tirto.id - Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengomentari kebijakan tarif impor gagasan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Sejumlah kemungkinan dapat terjadi imbas kebijakan tersebut.
Menurut Nailul, kebijakan tarif Trump dapat berdampak kepada produksi dalam negeri. Pasalnya, usai tarif impor naik, permintaan barang dari AS menurun. Produksi dalam negeri lantas berkurang.
"Karena permintaan barang dari masyarakat Amerika di sana itu turun. Nah, ketika turun kemudian ini akan ber-impact kepada produksi dalam negeri kita. Produksi dalam negeri kita mengalami penurunan otomatis perusahaan akan melakukan efisiensi [karyawan]. Makanya, efeknya itu berantai nih," ucapnya dalam podcast For Your Politic.
Nailul menyebutkan, untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah RI harus bisa bernegosiasi dengan Pemerintah AS. Mengingat, jumlah karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai Januari-Februari 2025 sudah lebih tinggi daripada jumlah karyawan ter-PHK pada Januari-Februari 2024.
"Makanya ini yang selalu saya sampaikan, ini tidak boleh dipandang sebelah mata untuk tarif ini. Jika pemerintah gagal bernegosiasi, ini yang akan menanggungnya bukan pemerintah, tapi yang akan menanggung adalah masyarakat," tutur dia.
Di satu sisi, Nailul menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sulit mencapai 5 persen. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,3 persen-4,5 persen imbas kebijakan tarif Trump.
"Kalau kita lihat dari sisi pertumbuhan ekonomi, itu akan mencapai maksimal di angka 4,5 persen. Kita prediksi di angka 4,3 persen. Maksimal di 4,5 persen dari adanya tarif resiprokal," katanya.
Berikut merupakan perbincangan tim Tirto dengan Nailul dalam podcast For Your Politic:
Soal kebijakan tarif impor dari Trump, ini seberpengaruh apa sebenarnya untuk Indonesia?
Ya, yang pasti kita melihat motif dulu ya. Motif dari Trump ini kan kalau kita lihat pidatonya Trump, ini dia selalu menyebutkan kata sekuriti. Kata sekuriti yang dikampanyenya pun bilang, make America great again. Yang artinya pun adalah kurang lebih, Trump ini ingin melindungi industri dalam negeri mereka. Jadi, Trump ingin Amerika ini, banyak perusahaan Amerika yang dia sebenarnya melancong dalam tanda kutip gitu ya ke beberapa negara.
Makanya Trump menerapkan tarif resiprokal yang memang besarnya sangat beragam. Termasuk ke Indonesia sekitar 32 persen tarif resiprokalnya. Artinya tambahannya memang cukup-cukup tinggi. Bagaimana sih dampaknya gitu kan? Amerika ke Indonesia itu sedikit kok, tapi jangan lupa Indonesia ke Amerika itu besar. Jadi kalau kita lihat Amerika itu adalah negara tujuan ekspor kita nomor dua setelah Cina.
Terus kemudian kalau kita lihat dari data, ternyata 46 persen untuk surplus dagang kita secara global itu disumbang oleh surplus dagang kita ke Amerika. Artinya adalah Amerika ini menjadi salah satu partner dagang utama kita. Meskipun mungkin Amerika enggak menganggap kita, tapi kita menganggap Amerika ini menjadi salah satu partner dagang.
Kemudian apa sih dampaknya? Dampak dari tarif resiprokal ini adalah tentu kalau kita lihat dari sisi masyarakat Amerika itu membayar lebih mahal barang-barang yang diimpor oleh mereka sebenarnya. Misalkan angka barang-barang X misalkan di Amerika harganya Rp10 ribu. Ketika ada tarif resiprokal ini mereka akan menaikkan harganya. Harganya pasti akan naik entah Rp13.500 sampai Rp16.000. Ketika harga barang ini naik otomatis akan menyebabkan permintaan turun dong.
Hal ini bisa menyebabkan ekonomi kita melemah ya?
Iya ekonomi melemah karena permintaan barang dari masyarakat Amerika di sana itu turun. Ketika turun kemudian ini akan ber-impact kepada produksi dalam negeri kita. Produksi dalam negeri kita mengalami penurunan otomatis perusahaan akan melakukan efisiensi. Makanya efeknya itu berantai nih. Tidak efeknya kecil kok bagi kita dan sebagainya. Ini sebenarnya efeknya sangat berantai dan bisa mengakibatkan kenaikan dari PHK.
Jadi mungkin kalau misalkan di Indonesia besarnya 32% untuk tarif resiprokal tadi kan. Kalau untuk di negara-negara lain berarti yang paling besar itu di negara mana?
Kalau sekarang Cina. Cina itu karena mereka saling membalas-membalas. Mereka balas-membalas tarif. Mereka menetapkan 34 persen barang ke Cina tapi Cina membalas dengan hal yang serupa gitu kan. Terus kemudian balas-membalas sampai sekarang tarifnya 100 persen lebih gitu kan. Artinya masyarakat di Amerika sana ketika ingin membeli produk dari Apple misalkan harganya Rp10 ribu. Sekarang harganya Rp20 ribu. Meningkat dua kali lipat karena ada tarif resiprokal itu. Ini yang kita lihat, saling membalas ini kan akan berakibat kepada permintaan barang-barang dari Cina pun akan turun.
Ini yang menjadi masalah ketika Cina ini dia mengalami penurunan permintaan barang ke US, akan berakibat kepada barang-barang yang diminta Cina dari negara lain juga akan berkurang. Nah ini disebut multiplayer effect atau dampak tidak langsungnya. Dampak tidak langsung dari tarif Cina ke Amerika.
Perang tarif antara Cina dan Amerika ini menyebabkan tadi, misalkan Cina membutuhkan CPO dari kita. Nah ini akan turun nih akan turun seiring dengan penurunan produk-produk yang dihasilkan CPO ini dari Cina ke Amerika. Makanya efek berantai ini yang bisa saya bilang, efek yang dapat dikenakan ataupun dampak yang dirasakan sama masyarakat, itu sampai ke masyarakat Indonesia pun ini akan merasakan dampak langsungnya maupun tidak langsungnya dari tarif impor resiprokal ini.
Kalau efek jangka panjangnya mungkin bisa sampai berapa tahun untuk kondisi seperti ini?
Iya tentu kalau misalkan kita tidak pandai untuk membuka pasar baru, ini akan berakhir lama dan efeknya akan semakin besar. Misalkan gini kalau kita tidak mencari pasar baru untuk tekstil. Tekstil kita kan 50 persen lebih itu di ekspornya ke US. Artinya ketika kita ada gangguan dari sisi impor, tarif impornya ke US ini tentu ini akan mengikibatkan produksi TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) ini akan melemah. Baju misalkan, aparel ya. Aparel, sepatu, alas kaki itu masih akan melemah.
Dan dampaknya apa? Dampaknya adalah produksi akan turun kemudian ini akan berakibat kepada permintaan domestik ataupun produksi domestik ini juga akan mengalami penurunan secara agregat. Ketika penurunan secara agregat artinya ini akan melemahkan perekonomian. Pertumbuhan ekonomi akan melambat, akan jadi PHK. Sekarang sudah susah mencari kerja, itu ditambah lagi PHK yang jumlahnya kita prediksi bisa mencapai 1,2 juta untuk korban potensi PHK akibat tarif resiprokal Trump ini. Di TPT sendiri itu kita prediksi bisa mencapai 191 ribu tenaga kerja yang berpotensi ter-PHK. Bayangkan kita sudah susah mencari kerja, ditambah lagi PHK yang masal ini yang ada di depan mata kita.
Sektor usaha apa yang paling terpengaruh kalau di Indonesia?
Ya, TPT. Dari garment, kemudian ada dari alas kaki. Alas kaki itu sangat bermanfaat sekali. Karena kalau kita lihat, contohnya saja di Tangerang atau di Tangerang Selatan itu ada pabrik garment yang dia memiliki karyawan sekitar 400 karyawan. Kemudian mereka ketika libur lebaran kemarin itu ternyata sudah dikunci dari dalam. Artinya sudah tidak ada lagi kegiatan ataupun aktivitas produksi di pabrik itu. Ini akibat apa? Akibatnya tadi turunnya permintaan, kemudian ini akan berakibat juga kepada, ya tadi waktu usaha yang dia mengalami penurunan permintaan, kemudian dari dalam negeri juga masih kurang oke nih daya belinya. Ini yang ditambah lagi, kalau kita mau ekspor ke Amerika tarifnya lebih mahal.
Makanya ini yang kalau boleh saya bilang dalam jangka waktu setelah diterapkan, itu 3 bulan-1 tahun, ini akan berkibat pemutusan hubungan kerja yang sangat masif, ini yang berbahaya. Tekstil ini menjadi salah satu yang kita prediksi cukup tinggi. Kalau hitungannya dari Partai Buruh kemarin menyampaikan sekitar 50 ribu [orang]. Nah kalau dari kita, itu untuk yang tekstil saja itu 191 ribu [orang]. Kalau untuk yang elektronik itu sekitar 40 ribu atau 20 ribu [orang]. Kemudian ini jika ditotalkan 1,2 juta pekerjaan, itu akan hilang akibat adanya tarif impor dari Trump ini. Makanya ini efeknya sangat besar sekali. Makanya ini yang selalu saya sampaikan, ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Jika pemerintah gagal bernegosiasi, ini yang akan menanggungnya bukan pemerintah, tapi yang akan menanggung adalah masyarakat.
Kemudian kalau misalnya situasi seperti ini, Indonesia ini harus condong ke mana?
Ya tentu kalau perang tarif pun kita juga tidak mempunyai kekuatan apapun. Cina mereka ketika perang tarif, mereka pasti akan bilang, ya saya produksi barang Anda, jangan lupa. Makanya kemarin mereka berani untuk men-spill harga-harga dari tas branded dan sebagainya. Mereka spill tuh ternyata dari 12 ribu USD, ternyata untuk bahan baku dan sebagainya cuma 3 ribu (USD). Makanya mereka berani spill itu, karena mereka tahu kekuatan mereka seperti apa. Sedangkan di Indonesia ini kan, kalau boleh saya sampaikan, ketika Trump memberikan tarif, kita kan langsung bisa bilang, ya kita akan coba untuk pernegosiasi.
Nah, langkah negosiasi inilah yang memang jadi catatan saya, bahwa negosiasi ini harusnya disiapkan peluru. Peluru ini apa sih? Peluru ini yang dia bisa dijadikan sebagai alat negosiasi dengan Trump. Misalkan seperti ini, kita ini kan punya peluru tajam di CPO. Kita CPO itu, kita sama Malaysia sebagai produsen CPO terbesar. Kita sama Malaysia, kita bisa mengaruhi harga sebenarnya. Kita punya peluru bagus di CPO, sedangkan permintaan mereka ke CPO itu juga tinggi. Selain mereka punya soybean, tapi mereka tetap impor CPO. Ini yang kita lihat sebenarnya, kita ada nih peluru dari CPO. Jangan sampai sebenarnya peluru-peluru ini tumpul.
Apa sih yang mau dinegosiasikan? Makanya kemarin kan cukup banyak dokumen yang dia menyebutkan bahwa Indonesia ini masih menerapkan TKDN, misalkan atau kuota impor gitu kan atau yang paling terbaru QRIS sama GPN. Itu juga dipermasalahkan sama pihak US gitu kan. Peluru-peluru ini kan sebenarnya kan tidak tajam gitu kan. Kalau kita misalkan kita bernegosiasi tentang TKDN gitu kan.
TKDN terbukti dilindungi industri dalam negeri ini. Ini yang harus dilihat. Ini ternyata dalam negeri bermanfaat. Kemudian QRIS juga dipermasalahkan. Yang akhirnya menimbulkan banyak pertanyaan. Dan saya rasa QRIS ini juga akal-akalan dari pihak Amerika untuk memasukkan dua lembaga keuangan multinasional mereka gitu kan. Untuk bisa masuk dalam pemain yang cukup besar untuk sistem pembayaran nasional. Makanya ini kalau saya bilang harus ada yang dinamakan kepentingan nasional di atas kepentingan untuk perdagangan internasional. Makanya ini yang peluru ini harus disiapkan untuk negosiasi.
Menanggapi situasi sekarang ini, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah?
Iya kalau harga itu kan terkait dengan impor ya biasanya. Jadi kalau misalkan kita kemarin juga dampaknya ke rupiah juga sangat-sangat tinggi gitu kan. Ada capital outflow yang cukup besar. Yang pada akhirnya ini akan menyebabkan ada import rate inflation atau inflasi yang ditimbulkan oleh barang-barang impor. Misalkan kemarin yang cukup rame adalah kedelai. Kedelai kita kan masih impor dari US gitu kan. Ini harganya naik nih. Ini akan merugikan dari pengusaha tempe tahu gitu kan. Tentu ini akan menimbulkan harga barang untuk tempe sama tahu, itu either dia akan naik harganya atau berkurang secara dimensi gitu.
Ini yang kita takutkan bahwa ketika tidak disikapi dengan baik gitu kan. Ini akan menimbulkan import rate inflation, inflasi-inflasi yang ditimbulkan oleh barang-barang impor atau barang-barang baku dari impor yang ini akan lagi-lagi akan merugikannya masyarakat gitu kan. Masyarakat akan dirugikan dengan kenaikan harga ataupun pengurangan volume barang tersebut gitu. Kita kan dulu kan misalkan tempe ini dulu persegi panjang gitu kan. Terus jadi persegi, jajar genjang gitu kan. Lama-lama jadi bulat gitu kan. Ini yang ditimbulkan dari adanya import rate inflation biasanya seperti itu.
Jadi ini yang kita lihat sebagai dampak-dampak yang pada akhirnya kita menuntut pemerintah gitu kan. Menuntut pemerintah untuk proaktif. Proaktif dalam hal negosiasi. Nah yang kita tawarkan, kita juga sudah sering bicarakan di berbagai media dan konten-konten ya. Ini yang kita tawarkan, yang kita sampaikan adalah membangun koalisi. Membangun koalisi ini kan kita sudah membangun komunikasi dengan Malaysia. Berapa waktunya lalu setelah Trump ini mengumumkan tarif resiprokalnya, Prabowo itu bertolak ke Malaysia untuk bertemu dengan Anwar Ibrahim. Ini sesuatu yang menurut saya langkah yang positif untuk membangun koalisi.
Dan kemarin juga kalau kita lihat Cina ini juga sudah mulai kasak-kusuk untuk membangun koalisi sebetulnya. Mereka bertolak ke Malaysia. Terus kemudian mereka sampaikan bahwa akan melakukan tarif yang serupa bagi negara yang memang dia bernegosiasi dengan AS gitu. Artinya Cina ini juga membangun koalisi untuk menantang kebijakan AS. Bayangkan bagaimana Trump itu menerapkan tarif 32 persen ke produk Indonesia. Itu hanya karena kita untuk defisit perdagangan AS dengan Indonesia itu sekitar 64 persen.
Artinya ekspor AS ke kita itu hanya sekitar 36 persen dibandingkan dengan impor mereka dari Indonesia. Jadi 64 persen terus didiskon sama dia jadi 32 persen. Makanya ini kalau bisa saya bilang koalisi itu menjadi salah satu cara bagi pemerintah untuk bisa melawan kebijakan Trump ini karena kebijakan Trump ini sudah tidak ada landasan ilmu ekonominya. Yang pada akhirnya karena kebijakan satu negara saja bisa memporak-porandakan tatanan dunia yang sudah terbangun.
