Menuju konten utama
GWS

Cortisol Cocktail, Tren ala TikTok yang Tak Perlu Diikuti

Sejumlah ahli gizi dan kesehatan menyatakan tren #healthtok ini tidak berguna, karena tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan di dunia medis.

Cortisol Cocktail, Tren ala TikTok yang Tak Perlu Diikuti
Cortisol Cocktail. foto/istockphoto

tirto.id - Belum lama ini, lembaga riset KFF (Kaiser Family Foundation) melakukan jajak pendapat kecil-kecilan terhadap warganet Amerika Serikat. Sekitar 1.300 orang disurvei terkait media sosial sebagai sumber informasi mengenai kesehatan. Hasilnya, TikTok muncul sebagai platform paling dipercaya sebagai sumber informasi kesehatan yang bonafide, mengalahkan YouTube dan Reddit.

Kesuksesan TikTok dalam jajak pendapat tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran yang ia emban dalam beberapa tahun belakangan. Lewat tagar #HealthTok, pelantar bikinan ByteDance tersebut kerap menjadi trendsetter dalam bidang kesehatan serta wellness (cara yang ditempuh untuk sehat).

Tahun ini saja beberapa tren sudah mencuat, mulai dari fibermaxxing (mengoptimalkan asupan serat), cozymaxxing (menciptakan kondisi senyaman mungkin di rumah), sampai juicing (membuat berbagai macam jus).

Selain tiga tren tersebut, ada satu tren #HealthTok lain yang terus mengundang perbincangan. Namanya cortisol cocktail.

Ihwal Hormon Stres

Kortisol sering kali disebut sebagai hormon stres karena fungsinya adalah mempersiapkan tubuh manusia untuk menghadapi ancaman. Namun, selain itu, ia juga punya peran lain, yaitu meregulasi metabolisme, level energi, sampai ritme sirkadian. Hormon ini dilepaskan setiap hari oleh kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal.

Normalnya, hormon kortisol dilepaskan dalam jumlah besar pada pagi hari. Ia membantu manusia untuk mulai siaga dan siap beraktivitas. Sebaliknya, pada malam hari, jumlah hormon yang dilepaskan menurun drastis untuk membiarkan tubuh beristirahat. Dalam situasi-situasi tertentu, semisal ketika dikejar anjing, kelenjar adrenal bakal melepaskan ekstra kortisol yang kemudian meningkatkan glukosa dalam aliran darah sebagai sumber energi.

Level kortisol dalam tubuh, idealnya, adalah naik turun. Naik pada pagi hari, turun pada malam hari, dan hanya mengalami lonjakan dalam situasi-situasi tertentu. Akan tetapi, hidup tidaklah sesederhana itu. Munculnya berbagai macam stressor (penyebab stres), mulai dari urusan pekerjaan, utang piutang, atau masalah keluarga, membuat level kortisol jadi tidak pernah turun, bahkan ketika malam sudah tiba.

Tingginya level kortisol membuat tubuh secara konstan berada dalam mode siaga. Dengan begitu, kualitas tidur pun mengalami penurunan karena mode tersebut membuat seseorang terus-menerus terbangun. Bahkan, insomnia pun bisa terjadi jika kondisi ini tidak segera ditangani.

Sebenarnya, bukan cuma stressor yang membuat level kortisol dalam tubuh senantiasa tinggi. Asupan makanan seperti protein hewani, gula olahan, garam, dan lemak bisa membuat level kortisol tak kunjung turun. Selain itu, ada pula trauma, gangguan tidur seperti obstructive sleep apnea, serta penyakit seperti autoimun dan kanker yang juga bisa menyebabkan produksi kortisol berlebih.

Akibatnya bermacam-macam. Selain mendisrupsi tidur, tingginya level kortisol juga dapat menyebabkan perubahan dalam metabolisme, kenaikan berat badan, inflamasi, gangguan ingatan, kecemasan dan depresi, sakit kepala, bahkan penyakit jantung.

Nah, menurut #HealthTok, tingginya level kortisol itu berarti kelenjar adrenal bekerja terus-menerus sehingga lama kelamaan kelenjar tersebut mengalami kelelahan. Oleh karena itu, mereka pun merekomendasikan cortisol cocktail sebagai solusi untuk permasalahan ini.

Tren yang Tak Perlu Diikuti

Membuat cortisol cocktail tidaklah sulit karena bahan utamanya hanya tiga dan mudah didapat, yaitu jus jeruk, air kelapa, dan garam laut. Terkadang, ada pula yang menambahkan magnesium ke dalamnya tetapi tidak semua melakukan itu. "Teorinya", vitamin C dari jeruk, potasium dari air kelapa, dan sodium dari garam laut bisa meredakan kelelahan kelenjar adrenal.

Akan tetapi, menurut para ahli, ternyata cortisol cocktail tidak berguna, setidaknya dalam fungsi yang dipromosikan para TikToker. Pertama, karena tidak ada yang namanya kelelahan kelenjar adrenal.

"Tidak ada bukti yang menunjukkan kelenjar adrenal dapat mengalami kelelahan atau kehilangan kemampuan mensekresi hormon pada manusia normal," ujar dr. Lawrence Kirschner kepada New York Times.

Kedua, karena tidak ada kandungan dalam bahan-bahan pembuat cortisol cocktail yang berpengaruh pada level kortisol.

"Sebagai seorang ahli gizi yang terdaftar resmi, saya bisa bilang bahwa saat ini tidak ada bukti saintifik yang menunjukkan bahwa minuman yang terbuat dari jus jeruk, air kelapa, dan garam laut bisa menurunkan level kortisol. Jus jeruk mengandung vitamin C dan air kelapa mengandung elektrolit, tetapi kombinasi bahan-bahan itu tidak berpengaruh pada kortisol sama sekali," jelas Nichola Ludlam-Raine, juru bicara British Dietetic Association, kepada BBC.

Ahli lain yang diwawancarai BBC, Daryl O'Connor dari University of Leeds, justru menganggap bahwa magnesium, bahan yang bisa dibilang tidak wajib dalam pembuatan cortisol cocktail ala #HealthTok, yang punya peranan dalam mereduksi stres.

"Ada bukti yang masih terbatas, tetapi cukup meyakinkan, bahwa suplementasi magnesium bisa memberi manfaat pada penderita kecemasan," tuturnya.

Lantas, apakah cortisol cocktail sama sekali tidak ada gunanya? Tentu tidak. Seperti yang dikatakan Ludlam-Raine, bahan-bahan pembuat cortisol cocktail, secara individual, sebenarnya mengandung nutrien yang dibutuhkan oleh tubuh. Akan tetapi, memang cuma magnesium yang secara langsung bisa memberikan pengaruh pada level stres dan itu pun bukan jadi bahan wajib.

Nutrien-nutrien yang terkandung dalam bahan pembuat cortisol cocktail sejatinya bisa ditemukan dalam bahan-bahan makanan lain. Vitamin C, misalnya, bisa ditemukan pada mangga dan brokoli. Potasium bisa ditemukan pada pisang, alpukat, serta ubi jalar. Sementara sodium, well, mayoritas orang malah sudah bisa dikatakan "overdosis" sodium.

Sebagai bukti, menurut jurnal yang diterbitkan Persatuan Ahli Gizi Indonesia pada 2015, sekitar 52,7 persen orang Indonesia mengonsumsi lebih dari 2.000 mg sodium per hari. Sementara itu di Amerika, menurut data terbaru American Medical Association, rata-rata orang mengonsumi 3.400 mg sodium per hari.

Artinya, dengan mengikuti pola makan seimbang pun seseorang sudah bisa merasakan manfaat-manfaat yang diberikan oleh bahan-bahan dari cortisol cocktail. Bahkan, cortisol cocktail, khususnya apabila dikonsumsi berlebihan, bisa jadi sumber penyakit baru.

Kepada New York Times, dr. Anat Ben-Shlomo dari Cidars-Senai Medical Center, Los Angeles, menjelaskan bahwa kelebihan sodium bisa meningkatkan tekanan darah yang berujung pada meningkatnya risiko strok dan serangan jantung. Sementara konsumsi gula berlebih, bahkan dari sumber alami seperti jus jeruk sekalipun, bisa meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Satu resep cocktail cortisol biasanya terdiri dari setengah gelas jus jeruk, setengah gelas air kelapa, dan setengah sendok teh garam laut. Dari situ saja, sodium yang dikonsumsi sudah mencapai 1.200 gram, sementara gula yang dikonsumsi bisa sampai 16 gram. Menurut NHS (Layanan Kesehatan Nasional) Britania Raya, seorang dewasa hanya direkomendasikan mengonsumsi 30 gram gula per hari.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa cortisol cocktail bukan cuma tidak bermanfaat bagi penurunan level kortisol dan kerja kelenjar adrenal, tetapi juga bisa jadi berbahaya dalam porsi berlebih. Pertanyaannya, apa sebenarnya yang benar-benar punya manfaat dalam meregulasi kortisol, khususnya menurunkan level kortisol yang tinggi?

Kepada BBC, Ludlam-Raine menjelaskan ada beberapa jenis makanan yang bisa dicoba. Yakni, makanan berprotein, makanan yang kaya akan serat, makanan yang mengandung lemak sehat, makanan yang difermentasi seperti sauerkraut dan kimchi, dan makanan kaya magnesium seperti kacang-kacangan, biji-bijian, serta sayuran hijau. Di sisi lain, membatasi asupan kafein di angka 400 mg per hari juga bisa memberikan efek positif.

Selain makanan-makanan di atas, cara-cara lain juga bisa dilakukan untuk mengurangi level stres yang nantinya bakal menurunkan level kortisol. Misalnya, mendengarkan musik, berolahraga, atau bermeditasi. Cuti dari kerja untuk melakukan aktivitas menyenangkan seperti spa juga disarankan oleh dr. Irina Bancos dari Mayo Clinic.

Maka, bisa ditarik kesimpulan bahwa cortisol cocktail bukanlah tren kesehatan TikTok yang layak untuk diikuti. Sekadar coba-coba, sih, silakan saja. Akan tetapi, perlu diingat bahwa manfaatnya tidak sesuai apa yang dipromosikan dan justru bisa berbahaya bila dikonsumsi berlebihan.

Baca juga artikel terkait TREN TIKTOK atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - GWS
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi