tirto.id - Militer Israel mengepung armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang sedang dalam perjalanan ke Gaza. Armada yang terdiri dari 50 kapal lebih dan membawa sekitar 400 aktivis dari berbagai negara ini berangkat dari Italia untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan pada warga Gaza.
Lewat unggahan di akun Instagram @globalsumudflotilla, para aktivis memberikan update mengenai kondisi mereka, termasuk ketika kapal dari IDF bergerak mendekati armada mereka.
“Perahu kami didekati oleh perahu cepat militer, yang menyebut diri mereka sebagai "Israel", mengarahkan laser dan senjata serbu semi-otomatis, memerintahkan para peserta untuk maju ke depan perahu dan berlutut. Komunikasi perahu sedang dihalangi dan sinyal SOS telah dikeluarkan,” tulis mereka.
“Kapal-kapal militer Israel telah secara ilegal mengepung armada di perairan internasional dan mengancam penculikan dan kekerasan,” tutur mereka.
“Komunikasi dengan 11 kapal telah terputus dan media Israel mengklaim bahwa 7 kapal telah dicegat. Pemerintah harus bertindak sekarang untuk melindungi armada, meminta pertanggungjawaban Israel atas pelanggaran hukum internasional yang mencolok ini dan atas genosida yang terus dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina,” lanjutnya.
Israel Kepung Kapal Global Sumud Flotilla yang Bawa Bantuan ke Gaza
Armada bantuan kemanusiaan yang diorganisasi oleh Global Sumud Flotilla berangkat dari Italia pada hari Minggu dengan melibatkan lebih dari 50 kapal dan sekitar 400 aktivis internasional.
Tujuan utama mereka adalah menuju Jalur Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Selama beberapa hari perjalanan di Laut Mediterania, armada bergerak menuju arah timur, mendekati wilayah Yunani, dan masih berada jauh dari perairan Gaza. Dilaporkan berjarak ratusan hingga sekitar 600 mil laut dari wilayah tersebut.
Memasuki Rabu (29/4) malam hingga Kamis (30/4), situasi berubah ketika kapal-kapal militer Israel mulai mendekati armada tersebut di perairan internasional, dekat wilayah Yunani.
Menurut kesaksian aktivis di kapal, drone mulai mengawasi dari udara, sedangkan komunikasi radio mereka mengalami gangguan, termasuk pemutaran suara atau musik yang mengacaukan saluran komunikasi.
Tak lama kemudian, kapal cepat militer dikerahkan dari kapal perang yang lebih besar untuk mengepung armada. Pasukan Israel yang mendekat disebut mengidentifikasi diri mereka dan memberikan peringatan melalui radio bahwa armada dianggap melanggar hukum internasional serta harus berhenti.
Kapal-kapal flotilla didekati secara agresif, dengan penggunaan laser dan senjata semi-otomatis yang diarahkan ke para peserta sipil. Aktivis diinstruksikan untuk berkumpul di bagian depan kapal dan berlutut, sedangkan beberapa kapal dilaporkan kehilangan kontak sepenuhnya.
Media Israel kemudian menyebutkan bahwa setidaknya tujuh kapal berhasil dikuasai, dan para penumpangnya dinyatakan berada dalam status penahanan. Operasi ini berlangsung selama beberapa jam.
Israel Tuding Kapal Global Sumud Flotilla Terkait Terorisme
Menteri Pertahanan Israel Katz, seperti diberitakan The Jerusalem Post (30/4/2026), menyebut bahwa tindakan pengepungan oleh militer Israel tersebut memiliki dasar hukum dalam undang-undang kontra-terorisme di negaranya.
Ia menegaskan bahwa hukum tersebut memberikan kewenangan kepada negara untuk menyita kapal atau properti yang diduga digunakan dalam aktivitas yang berkaitan dengan terorisme.
Dalam konteks ini, Katz juga mengklaim bahwa misi Global Sumud Flotilla melanggar ketentuan internasional, termasuk apa yang ia sebut sebagai resolusi PBB yang mengharuskan bantuan ke Gaza disalurkan melalui jalur resmi yang telah disepakati.
Di sisi lain, pemerintah Israel melalui Kementerian Luar Negeri memberikan framing politik terhadap insiden ini. Mereka menuduh bahwa flotilla tersebut bukan murni misi kemanusiaan, melainkan bagian dari provokasi yang didorong oleh Hamas dengan tujuan mengganggu rencana perdamaian Gaza.
Lebih dari 50 kapal yang membawa aktivis dari berbagai negara berlayar dari Italia pada hari Minggu menuju Jalur Gaza.
Mereka menyebut armada ini sebagai bantuan kemanusiaan terbesar yang mencoba mencapai wilayah Palestina, tempat Israel membunuh 72.599 orang dan melukai 172.411 lainnya.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