Melihat kerja sama Indonesia, AS, kemudian Cina itu kan sudah terjalin begitu lama. Dengan adanya kebijakan tarif ini memengaruhi sektor apa lagi selain perdagangan global?
Ya tentu dari sisi investasi ya. Menariknya gini, dari sisi investasi ini akan juga akan terpengaruh gitu kan. Misalkan seperti ini, salah satunya investasi dari perusahaan yang mungkin melihat dari Cina sudah tarifnya 100 persen lebih nih. Mereka akan memikirkan dua hal, pulang ke Amerika atau pindah ke negara dengan tarif yang lebih rendah. Kalau mereka pulang ke Amerika, pengangguran cukup tinggi. Terus kemudian kalau boleh saya katakan apakah dari sisi tenaga kerjanya siap atau enggak gitu kan. Ini sangat-sangat jauh sekali sebenarnya. Ini kan Trump ini kan dia berusaha untuk membangun ya tadi pemikiran bahwa Amerika itu besar.
Amerika itu siap menampung industri-industri itu untuk balik lagi ke Amerika. You balik lagi dong dari Kanada gitu kan. You balik lagi dong dari Meksiko, dari Cina gitu kan, bangun di Amerika. Padahal enggak segampang itu untuk membangun industri dalam negeri. Ada masalah mengenai biaya tenaga kerja. Biaya tenaga kerja di Amerika itu cukup tinggi gitu kan.
Kemudian kesiapan dari inovasinya dan sebagainya lah. Itu masih banyak banget kendala yang menurut saya akhirnya ya opsi kembali ke Amerika ini menjadi salah satu opsi yang terakhir gitu kan. Opsi yang kedua adalah investasi yang mereka pindahkan ke negara-negara berkembang. Ini terjadi ketika perang tarif jilid pertama sebenarnya.
Ada beberapa yang dari Cina, perusahaan Amerika di Cina itu dia merelokasi. Nah relokasinya ke mana nih? Apesnya adalah Indonesia ini tidak menerima investasi lungsuran dari Cina gitu kan. Mereka perusahaan dari Amerika ini lebih banyak memilih Vietnam. Vietnam, Thailand. Terus kemudian dari Malaysia di situ. Ya sedikit lah ke Indonesia gitu kan. Nah ini investasi ini akan berubah nih, untuk ya bisa kita bilang tantanannya lah, tatanan investasi global ini bisa berubah.
Investasi ini akan berdasarkan bukan hanya mereka melihat dari sisi tenaga kerja, SDM-nya dan sebagainya. Tapi dari sisi tarif yang ditetapkan oleh Amerika. Mereka melihat, oh mana nih yang tarifnya terendah nih? Oh ternyata negara A gitu misalkan. Nah ini akan dijajaki untuk bisa masuk ke sana. Vietnam itu dia ketika diberikan tarif sekitar 46 persen, presidennya langsung telepon Trump. Langsung telepon Trump, ngajak makan malam, dan sebagainya, dan memberikan tarif 0 persen terhadap produk-produk Amerika yang akan diekspor ke Vietnam.
Ini dilakukan enggak sama Indonesia?
Enggak, enggak. Tapi ini sangat make sense bagi Vietnam karena 40 persen lebih ekspor Vietnam itu ke Amerika. Banyak perusahaan-perusahaan Amerika yang dia mendirikan pabriknya di Vietnam kemudian dikirim lagi ke Amerika. Makanya kalau bisa saya bilang ketika Vietnam ini diberikan tarif yang begitu besar, temboknya akan sangat besar sekali terhadap perekonomian nasional mereka. Mereka kan baru tumbuh sekitar tujuh persen kan.
Tarif ini akan pasti akan mengacaukan sistem perekonomian di sana. Karena tadi barang-barang mereka sangat tergantung ke US, sedangkan untuk pasar domestik mereka juga cukup sempit, tidak sebesar Indonesia. Mereka mengendalikan ekspor ke US ketika ekspor US ini dihambat dengan tarif, mereka pasti akan memikirkan bagaimana nasib manufaktur di dalam negeri mereka. Makanya Vietnam ini menjadi salah satu negara yang tercepat gitu kan untuk merespons tarif Trump. Mereka menawarkan tarif 0 persen terhadap barang-barang Amerika gitu kan sehingga perdagangan Amerika dengan Vietnam itu bisa kecil gap-nya.
Ini lah yang saya lihat ketika Indonesia mau bernegosiasi, tentu kita tidak akan separah Vietnam. Saya rasa Indonesia juga sudah tepat lah tidak bergerak seperti Vietnam yang dia langsung, kalau bahasanya Trump itu kan menjilat dan sebagainya. Memohon Trump itu untuk menurunkan tarifnya gitu kan. Nah, Indonesia tidak harus sampai seperti itu. Meskipun cukup tinggi dampaknya ke nasional kita, tapi jangan sampai kita menggadaikan tadi kepentingan-kepentingan nasional di atas kepentingan perdagangan internasional.
Apakah ada indikasi minat investor turun di pasar Indonesia dengan adanya kebijakan ini?
Ya, salah satunya kemarin yang LG itu kan, yang konsorsium yang dia ingin membangun pabrik EV di Indonesia. Karena ada satu hal, saya rasa juga ini sangat terkait dengan tatanan pasar untuk pasar EV global yang memang kalau kita lihat ketika pasar Cina ini sangat terganggu dengan tarifnya. Kan Cina ini kan sebagai importer untuk konsumen terbesar untuk EV-nya. Untuk pabrik baterainya. Ya kan baterai dari EV ini kan terbesar kan ke Cina kan. Ada banyak sekali mobil listrik di Cina. Pabriknya banyak sekali.
Ketika mereka tidak bisa ataupun ekspor mereka ke US itu berkurang, otomatis permintaan untuk baterainya juga akan berkurang. Makanya, konsorsium ini melihat ini sudah tidak prospektif lagi nih untuk membangun pabrik baterai EV di Indonesia. Meskipun kita punya nikel dan sebagainya, tapi mereka menganggap ini tidak potensial lagi ke depan. Makanya ini yang kita lihat dari situ juga terkadang kan bahwa dampaknya bisa mengurungkan niat investor untuk berinvestasi di dalam negeri. Ya kan? Nah ini tentu kerugiannya adalah tidak jadi membuka lapangan kerja dan sebagainya. Terus kemudian hilirisasi kita masih ompong. Pada akhirnya ini akan merupakan ekonomi secara nasional.
Apakah Indonesia pernah mengalami kondisi seperti saat ini juga?
Iya. Kalau perang tarif ini kan sebenarnya kan terjadi pas jilid pertama Trump. Ada jilid pertama Trump itu, tapi jilid pertama Trump itu hanya fokusnya ke Cina. Memang kita juga akan mengalami penurunan biasanya. Saya rasa pada saat itu pertumbuhan ekonomi kita melambat, tapi setelah berlangsung, jadi Covid. Makanya ini kan agak bias kan. Pertumbuhan ekonomi pada saat itu agak bias apakah dikarenakan kebijakan luar negeri Trump atau karena Covid.
Nah, ini yang kita lihat seharusnya memang kondisi tarif ini harus bisa dibilang minimalisir dampaknya gitu kan. Dengan apa? Dengan dinegosiasi, dengan koalisi dan sebagainya, juga penguatan pasar dalam negeri kita larena dalam negeri kita ini menjadi kekuatan pertama nih. 50 persen PDB kita diambil dari konsumsi rumah tangga. Artinya ketika konsumsi rumah tangga kita kuat, otomatis gangguan dari sisi eksternal ini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap perekonomian kita.
Kebijakan ini berpotensi menyebabkan resesi dengan peluang 60 persen. Apakah kita sudah siap menghadapi dampaknya?
Ya, sebenarnya kan resesi ini kan ditimbulkan dari peluang resesi di US kan. Tadi kan saya sampaikan kan tarif resiprokal ternyata akan meningkatkan harga-harga yang ada di Amerika. Nah ketika harga itu naik, otomatis inflasi akan tinggi. Inflasi yang akan tinggi akan menggoyangkan daya beli masyarakat Amerika sana. Makanya, beberapa lembaga internasional memprediksi resesi di Amerika akan terjadi lebih cepat. Ketika resesi di Amerika akan terjadi lebih cepat, ini akan mempengaruhi dari pertumbuhan ekonomi secara global, permintaan barang. Ini kan Amerika ini kan juga menjadi salah satu pengembang PDB besar juga. Ketika ini akan terganggu ekonominya, ekonomi global akan terganggu, permintaan ekspor-impor barang ke Amerika dan dari Amerika itu juga akan terganggu.
Ketika Amerika terganggu, istilahnya kalau dulu kita jokes-nya gitu ya, Amerika sama Cina flu saja, itu bisa menyebabkan geger satu dunia gitu kan. Jadi ini sudah Indonesia akan mengalami penurunan permintaan dan sebagainya yang ini akan bisa berakibat kepada produksi domestik kita. Nah makanya ini harus ditanggulangi dengan cara apa. Ketika ekspor kita terganggu, otomatis dalam negeri kita harus diperkuat.
Dengan cara apa? Dengan cara menjaga daya beli. Daya beli kita ditingkatkan. Kemudian ya tadi kita tidak boleh lagi nih, ya bisa kita bilang menganggap remeh daya beli yang melemah gitu kan. Kita harus tingkatkan tuh dengan cara apa? Dengan cara memberikan bansos untuk masyarakat miskin sebagainya, meningkatkan gaji pegawai dengan layak gitu kan. Itu kan salah satu cara untuk meningkatkan daya beli gitu kan. Sama seperti yang di Tirto, gaji pegawai sejahtera dan sebagainya, konsumsi baik, dan sebagainya. Ini akan meningkatkan ekonomi di sekitar sini.
Bisa jadi industri di Indonesia semakin melemah, kira-kira apa sih yang harus dilakukan pemerintah untuk menghadapi situasi seperti ini?
Yang pertama kuota impor ya. Kuota impor itu memang menjadi salah satu ajang untuk membagi-bagi cuan untuk importasi barang sebenarnya. Kuota impor itu sangat setuju untuk dievaluasi apakah ditetapkan kuota atau bahkan tarif atau non-measurement lainnya. Nah ini harus dievaluasi memang. Nah yang kedua soal TKDN, TKDN seperti ini. Banyak sekali masyarakat yang mendukung penghapusan TKDN. Karena apa? Karena mereka bisa mendapatkan barang lebih murah dari luar. Karena apa? Karena ya tadi untuk kita mendapatkan barang-barang dari luar itu akan lebih mudah. Tidak perlu TKDN lagi. Misalkan kemarin kasusnya produk Apple.
Produk Apple mengapa iPhone 16 itu terlambat masuk ke Indonesia? Salah satunya karena aturan TKDN. Aturan TKDN yang dia naik dari 30 persen ke 40 persen. Dan Apple sendiri belum memenuhi untuk investasi yang dijanjikan. Makanya TKDN mereka itu di bawah 40 persen. Nah ini banyak sekali yang mendukung ya ini enggak apa-apa nanti arus teknologi masuk ke sini dan sebagainya. Itu banyak sekali yang mengatakan hal tersebut. Tapi mereka lupa bahwa kebijakan TKDN inilah yang memang memberikan dampak positif terhadap ekonomi kita dalam hal pembuatan pabrik manufaktur dalam negeri.
Pesaing untuk di-mobile phone, untuk pesaing Apple, itu sudah mempunyai pabrik perakitan dalam negeri, assembly ataupun produksi dalam negeri ya. Kita ada Samsung, Huawei dan sebagainya. Kalau mobil itu Hyundai itu sudah masuk ke dalam negeri. Ini yang merupakan dampak positif dari TKDN. Mereka dipaksa untuk membuat manufaktur dalam negeri agar mereka bisa berjualan di pasar kita yang jumlahnya 270 juta jiwa. Nah tentu ini sesuatu yang harus dilihat positifnya juga. Bahwa TKDN ini bukan hanya merugikan, tapi ini sudah membuka ribuan lapangan kerja bagi masyarakat kita. Nah makanya ketika TKDN ini direlaksasi, kita sampaikan bahwa relaksasi seperti apa, apa yang mau direlaksasi. Kalau misalkan TKDN itu hanya untuk barang-barang yang belum bisa diproduksi dalam negeri, itu oke. Apakah mau diturunkan dari 40 persen ke 20 persen dan sebagainya. Atau untuk barang-barang tertentu memang TKDN ini dihapuskan.
Kita melihat untuk barang-barang yang memang sudah bisa diproduksi dalam negeri itu maju pada TKDN. Misalkan untuk yang handphone. Kita itu sebenarnya kemarin sangat menunggu sekali bahwa pihak Apple itu membangun pabrik di Indonesia. Tidak usah pabrik iPhone, tapi pabrik untuk yang dia airtech ataupun yang lainnya yang dia sifatnya kecil lah. Pabrik kecil yang memang dia hanya mendukung supply chain dari produk Apple itu. Tidak langsung kita menuntut bangun pabrik handphone di Indonesia itu nggak seperti itu. Nah ini aja mereka bernegosiasi. Mereka berkeberatan dengan hal tersebut. Nah ketika TKDN direlaksasi, ini tentu akan mengakibatkan sakit hati untuk pesaingnya. Katakanlah Samsung, Huawei, yang sudah berinvestasi jutaan dolar ke Indonesia. Tiba-tiba barang dari luar TKDN-nya enggak sampai 40 persen dijual bebas dengan tidak ada tekanan dari pemerintah.
Tentu ini akan membuat investor berpikir ulang. Ngapain saya capek-capek bangun pabrik di dalam negeri? Toh juga impor aja bisa. Makanya ketika berbicara soal TKDN, ini berbicara mengenai dampak positif dari TKDN. Kita tidak berbicara dampak negatifnya yang membuat ini susah untuk mendapatkan Iphone 16 dan sebagainya. Anda nggak masalah. Anda bisa cari di luar negeri. Tapi yang jelas itu harus memenuhi aturan dalam negeri kita soal TKDN. Saya sih beranggapan bahwa kita tidak boleh menjadi negara pedagang. Kita jadi negara produsen. Makanya TKDN-nya diperlukan. Kalau TKDN-nya direlaksasi, bahkan dihapuskan, kita lama-lama akan menjadi negara pedagang. Ini yang tidak kita inginkan sebenarnya.
Kemudian apa yang seharusnya kita lakukan di tengah ekonomi yang tidak menentu?
Tentu seperti ini. Kita harus melihat satu per satu barang. Barangnya ternyata bisa di dalam negeri. Sudah ada keputusan yang di dalam negeri yang memang sudah komitmen untuk berinvestasi, ataupun sudah berinvestasi bahkan. Ini tentu kita harus bisa TKDN diperlukan untuk melindungi manusia atau melindungi produsen tersebut. Meskipun kita tahu produsen itu juga dari luar. Tapi yang jelas ini akan memberikan keadilan, kebijakan yang adil bagi semua pihak. Yang pertama seperti itu. Yang kedua adalah mengenai TKDN ini ketika TKDN untuk barang bahan baku yang tidak kita bisa produksi mungkin oke diberikan relaksasi.
Misalkan, kita tidak bisa memproduksi untuk layar retina, misalkan. Itu mungkin bisa kita relaksasi dengan TKDN-nya itu bahwa ini enggak apa-apa 100 persen. Tapi yang jelas ini ada pabrik di sini yang ketika kamu harus menjual barang itu harus membangun pabrik misalkan pabrik kamera misalkan di sini itu enggak ada masalah. Makanya relaksasi TKDN itu harus disesuaikan dengan barangnya seperti apa. Nah ini yang kita lihat harusnya berpijaknya ke situ. Bukan langsung mengatur TKDN akan dipermudah. TKDN akan direlaksasi untuk semua barang, yang pada akhirnya ini akan menyebabkan ya tadi kedaulatan dari industri kita terganggu.

Celios mengikuti soal relaksasi TKDN ini, kemudian juga soal penghapusan kuota impor. Untuk teman-teman buruh mungkin ini sangat akan terdampak gitu ya?
Iya, iya pastilah. Kalau misalkan relaksasi TKDN itu dilakukan dengan cara yang serampangan. Nah, kemudian ada banyak pabrik yang pada akhirnya berpikir bahwa ngapain saya susah-susah untuk bangun pabrik di sini? Toh kita jadi importir juga bisa untuk barang tertentu. Nah ini yang akan menyebabkan tenaga kerja kita yang tadinya bisa menyerap seribu tenaga kerja akan enggak jadi terserap. Tentu ini akan memerlukan dari sisi tenaga kerja kita yang sampai saat ini masih banyak yang belum mendapatkan pekerjaan. Bahkan kalau kita lihat beberapa laporan dari media kan banyak sekali lulusan S1, lulusan diploma dan sebagainya yang akhirnya bekerja sebagai informal.
Kita tidak menjelekkan sektor informal tapi yang jelas mereka dengan kemampuan yang sebenarnya dia miliki itu bisa bekerja di sektor formal yang memberikan pendapatan yang lebih baik, memberikan perlindungan sosial yang lebih baik, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan dari pekerjanya. Di mana pekerja informal kita masih jauh dari ke atas sejahtera. Makanya ini yang saya sampaikan kalau ketika direlaksasi tentu akibatnya akan bertampak kepada sektor-sektor lainnya. Sektor industri kita semakin terpuruk, tenaga kerja kita tidak terserap, yang pada akhirnya kita akan jadi negara pedagang bukan negara produsen. Ini yang kita takutkan sebenarnya.
Melihat situasi Indonesia sekarang apakah sebegitu mengkhawatirkannya di kacamata Mas Nailul?
Iya, ini pertanyaannya Indonesia gelap atau enggak? Iya. Yang pasti seperti ini. Dari data yang kita lihat, memang kita sudah menuju kondisi yang mengkhawatirkan. Indonesia sudah gelap, dalam kata kutip ya. Bahwa kita dihadapkan pada satu kondisi domestik kita yang tidak baik-baik saja. Kita kemarin lihat dari peredaran uang yang dicatat oleh BI ketika Ramadhan, Lebaran, jumlahnya menurun dibandingkan dengan tahun lalu. Kita tahun lalu itu capai Rp191 triliun, kita hanya tahun ini capai Rp137 triliun. Kita juga hitung untuk pertumbuhan konsumsi ketika Ramadhan, Lebaran, itu cenderung menurun. Artinya Ramadhan dan Lebaran tidak bisa menjadi sok yang ampuh terhadap pertumbuhan ekonomi.
Kemudian kita juga melihat dari sisi PHK per Februari itu sudah mencapai 18 ribu orang. Di Februari 2025 itu mencapai 18.610 PHK, kasus PHK. Itu yang tercatat di data Kemenaker. Data yang lainnya itu menyebutkan sudah 40 ribu, 50 ribu dan sebagainya. Nah, dibandingkan dengan Februari tahun 2024, itu sekitar 24 persen. Artinya PHK yang terjadi di Februari saja itu sudah meningkat sekitar 24 persen. Maaf, 141 persen. 141 persen, artinya dibandingkan dengan Februari tahun 2024, PHK tahun 2025 ini di Februari sudah meningkat sampai 141 persen. Artinya sudah dua setengah kali lipat ya dibandingkan dengan tahun lalu.
Dan kalau kita lihat dari tahun 2024, jumlah PHK-nya itu mencapai 78 ribu. Ini meningkat dari tahun 2023 yang sekitar 65 ribu. Artinya ini kenaikan yang cukup-cukup signifikan. Dan di tahun 2025, kita prediksi akan lebih banyak lagi. Dan ini akan menyebabkan untuk konsumsi rumah tangga kita ini bisa melambat. Yang terjadi adalah permintaan agregat itu akan melemah. Permintaan agregat akan melemah, ini akan berkibat kepada pertumbuhan ekonomi yang memang tidak akan mencapai target yang ditetapkan oleh pemerintah. Dan ini yang mengakibatkan, ya tadi daya beli kita melemah.
Mereka (masyarakat) cenderung akan menahan dulu lah, saya akan menahan dulu lah. Saya tidak tahu ke depan akan terkena PHK atau tidak. Padahal tahun 2025, kenaikan gaji itu sekitar 6,5 persen. Artinya ini anomali. Nah, anomali ini lah yang kita rekam dan kita tangkap sebagai salah satu fenomena yang mengakibatkan Indonesia kita dalam keadaan tidak baik-baik saja. IPR kita, Indeks Penjualan Real atau Indeks Penjualan Eceran, itu juga menurun. Ini akan mengakibatkan dari posisi perdagangan tertekan, konsumsi rumah tangga tertekan, untuk Ramadhan dan Lebaran itu tidak menjadi penopang yang signifikan, yang pada akhirnya rumah tangga kita konsumsinya akan melemah, pertumbuhan ekonomi kita juga tidak akan mencapai target yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Indonesia sudah memasuki masa gelap.
Bagaimana prediksi ke depan dengan kebijakan Trump yang masih baru ini? Berapa lama Indonesia bisa bertahan dari dampak kebijakan tersebut?
Ya, kalau bertahan, saya yakin dari sisi domestik kita masih kuat. Bukan masih kuat, akan cenderung kuat, jika dibandingkan dengan ke kondisi eksternal. Dan kita 50 persen lebih dari sisi domestik. Nah, yang kita khawatirkan adalah daya beli yang melemah. Dan kita kan, masyarakat kita ini kan, walaupun masih ada yang menahan konsumsinya, juga ada yang juga mengonsumsi barang. Masih ada pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk kan otomatis juga akan meningkatkan konsumsi.
Kan tidak mungkin kan yang bayi baru lahir, kamu enggak bisa konsumsi ya? Nggak mungkin juga, mereka harus konsumsi dan sebagainya. Nah, ini yang saya lihat, konsumsi domestik akan tetap diandalkan. Terus kemudian dari sisi luar negeri, kita akan tertekan. Ya, kalau kita lihat dari sisi pertumbuhan ekonomi, itu akan mencapai maksimal di angka 4,5 persen. Kita prediksi di angka 4,3 persen. Maksimal di 4,5 persen dari adanya tarif resiprokal. Artinya adalah, ini tidak akan terjadi di triwulan I. T
api kemungkinan besar akan terjadi selama 1 tahun. Ini tahun 2025, pertumbuhan ekonomi tahunannya, ini akan di bawah lima persen. Dan ini yang kita lihat sampai kapan gitu kan. Nah, kita lihat sampai Indonesia entah itu bisa bernegosiasi atau membuka pasar baru. Ke pasar baru itu yang juga syaratnya tidak mudah gitu kan. Harus lihat permintaannya seperti apa, harganya yang ditawarkan seperti apa. Ini yang membuat tidak semudah itulah untuk membuka pasar baru. Kita mungkin bisa mengekspor ke Afrika gitu kan. Tapi harganya gimana? Karakteristik apa barangnya? Ini yang harus disesuaikan dan tidak mudah untuk membuka lapangan, maaf, membuka ekspor baru kita atau melakukan diversifikasi. Itu tidak mudah. Tapi yang jelas ini akan tergantung dari itu.
Apa pesan untuk masyarakat agar lebih siap menghadapi kondisi sekarang?
Yang pertama adalah bijak untuk konsumsi. Kita melihat ya masyarakat kalau dia bisa konsumsi lebih, kita harapkan dia bisa konsumsi lebih. Karena apa? Karena dengan konsumsi ini akan menggerakkan roda perekonomian. Kita tidak bisa menahan nabung lah gitu. Kalau nabung itu grounding out. Artinya ketika banyak orang menabung uang yang di perekonomian nanti akan semakin sepi. Orang-orang yang dia ingin mengkonsumsi dan bisa berkonsumsi lebih, konsumsilah. Dan konsumsilah dengan barang-barang yang memang dia produk lokal. Minimal dia dibuat di dalam negeri lah. Dan ini akan berdampak kepada siapa? Kepada multiplier-nya kepada usaha lokal kita. Usaha lokal kita naik terus kemudian pabrik kita berjalan. Artinya ini akan terhadap perekonomian akan lebih cepat. Ini yang kita harapkan dari masyarakat kelas menengah terutama.
Kelas menengah ini harus juga diberikan stimulus oleh pemerintah. Stimulusnya dalam berupa apa? Mungkin untuk yang pajak itu bisa dikurangi. Untuk yang PTKP atau pendapatan tidak kena pajak itu bisa dinaikkan. Sehingga mereka yang penghasilannya Rp70 juta, Rp80 juta itu dia bisa mengonsumsi lebih banyak. Karena ketika dipotong pajak otomatis pendapatan yang bisa dibelanjakan lebih sedikit kan. Nah kita hitung disposable income. Disposable income itu adalah pendapatan yang bisa dibelanjakan. Itu dari tahun ke tahun menurun di Indonesia. Sekarang ada di angka 75 persen. Artinya dari Rp100 juta misalkan itu yang bisa dibelanjakan cuma Rp75 juta. Yang lainnya itu masuk ke pajak, ke iuran dan sebagainya. Yang itu tidak bisa digunakan untuk belanja maupun cicilan. Nah itu 75 persen. Kita turun terus nih. Padahal di tahun 2016 itu sekitar 80 persen. Ini turun terus.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id

































