Menuju konten utama

Cerita WNI di Kapal Global Sumud Flotilla: Kerap Dikejar Israel

Terdapat 9 WNI yang ikut dalam pelayaran Global Sumud Fortilla, lima di antaranya dilaporkan diculik pihak militer Israel.

Cerita WNI di Kapal Global Sumud Flotilla: Kerap Dikejar Israel
Kapal-kapal dari "Global Sumud Flotilla 2026 Spring Mission," yang bertujuan menembus blokade Israel di Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan, berangkat dari marina di Augusta di Pulau Sisilia, Italia, pada 26 April 2026. (ANTARA/Barış Seçkin - Anadolu Agency/pri.) (ANTARA/Barış Seçkin - Anadolu Agency/pri.)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perwakilan delegasi Indonesia dalam misi kemanusiaaan Global Sumud Flotilla (GSF), Herman Budiyanto, menceritakan bagaimana kapal relawan yang ditumpanginya saat ini sempat dikejar kapal tentara Israel di perairan Mediterania. Dia berlayar menggunakan Kapal Zapyro bersama satu relawan WNI lainnya.

Katanya, para relawan sudah bersiaga sejak malam hari untuk memantau pergerakan kapal dan drone di sekitar armada kemanusiaan menuju Gaza. Kapal perang Israel kemudian menurunkan sekoci untuk mendekati dan mengejar kapal-kapal relawan.

“Nah kapal-kapal ini menurunkan sekoci-sekoci bergerak mendekati mengejar kapal-kapal kami,” kata Herman saat melakukan video call dalam konferensi pers di Gedung Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan, Senin (18/5/2026).

Herman menambahkan kru kapal yang berpengalaman langsung melakukan manuver penghindaran untuk mengelabui pengejaran.

“Mereka bisa manuver melakukan penghindaran-penghindaran jauh ya dan sudah dari sasar pengejaran IDF (Israel Defense Forces) tadi. Dan tentu ini juga berkat pertolongan Allah, doa dari seluruh warga negara sekalian Indonesia di mana pun berada,” katanya.

Herman menggambarkan kondisi laut saat ini berubah-ubah, dengan ombak yang kadang tenang lalu membesar. Tak terihat kapal IDF dari kapal yang ditumpanginya, terlebih armada relawan sengaja memencar untuk menghindari intersepsi.

“Jadi kalau kami tadi sampaikan arah Gaza adalah lurus, kami menuju ke kanan. Gitu kondisi yang sedang kami alami, dan mudah mudahan kami terus bisa melanjutkan sampai ke Gaza InsyaAllah,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Herman mengaku kesulitan berkomunikasi dengan relawan lain karena kondisi yang kompleks. Adapun armada Global Sumud Flotilla 2.0 berangkat dari Marmaris, Turki, pada Kamis lalu bersama 54 kapal relawan internasional.

Perjalanan sempat tertunda akibat cuaca buruk dan ombak besar, serta adanya kapal lain yang mengalami gangguan. Meski demikian, Herman memastikan para relawan tetap berkomitmen menembus blokade Gaza.

“Kami belum apa-apanya dibandingkan mereka yang selalu sangat luar menderita seperti itu. Ya kami tetap tersenyum di mana pun berada,” katanya.

Relawan lain, Ronggo Wirasanu mengatakan kapal mereka masih terus berlayar meski untuk sementara tidak lagi melihat kapal tentara Israel. Dia juga membenarkan armada mereka sempat dikejar.

“Pantauan sejauh titik ini enggak ada kapal tentara, tapi kami masih terus waspada sampai nanti malam mungkin ya,” katanya.

Sejumlah kapal kemanusiaan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) dilaporkan dicegat oleh militer Israel di perairan laut Kepulauan Siprus, Mediterania Timur. Dari total relawan yang terlibat, terdapat sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang ikut dalam pelayaran tersebut.

Sejumlah kapal telah mengalami putus komunikasi. Hingga pukul 21.00 WIB, 5 delegasi dilaporkan diculik dan 4 lainnya masih berlayar.

“5 Delegasi diculik, 4 masih berlayar,” Koordinator Media Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Harfin Naqsyabandy, Senin (18/5/2026).

Relawan asal Indonesia itu tersebar di lima kapal berbeda yang berangkat dari Marmaris, Turki. GPCI menyatakan telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI serta sejumlah perwakilan diplomatik Indonesia untuk memantau perkembangan para relawan Indonesia.

Berikut daftar 9 WNI yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF):

1. Herman Budianto Sudarsono, Dompet Dhuafa di Kapal Zapyro;

2. Ronggo Wirasanu, Dompet Dhuafa di Kapal Zapyro;

3. ⁠ Andi Angga Prasadewa, Rumah Zakat di Kapal Josef;

4. Asad Aras Muhammad, Spirit of Aqso di Kapal Kasri Sadabad;

5. Hendro Prasetyo, SMART 171 di Kapal Kasri Sadabad;

6. ⁠Bambang Noroyono, Jurnalis REPUBLIKA di Kapal BoraLize;

7. ⁠Thoudy Badai Rifan Billah, Jurnalis REPUBLIKA di Kapal Ozgurluk;

8. ⁠Andre Prasetyo Nugroho, Jurnalis Tempo di Kapal Ozgurluk;

9. Rahendro Herubowo Jurnalis di kapal Ozgurluk.

Baca juga artikel terkait PALESTINA atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Bayu Septianto