tirto.id - Daftar lengkap Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 1926-2026 meliputi KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahid Hasyim, KH. Abdul Wahab Hasbullah, hingga KH. Bisri Syansuri. Simak tugas dan wewenangnya secara lengkap.
Hasil Muktamar NU ke-35 tahun 2026 telah menetapkan KH. Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam PBNU masa khidmat 2026-2031. Penetapan tersebut dilakukan melalui musyawarah mufakat majelis Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Dalam mekanisme Muktamar NU 2026, AHWA merujuk pada kelompok tokoh yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan penting, termasuk dalam urusan kepemimpinan. Majelis AHWA juga menetapkan Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031.
Sejumlah ulama pernah mengemban amanat sebagai Rais Aam PBNU, mulai dari KH. Hasyim Asy'ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah, dan KH. Bisri Syansuri. Berikutnya KH. Ali Maksum, KH. Sahal Mahfudh, KH. Musthofa Bisri, KH. Ma'ruf Amin, hingga paling anyar KH. Miftachul Akhyar.
Daftar Lengkap Rais Aam PBNU 1926-2026
Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Sejarah hari lahir NU terjadi satu abad silam, tepatnya tanggal 31 Januari 1926. Pendirian NU digagas para kiai ternama dari Jawa Timur, Madura, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, yang menggelar pertemuan di kediaman K.H. Wahab Chasbullah di Surabaya.
NU bergerak di bidang keagamaan dan kemasyarakatan serta dibentuk dengan tujuan untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Baik dalam konteks komunikasi vertikal dengan Allah SWT maupun komunikasi horizontal dengan sesama manusia.
Dalam perjalanan, NU berkembang pesat dan amat terjaga secara tradisional. Kini, NU menjadi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia. Perkembangan NU tak lepas dari peran penting struktur kepengurusan PBNU.
Dalam struktur PBNU, terdapat pembagian tugas yang jelas antara Rais Aam (Syuriyah) dan Ketua Umum (Tanfidziyah). Rais Aam merupakan istilah yang merujuk pada pemimpin tertinggi di dalam jam’iyah NU.
Rais Aam memegang peran utama dalam menetapkan keputusan-keputusan strategis, termasuk penjaga moral dan arah keagamaan organisasi. Sementara, Ketua Umum memimpin tanfidziyah, yaitu lembaga pelaksana yang beranggotakan pengurus yang bertugas menjalankan administrasi dan operasional organisasi.
Berikut daftar Rais Aam PBNU 1926-2026 yang dapat menjadi referensi masyarakat:
1. KH. Hasyim Asy'ari (1926-1947)
KH. Hasyim Asy'ari termasuk salah satu pendiri NU yang lahir di kalangan keluarga agamis dan pendiri pondok pesantren di Jombang, Jawa Timur. Pada periode tersebut, menjadi fase awal peletak dasar jam'iyah NU.
KH. Hasyim Asy'ari berperan dalam memupuk jiwa-jiwa nasionalisme dan anti-penjajahan. Dalam sejarah pergerakan NU, ia menjadi pencetus Resolusi Jihad 1945 yang menjadi tonggak perlawanan umat Islam melawan penjajah. KH Hasyim Asy'ari juga mengeluarkan fatwa haram bagi umat Islam naik haji menggunakan fasilitas milik Belanda.
Berkat kegigihannya dalam mempertahankan NKRI, KH Hasyim Asy'ari mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Statusnya sebagai Pahlawan Nasional ini diberikan bertepatan pada bulan pahlawan pada 17 November 1964 oleh Presiden Sukarno.
2. KH. Wahid Hasyim (1947-1950)
KH. Abdul Wahid Hasyim lahir di Desa Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada Jumat Legi, 5 Rabiulawal 1333 (1 Juni 1914 M). Wahid Hasyim lahir dari pasangan cendekiawan agama Islam, KH Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah.
Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, ia ditunjuk sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pembentukan BPUPKI salah satunya bertujuan merumuskan dasar negara Indonesia.
Di forum inilah melalui Panitia Sembilan, KH. Abdul Wahid Hasyim merumuskan dan menyepakati sila pertama Piagam Jakarta “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Selama proses perumusan dasar negara Indonesia, Wahid Hasyim memperjuangkan rekonsiliasi politik yang bertujuan mendamaikan perbedaan agama di Indonesia. Abdul Wahid Hasyim meninggal pada hari itu, pukul 10.30 WIB, di usia 39. Sejak saat itu juga, KH Abdul Wahid Hasyim didaulat sebagai Pahlawan Nasional RI.
3. KH. Abdul Wahab Hasbullah (1950-1971)
KH. Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama, tokoh nasional, politikus, dan pemimpin di NU. KH Abdul Wahab Hasbullah lahir di Tambakberas, Jombang, pada 31 Maret 1888. Sejak kecil, dia sudah terbiasa dengan kultur islam-tradisional.
Ayahnya adalah KH. Hasbullah Said. Sementara itu, ibu KH A. Wahab Hasbullah bernama Nyai Latifah. Keduanya merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Selain mengasuh pesantren, KH. Wahab Hasbullah aktif dalam pergerakan nasional, salah satunya dengan mendirikan Nahdlatul Wathan bersama Kiai Mas Mansur. Nahdlatul Wathan merupakan lembaga pendidikan agama bercorak nasionalis moderat pertama di Nusantara kala itu.
Dalam hal politik salah satu keputusan KH. Wahab yang fenomenal adalah saat NU keluar dari Masyumi pada tahun 1952. Menurut pandangan KH Wahab, keberadaan NU bagi Masyumi seperti adagium bahasa Arab wujuduhu kaadamihi, adanya sama belaka dengan ketiadaannya.
4. KH. Bisri Syansuri (1971-1980)
Bisri Syansuri lahir pada 18 September 1886 di sebuah wilayah pesisir Jawa yang kental dengan kultur keislaman yakni Desa Tayu, Pati, Jawa Tengah. Bisri Syansuri merupakan salah satu murid dari K.H. Hasyim Asy'ari.
KH. Bisri Syansuri merupakan ahli fiqih yang sangat memegang teguh hukum-hukum syariat. Kiai Bisri juga terbilang progresif pada masa Orde Baru. Salah satunya adalah dengan menolak RUU Perkawinan yang dikeluarkan oleh pemerintahan Soeharto kala itu.

5. KH. Ali Maksum (1980-1984)
KH. Ali Maksum lahir pada 2 Maret 1915 (sebagian sumber menyebut 15 Maret 1915) di Dusun Sumurkepel, Desa Sumberigirang, Lasem, dari pasangan KH. Maksum Ahmad dan Nyai Hj. Nuriyati, pengasuh PP. Al-Hidayah Soditan, Lasem, Rembang.
Rais Aam PBNU masa khidmah 1981-1984 ini mengalami masa transisi dari masa fusi Partai NU di PPP ke masa formulasi Khittah NU tahun 1984. KH. Ali Maksum menjadi motor dari kalangan kiai sepuh dalam mengupayakan jam`iyah NU kembali ke khittahnya.

6. KH. Ahmad Shiddiq (1984-1991)
KH. Ahmad Shiddiq merupakan tokoh pemikir brilian yang berhasil merumuskan landasan teologis bagi NU untuk menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Lewat langkah ini, NU telah membuktikan bahwa keislaman dan kebangsaan tidak saling bertentangan.
7. KH. Ali Yafie (1991-1992)
KH. Ali Yafie menjabat sebagai Penjabat (Pjs) Rais Aam PBNU menggantikan posisi KH. Achmad Siddiq yang wafat pada awal 1991. Ia merupakan akademisi dan rektor di Institut Ilmu al-Qur'an. Beliau juga dikenal sebagai penggagas wacana "Fiqhul Bi'ah" atau fiqih lingkungan, sebagai respons atas persoalan lingkungan.
8. KH. Ilyas Ruhiat (1992-1999)
Pada muktamar ke-29 NU yang berlangsung di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, ia terpilih menjadi Rais Aam PBNU mendampingi KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU. KH Ilyas Ruhiat dikenal kharismatik yang memimpin NU melewati masa krisis menjelang Reformasi 1998.
9. KH. Sahal Mahfudz (1999-2014)
KH. Sahal Mahfudh dilahirkan pada 17 Desember 1937 di desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa tengah. Ia tumbuh besar di pusaran keluarga pesantren yang selama beberapa generasi memiliki tradisi "melahirkan" ulama. Kiai Sahal adalah putra K.H. Mahfud Salam, adik sepupu salah satu pendiri NU KH. M. Bisri Syansuri.
Kiai Sahal memandang fikih sebagai pemaknaan sosial yang artinya menjadikan fikih sebagai wacana pembanding dan penyanding dalam bingkai kehidupan sosial kemasyarakatan.

10. KH. Mustofa Bisri (2014-2015)
Setelah KH. Sahal Mahfudh wafat pada tahun 2014, posisi Rais Aam dilanjutkan oleh KH. Musthofa Bisri sebagai Pejabat Rais menggantikan, beliau hingga pada perhelatan muktamar ke-33 di Tebuireng, Jombang, tahun 2015.
Sebelum menjadi pengasuh Pesantren Raudlatuth Tholibin, Leteh, Rembang, Gus Mus mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dan Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. la kemudian belajar di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Selama di Mesir ia menjadi sahabat karib Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Mus terkenal melampaui dinding-dinding pesantren dan lingkaran NU, yaitu sebagai seorang penyair, cerpenis, dan pelukis.

11. KH. Ma'ruf Amin (2015-2018)
KH. Ma'ruf Amin dalah sosok ulama yang ahli di bidang ekonomi syariah untuk memperkuat kemandirian finansial umat. Ma’ruf Amin masih punya darah kiai di Banten yakni ulama besar Syeikh Nawawi al-Bantani.
Ma'ruf Amin sudah jadi dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Jakarta Utara dari 1968 hingga 1971. Dia pernah juga menjadi Ketua Cabang Gerakan Pemuda Ansor Tanjung Priok di masa perlawanan terhadap PKI (1964-1966).
KH. Ma'ruf Amin juga sempat menjadi ketua Front Pemuda dari 1964 hingga 1967. Dari 1968 hingga 1978, dia menjadi Wakil Ketua NU wilayah DKI Jakarta.

12. KH. Miftachul Akhyar (2018-2026 & 2026-2031)
KH. Miftachul Akhyar merupakan ulama kelahiran Surabaya pada 1953 lalu. Ia adalah anak KH. Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah. KH. Miftachul Akhyar merupakan pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, di Kedung Tarukan No. 11 Surabaya, Jawa Timur.
Pada 2018, Ma'ruf Amin menanggalkan jabatannya di PBNU untuk turut serta mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden dalam Pemilu 2019. Miftachul Akhyar kemudian mengisi kekosongan jabatan Rais Aam PBNU sejak 2018. Selain itu, ia menjabat ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020-2025 yang sebelumnya dipegang Ma'ruf Amin.
KH. Miftachul Akhyar kemudian resmi jadi Rais Aam PBNU definitif pada 2021. Sejak itu, ia terus terpilih sebagai pejabat jabatan pemimpin tertinggi PBNU tersebut. Terbaru, ia kembali terpilih dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Tambakberas, Jombang, Jawa Timur untuk periode 20226-2031.
Tugas dan Wewenang Rais Aam PBNU
Secara struktur, tugas dan wewenang Rais Aam PBNU tertuang dalam Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama (ART) NU. Berdasarkan ART NU Bab XVIII Pasal 58 ayat 1, memiliki lima wewenang. Selanjutnya, Rais Aam juga memiliki empat tugas penting.
Secara umum, kepengurusan Nahdlatul Ulama terdiri dari Mustasyar, Syuriyah, dan Tanfidziyah. Mustasyar adalah penasihat yang terdapat pada pengurus besar, pengurus wilayah, pengurus cabang/pengurus cabang istimewa, dan majelis wakil cabang.
Lalu syuriyah adalah pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama. Jabatan di dalam pengurus harian syuriyah terdiri dari rais aam, wakil rais aam, beberapa rais, katib ‘aam, dan beberapa katib.
Berikutnya, jabatan di dalam struktur tanfidziyah atau pelaksana terdiri dari ketua umum, wakil ketua umum, sekretaris jenderal, beberapa wakil sekretaris jenderal, bendahara umum, dan beberapa bendahara.
Mengutip tulisan "Wewenang dan Tugas Rais 'Aam PBNU" karya Aru Lego dikutip via NU Online, berikut tugas dan wewenang Rais Aam PBNU menurut dokumen ART NU:
Wewenang Rais Aam PBNU
- Mengendalikan pelaksanaan kebijakan umum organisasi.
- Mewakili PBNU baik keluar maupun ke dalam yang menyangkut urusan keagamaan baik dalam bentuk konsultasi, koordinasi, maupun informasi.
- Bersama ketua umum mewakili PBNU dalam hal melakukan tindakan penerimaan, pengalihan, tukar-menukar, penjaminan, penyerahan wewenang penguasaan atau pengelolaan dan penyertaan usaha atas harta benda bergerak dan/atau tidak bergerak milik atau yang dikuasai NU dengan tidak mengurangi pembatasan yang diputuskan oleh muktamar baik di dalam atau di luar pengadilan.
- Bersama ketua umum menandatangani keputusan-keputusan strategis PBNU.
- Bersama ketua umum membatalkan keputusan perangkat organisasi yang bertentangan dengan AD dan ART NU.
- Mengarahkan dan mengawasi pelaksanaan keputusan-keputusan muktamar dan kebijakan umum PBNU.
- Memimpin, mengkoordinasikan dan mengawasi tugas-tugas di antara pengurus besar syuriyah.
- Bersama ketua umum memimpin pelaksanaan muktamar, musyawarah nasional alim ulama, konferensi besar, rapat kerja, rapat pleno, rapat harian syuriyah dan tanfidziyah.
- Memimpin rapat harian syuriyah dan rapat pengurus lengkap syuriyah.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id





































