Menuju konten utama

BPS Catat Inflasi Mei 2026 Capai 0,28 Persen secara Bulanan

Inflasi bulanan pada Mei 2026 didorong kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan kontribusi sebesar 0,12 persen

BPS Catat Inflasi Mei 2026 Capai 0,28 Persen secara Bulanan
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers, Selasa (17/9/2024). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Laju inflasi secara bulanan (month to month/mtm) pada Mei 2026 mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi Mei 2026 mencapai 0,28 persen (mtm) atau naik dari posisi April 2026 yang sebesar 0,13 persen.

Ini lantaran kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.

"Makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok pengeluaran dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi Mei 2026, yaitu sebesar 0,39 persen dan andil 0,12 persen," kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).

Lebih lanjut, ia memperinci bahwa komoditas utama penyumbang inflasi dari kelompok tersebut adalah cabai merah dengan andil 0,08 persen, diikuti minyak goreng dan bawang merah masing-masing 0,04 persen, tomat 0,03 persen, serta beras dengan andil 0,02 persen.

"Pada Mei 2026 terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026," ujar Pudji.

Di luar kelompok pangan, komoditas lain yang turut mendorong inflasi antara lain bahan bakar rumah tangga (0,03 persen), serta bensin dan tarif angkutan udara (0,02 persen).

Sebaliknya, sejumlah komoditas justru mencatatkan andil deflasi, di antaranya daging ayam ras (0,06 persen), bawang putih (0,01 persen), dan telur ayam ras (0,05 persen).

Sementara itu, secara kumulatif, inflasi tahun kalender (y-to-d) hingga Mei 2026 tercatat sebesar 1,35 persen, sedangkan inflasi tahunan mencapai 3,08 persen (y-on-y).

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil inflasi 1,43 persen dengan tingkat inflasi 4,94 persen. Diikuti oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memberikan andil inflasi 0,70 persen dengan tingkat inflasi mencapai 10,35 persen.

Inflasi tahunan kelompok makanan, minuman, dan tembakau utamanya didorong oleh ikan segar, beras, daging ayam ras, minyak goreng, cabai rawit, Sigaret Kreket Mesin (SKM), dan cabai merah. Sedangkan inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya utamanya didorong oleh komoditas emas perhiasan.

Berdasarkan komponen, secara tahunan seluruh komponen mengalami inflasi. Komponen inti memberikan andil inflasi sebesar 1,66 persen dengan tingkat inflasi 2,59 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi diantaranya emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi, sewa rumah, serta mobil.

Sementara itu, komponen bergejolak memberikan andil inflasi sebesar 1,02 persen dengan tingkat inflasi 6,24 persen. Inflasi terutama didorong oleh beberapa komoditas seperti beras, daging ayam ras, cabai rawit, cabai merah, bawang merah, dan daging sapi.

Komponen harga diatur pemerintah mencatat andil inflasi terendah sebesar 0,40 persen dengan tingkat inflasi 2,07 persen. Inflasi Mei 2026 dari kelompok ini didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara, Sigaret Kretek Mesin (SKM), bahan bakar rumah tangga, Sigaret Kretek Tangan (SKT), dan Sigaret Putih Mesin (SPM).

Menurut wilayah, seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 5,94 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Lampung sebesar 1,94 persen. BPS juga mencatat 17 provinsi mengalami inflasi tahunan diatas tingkat inflasi nasional yang sebesar 3,08 persen.

Baca juga artikel terkait BADAN PUSAT STATISTIK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana