi beberapa kota, mulai dari Bogor, Bandung, Yogyakarta, hingga mengunjungi Pulai Bali.

Sang Ratu juga mendatangi situs-situs budaya seperti Candi Borobudur dan Prambanan di akhir Agustus. Setelah itu, Ratu Juliana mengunjungi Bali sebagai penutup lawatannya ke Indonesia.

Meski memiliki latar belakang sejarah yang cukup sensitif, masyarakat Indonesia tetap menerima kedatangan Ratu Juliana. Kunjungan ini juga menjadi simbol rekonsiliasi hubungan bilateral antara Indonesia dan Belanda.

Demikian informasi terkait daftar Ratu Belanda dan yang pernah mengunjungi Indonesia. Dari Wilhelmine hingga Maxima, Ratu Belanda pada akhirnya memegang peran penting dalam sejarah dan kehidupan monarki di Belanda, baik sebagai penguasa yang berdaulat maupun sebagai pendamping raja.

Ikuti terus informasi menarik lain terkait negara Belanda di kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel tentang Belanda

Baca juga artikel terkait BELANDA atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani