Menuju konten utama

Bias Metodologis di Balik Survei Kepuasan Pemerintahan

Bedah bias metodologis survei kepuasan pemerintahan Prabowo-Gibran 72,2%. Mengapa angka ini kontras dengan realitas anjloknya rupiah & PHK massal?

Bias Metodologis di Balik Survei Kepuasan Pemerintahan
Header Perspektif Bias Metodologis di Balik Surveri Kepuasan Publik. tirto.id/Parkodi

tirto.id - Pada 4 Juni 2026, rupiah menyentuh Rp18.039 per dolar AS, level depresiasi terdalam tahun ini. Di hari yang sama, Poltracking Indonesia merilis survei nasional kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran yang mencapai 72,2 persen. Dua berita itu tayang berdampingan di portal-portal berita tanpa ada yang menganggap kebetulan timing itu sebagai masalah yang perlu dijelaskan.

Seminggu sebelumnya, mantan Wamenlu Dino Patti Djalal mengunggah video tujuh menit yang disukai 230.000 pengguna Instagram dalam dua hari. Dino mempertanyakan bagaimana Presiden menghabiskan satu dari setiap enam hari masa jabatannya di luar negeri, empat kali ke Prancis dalam sepuluh bulan, sementara di dalam negeri PHK massal berlangsung, IHSG tertekan akibat outlook negatif Moody's terhadap perekonomian negara, dan harga gandum dunia tembus 303 dolar per ton yang langsung menular ke harga roti, tepung, dan mie di pasar tradisional.

Ambivalensi yang Dihitung sebagai Dukungan

Darrell Huff dalam How to Lie with Statistics menyebut teknik ini shifting definitions dengan menggabungkan dua kategori yang secara kualitatif berbeda seolah keduanya sepadan. Angka 72,2 persen Poltracking adalah jumlahan dari 6,2 persen "sangat puas" dan 66,0 persen "cukup puas." Dua angka itu lalu dijumlahkan dan diumumkan sebagai satu benda yang sama.

Survei Evaluasi Kinerja Pemerintah Prabowo-Gibran

Survei Evaluasi Kinerja Pemerintah Prabowo-Gibran

Tapi "cukup puas" bukan pujian. Dalam konteks 37,5 persen responden Poltracking sendiri menyebut harga kebutuhan pokok mahal sebagai masalah paling pokok dan 67,1 persen mengaku terdampak langsung kenaikan BBM non-subsidi, "cukup puas" lebih dekat pada toleransi minimal terhadap keadaan, atau sekadar absennya narasi alternatif di benak responden saat pewawancara datang ke depan pintu.

Selain itu, ada juga masalah teknis yang Poltracking akui dalam catatan kecil namun tidak pernah masuk ke headline. Ketika data dicetak ulang dalam tabulasi silang berdasarkan wilayah, profesi, atau pilihan partai, margin of error membengkak di atas 5,8 persen.

Survei Evaluasi Kinerja Pemerintah Prabowo-Gibran

Survei Evaluasi Kinerja Pemerintah Prabowo-Gibran

Catatan kaki ini dapat dilihat langsung dalam dokumen Temuan Survei Nasional Poltracking pada Halaman 21 (crosstab wilayah), halaman 22 (gender, agama, pendidikan), halaman 23 (suku), halaman 24 (pekerjaan), halaman 25 (penghasilan), halaman 26 (kelompok usia), halaman 27 (organisasi Islam), halaman 28 (partai politik), dan halaman 29 (pilihan Pilpres 2024). Sehingga klaim bahwa kepuasan merata di semua segmen demografi menjadi tidak dapat dipertahankan secara statistik.

Pewawancara Sebagai Representasi Negara

James Scott dalam Domination and the Arts of Resistance membedakan public transcript, apa yang diucapkan orang di hadapan kekuasaan, dengan hidden transcript, apa yang sesungguhnya mereka rasakan di ruang yang lebih aman. Survei tatap muka oleh mahasiswa terlatih yang mendatangi rumah-rumah warga berpenghasilan rendah tidak mengukur opini, ia mengukur public transcript.

Ini yang dalam metodologi survei disebut social desirability bias atau kecenderungan responden menjawab sesuai norma yang mereka anggap aman, bukan sesuai pengalaman riil.

Di Indonesia, di mana ketergantungan rumah tangga pada bansos, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan program taktis negara sangat tinggi, bias ini punya dimensi material yang konkret. Menyuarakan ketidakpuasan kepada figur formal bisa terasa seperti risiko eksklusi dari jaringan bantuan yang sudah susah payah diperoleh.

Hidden transcript-nya sudah terbaca di dalam dokumen Poltracking itu sendiri, hanya saja di halaman yang berbeda. Kepuasan bidang ekonomi hanya 59,2 persen, terendah di antara semua sektor. Ketidakpuasan terhadap MBG mencapai 41,2 persen di antara yang mengetahui program ini. Kemudian yang paling telak adalah 46,3 persen menyatakan pelaksanaan MBG belum tepat sasaran, nyaris seimbang dengan 45,3 persen yang menyatakan sudah.

Survei Evaluasi Program Prioritas Pemerintahan Prabowo-Gibran

Survei Evaluasi Program Prioritas Pemerintahan Prabowo-Gibran

Tidak satupun dari angka ini masuk ke kesimpulan survei. Semuanya hidup di halaman tengah dokumen, menunggu pembaca yang rajin.

Statistik yang Bekerja sebagai Pelindung Hegemoni

Gramsci mengidentifikasi bahwa kelas yang berkuasa mempertahankan dominasinya bukan hanya melalui aparatus kekerasan, tapi melalui aparatus ideologis yang memproduksi consent, persetujuan yang terasa sukarela karena berhasil tampil sebagai akal sehat. Dalam arsitektur komunikasi kekuasaan modern, lembaga survei menjalankan fungsi intelektual organik dengan menerjemahkan kepentingan blok kekuasaan ke dalam bahasa ilmiah yang terlegitimasi secara teknis dan seolah bebas nilai.

Angka 72,2 persen menjalankan dua fungsi hegemoni sekaligus. Pertama, menciptakan ilusi mayoritas bahwa sebagian besar warga Indonesia sepakat dengan arah pemerintah, sehingga 25,1 persen yang tidak puas secara otomatis terpinggirkan sebagai anomali pinggiran yang tidak representatif.

Kedua, memutus kaitan antara kebijakan dan konsekuensinya ketika rupiah di Rp18.039 dan kepuasan di 72,2 persen hadir di ruang publik sebagai dua data yang tidak berhubungan, bukan sebagai kontradiksi yang menuntut pertanggungjawaban.

Maka ketika video Dino Patti Djalal viral dan hidden transcript hampir meledak ke permukaan, momen yang tepat untuk merilis public transcript baru adalah tepat di hari yang sama ketika rupiah berada di titik terendahnya.

Bukan kebetulan, melainkan logika komunikasi kekuasaan yang bekerja dengan presisi. Poltracking tidak berbohong. Ia hanya memilih dengan sangat cermat angka mana yang disuarakan dan angka mana yang dibiarkan tidur di halaman 39.

Baca juga artikel terkait PRABOWO SUBIANTO atau tulisan lainnya dari Rolip Saptamaji

tirto.id - Perspektif
Penulis: Rolip Saptamaji